|
Kenali Anak Cerdas dan Berbakat Istimewa |
|
Sunday, 22 August 2010 |
|
 KOMPAS/AGUS SUSANTO Anak-anak bermain sepak bola di lahan kosong di Kelurahan Menteng Dalam, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu. Minimnya ruang terbuka hijau dan ruang publik di DKI Jakarta membuat lahan kosong menjadi incaran anak-anak untuk bermain. KOMPAS.com - Jika anak Anda kelewat nakal dan tidak bisa diam, jangan berpikiran buruk dulu tentangnya. Bisa jadi anak Anda adalah satu dari sekitar 1,3 juta anak berbakat istimewa dan cerdas istimewa (gifted talented) atau juga disebut anak-anak CI+BI di Indonesia.
Menurut Amril Muhammad, seorang pengajar di Cugenang Gifted School, salah satu sekolah yang khusus dirancang untuk anak-anak berbakat tersebut, seorang anak gifted memiliki kecenderungan lebih nakal dari anak sebayanya. Mereka memiliki rasa penasaran yang lebih dan cenderung senang bergaul dengan orang dewasa.
"Itu salah satu ciri-ciri luar yang dapat diperhatikan," kata Amril usai menghadiri Malam Peduli Anak Duafa Berbakat, di Jakarta, Senin (16/8/2010) malam.
Selain ciri-ciri luar tersebut, kata Amril, seorang anak gifted dapat dikenali dari kecerdasan intelektualnya yang very superior dengan skor IQ di atas 130. "Pada lembar identifikasi dini, mereka memiliki kecepatan menyerap lebih dari teman sebayanya, seperti lebih cepat membaca," katanya.
Skor yang tinggi juga terlihat pada tes kreativitas dan komitmen kerja. Seorang anak gifted, kata Amril, memiliki ketertarikan kerja atau komitmen kerja yang luar biasa terhadap pekerjaan yang dia senangi.
"Misalnya saja dia senang main play station. Maka dia akan main terus, tidak berhenti," katanya. Dan jika kesenangannya tersebut diusik, maka anak gifted akan mengerahkan kreatifitasnya yang luar biasa. "Kalau dihalangi orangtua misalnya, kabel play station-nya dicabut, maka dia akan penasaran, dia utak-utik, sampai akhirnya bisa disambung lagi kabel itu," ujar Amril.
Sedangkan secara fisik, seorang anak gifted, menurut Amril, dapat dikenali dari tinggi badannya saat lahir. Tinggi badan anak gifted sejak lahir berkisar 53-54 sentimeter. "Space otak anak gifted lebih besar dari anak lain," tambahnya.
Meskipun memiliki perkembangan motorik kasar yang melebihi batas normal, anak gifted tertinggal dalam perkembangan motorik halus. Mereka, kata Amril, umumnya kesulitan menulis saat masuk sekolah dasar.
"Anak gifted sangat perfeksionis sehingga perkembangan kognitif yang luar biasa sulit disalurkan dalam tulisan," ucap Amril.
Kecenderungkan teguh pendirian, tidak takut mengerjakan apa yang dia yakini menjadi potensi sukses seorang anak gifted. Mereka memiliki kelebihan empat kali dari anak lainnya.
Namun, jika tidak dikenali, dibimbing, dan difasilitasi dengan pendidikan yang tepat, maka kelebihan anak gifted tersebut dapat menjadi negatif. "Salah satunya ya itu teroris Imam Samudra, saya pernah bicara dengan dia, dan memang dia termasuk gifted. Dan yang positif, Ibu Sri Mulyani," imbuh Amril. Penulis: Icha Rastika | Editor: Tri Wahono |
|
Last Updated ( Sunday, 22 August 2010 )
|
|
|
SIKAP PRILAKU MANIPULATIF PADA ANAK |
|
Sunday, 15 August 2010 |
|
Apakah Anda sudah pernah bertemu anak usia pra-sekolah antara 4-7 tahun yang wajahnya sangat tidak berdosa, manis, sopan seperti malaikat kecil, namun sebenarnya sangat manipulatif, mengecoh banyak orang dengan berbohong dan menceritakan hal-hal yang tidak benar untuk mendapatkan apa yang dia inginkan???. Anak seperti ini ada di Taman Kanak-Kanak kami, dia anak perempuan yang manis, centil, pintar nyanyi dengan rambut diwarnai pirang seperti boneka Barbie, selalu bersikap sopan dan sampai ada kejadian-kejadian yang memperlihatkan wajah sebenarnya, pada saat pesta Ulang Tahun dan kemudian di depan Toko Roti dia tidak bisa mengendalikan emosinya dan tidak bisa mendapatkan yang dia kehendaki,karena harus mentaati kesepakatan bersama, maka dia akan berteriak, menjerit, berguling-guling, seolah-olah diperlakukan kasar oleh orang dewasa dalam hal ini Gurunya atau Baby Sitternya yang saat itu menemaninya, satu sikap prilaku negatif yang tidak pernah kita ketahui sebelumnya, sehingga kami semua di Taman Kanak-Kanak menjadi sangat terkejut dan terpukul. Ketika pulang ke rumah, anak ini menceritakan hal-hal yang terjadi di Sekolah menurut versi dan fantasinya, sehingga orangtua langsung memarahi Guru/Baby Sitter tsb tanpa menanyakan pihak sekolah terlebih dahulu. Sebenarnya, tanda-tandanya sudah ada, bahwa anak ini manipulatif, karena dia sudah sering mempengaruhi Gurunya,Guru lain dan saya untuk selalu membela dia, karena dia menceritakan kebohongan-kebohongan sampai ada satu kejadian yang membuktikan dia berbohong dan anak lain yang berkata benar dan dia harus minta maaf.Sejak saat itu, kami Guru2 sekarang lebih waspada dan tidak mudah terkecoh oleh trik-trik atau strategi yang dilakukannya untuk mendapatkan yang dia mau.Hal ini menyebabkan anak itu makin tidak terkendali dan memukuli teman-temannya di kelas. Oleh karena itu kedua orangtua anak itu dipanggil untuk datang ke Sekolah dan berkonsultasi dengan saya. Karena saya sebenarnya Pendidik, bukan Psikolog dan anak sudah tidak terkendali, maka saya menganjurkan orangtua ini untuk membawa anaknya ke Psikolog.Bukan hanya pola asuh yang salah atau belum cerdas emosi, namun saya menangkap adanya masalah psikologis yang lebih mendalam. Keluarga ini masih tinggal di rumah mertua dan adik2 ipar. Kakek sangat dominan dan menentukan segalanya dan anak ini cucu kesayangannya, sehingga dia lebih mendengarkan kakeknya daripada orangtuanya sendiri.Ditambah lagi dua tahun lalu adiknya lahir dan anak ini tidak lagi jadi pusat perhatian.Menurut pengakuan orangtuannya, waktu adiknya masih bayi, dia pernah melukai adiknya tsb, karena cemburu...Situasi yang sangat pelik memang. Kasus kedua terjadi pada anak laki2 berumur 4 tahun, juga sudah menunjukkan sifat2 manipulatif.Ibunya juga membenarkan dan menceritakan bahwa anaknya seringkali berbohong dan menceritakan hal2 yang tidak benar, misalnya dipukuli, sehingga suaminya sering memarahinya, karena melakukan tindak kekerasan yang tidak pernah dilakukannya. Anak ini juga sangat manis di sekolah, imut2 dan sopan.Kebalikannya di rumah , dia melawan ibunya.
Kasus2 tsb memotivasi saya untuk mencari tahu dan mengenali karakter anak yang manipulatif.Dengan membaca berbagai tulisan dan pengalaman selama ini, saya bisa menyimpulkan bahwa anak yang manipulatif tidak mudah untuk diidentifikasi dan susah untuk diperbaiki sikap prilakunya, bila orangtua keduanya bekerja dan terlalu sibuk serta menyerahkan pengasuhan sepenuhnya pada Kakek-Nenek atau Baby Sitter..Kenapa begitu?? Marilah kita simak tulisan saya dibawah ini. Pada anak yang manipulatif bila dia menginginkan sesuatu, strategi atau trik yang dipakai tidak terlihat jelas atau tersembunyi dengan memberikan pelukan-pelukan hangat, ciuman-ciuman, tangisan yang membangkitkan iba dan janji-janji yang seperti benar2 keluar dari lubuk hatinya, sehingga orang dewasa dalam hal ini Orangtua/Guru maupun Baby Sitternya sering terkecoh dan tidak tega, dan akhirnya memberikan apa yang dikehendaki anak dan melanggar aturan yang dibuatnya sendiri. -Bagaimana Orangtua bisa tahu bahwa Anaknya Manipulatif??? Tidak saja orang dewasa di sekitar anak ini terpengaruh, tapi Anda sendiri sebagai Orangtua/ Guru sering menjadi tidak konsisten terhadap kesepakatan yang disetujui bersama sebelumnya dan sering mengijinkan anak untuk melakukan yang dikehendakinya. Bahwa anak Anda bukan malaikat kecil dengan senyuman nya yang manis dan pelukan yang hangat, tetapi seorang anak yang “menyebalkan” dan mengganggu orang sekitarnya, ketika anak Anda mulai berteriak dan menjerit atau malah berguling-gulingan di depan sebuah toko mainan misalnya dan ditonton banyak orang, contoh lain juga dilakukan di Sekolah berdasarkan laporan dari Guru, bila dia menginginkan sesuatu. Pada kejadian lain , anak ini bisa berpura-pura sakit untuk mendapatkan perhatian ayah atau ibunya dan dibebaskan dari tugas membereskan kamar dan mainannya sendiri atau berbohong menceritakan hal-hal yang tidak benar untuk melempar tanggung jawab kepada orang lain, sering tidak mau mengakui kesalahan dan berprilaku sejenis untuk mendapatkan yang dia mau atau untuk menghindari tugas yang harus dia selesaikan, namun tidak dia sukai.. - Berikut ini adalah hal-hal yang harus kita INGAT: • Anak pada dasarnya terlahir TIDAK dengan prilaku manipulatif. • Mereka belajar trik-trik manipulatif TANPA SENGAJA, “TRIAL and ERROR” dan melalui OBSERVASI di lingkungan sekitarnya tempat mereka berinteraksi. • Anak akan selalu ingat, ketika dia menangis , seseorang pasti akan datang mendekati dan melayaninya. • Bila dia berpura-pura sakit, dia terbebas dari tugas membereskan kamar dan mainannya sendiri atau tugas lainnya. • Selanjutnya dengan BERBOHONG, dia tidak akan ditegur atau dimarahi dan mendapatkan simpati. Ketika perbuatan-perbuatan ini dilakukan berulang-ulang dan berhasil, maka kelakuan seperti ini akan menjadi satu kebiasaan. - Apa yng harus dilakukan Orangtua/Guru?? • Observasi anak dan perhatikan apakah pola prilaku seperti ini ada pada anak Anda? • Kenali KAPAN saja anak mencoba dengan prilaku manipulatif ini dan STRATEGI/TRIK apa yang digunakannya dalam kejadian tsb? • Bila sudah menemukan polanya, baru cari tahu KENAPA anak melakukan hal seperti itu. • Apakah dia melakukan itu untuk menghindari teguran/hukuman? • Apakah dia mengerjakan hal tsb untuk mendapatkan sesuatu yang dia mau? • Apakah dia melakukan hal ini terhadap orang-orang tertentu saja? • Apakah kelakuan ini hanya untuk menghindari tanggung jawab yang diberikan padanya? • Dalam hal ini JANGAN hanya fokus pada anak saja. Lihat juga lingkungan sekitar dan diri Anda sendiri dan pasangan Anda ataukah pengasuhnya yang memberi peluang kepada anak untuk bersikap manipulatif? • Apakah Anda juga selama ini tanpa sengaja memberikan contoh sikap prilaku manipulatif kepada anak Anda, karena Anda harus INGAT, bahwa anak belajar sangat cepat dari contoh2 sikap prilaku di rumah dan lingkungan sekitar. Tanpa sadar sebenarnya Anak mencontoh sikap prilaku orang dewasa di rumah dan di sekitarnya, dalam hal ini orangtuanya dan orang terdekatnya. - OBSERVASI secara objektif dan GALI INFORMASI sebanyak mungkin. Carilah informasi tentang KAPAN, KENAPA dan BAGAIMANA anak Anda menunjukkan sikap prilaku seperti itu. Bila Anda mempersiapkan diri dengan baik , Anda menolong anak Anda untuk menghilangkan kebiasaan yang jelek tsb. Pada satu situasi yang Anda tidak mengerti MENGAPA anak bersikap seperti itu, maka komunikasi dua arah harus dilakukan. Anda harus berdialog dengan anak untuk mencari tahu akar permasalahannya.Tangani dengan serius dan kerjasama yang baik antara orangtua dan Sekolah harus terjalin, agar prilaku seperti ini bisa terkoreksi.. - Ketika Anda mulai menguasai situasi, cobalah untuk selalu konsisten terhadap aturan yang Anda buat sendiri dan buatlah anak agar mengerti mengapa dia tidak selalu mendapatkan yang dia mau.JANGAN MEMBUAT KOMPROMI2 dengan mengijinkan anak mendapatkan keinginannya itu dengan berkata: Ok lah, kali ini saja”. Bila Anda melakukan ini, maka usaha Anda sebelumnya menjadi sia2 dan Anda harus memulai dari awal lagi. - Mintalah DUKUNGAN ORANG-ORANG DEWASA di sekitarnya dengan bersikap sama, jangan sebaliknya.Anda harus memberitahukan Gurunya, pengasuhnya, supir antar jemputnya, nenek-kakek kedua belah pihak , saudara maupun teman-teman Anda yang berkunjung untuk melakukan hal yang sama. Terangkan dengan jujur, bahwa anak Anda sangat manipulatif, padahal sebenarnya dia bukan seorang malaikat kecil yang manis, malah sering “menyebalkan”, “memalukan” dengan menangis atau berteriak-teriak di depan umum, bila kemauannya tidak dituruti. - Bila Anda sedang mengajarkan anak untuk tidak bersikap manipulatif, selalu terangkan kepada anak KENAPA Anda melakukan hal tsb dan MENGAPA yang dilakukan anak salah serta merugikan orang lain, sehingga permintaannya tidak dikabulkan. Buat anak mengerti mengapa keputusan itu harus diambil. Libatkan orang dewasa di sekitarnya , tanpa terkecuali. - Bila anak berusaha selalu menghindar dari rasa tanggung jawab, buatkan daftar tugas anak dan anggauta keluarga yang lain. Kemudian cek bersama mana tugas yang sudah dkerjakan dengan baik dan mana yang belum. - Daftar ini kemudian digantung di tempat yang mudah terlihat seperti di tempel di pintu Kulkas atau di samping meja belajar. Yakinkan anak untuk melaksanakan tugas harian tsb dengan baik. Bila anak atau anggauta keluarga lain tidak menjalankan tugas dengan baik, maka ada sanksinya..Bagi anak hukumannya misalnya tidak boleh menonton program anak yang paling disukai di TV untuk beberapa hari (Jangan hukuman fisik!!!). - Memperbaiki sikap manipulatif anak memang tidaklah mudah dan tidak bisa INSTAN, memerlukan waktu. Anak Anda akan mengembangkan sikap prilaku positif dan bisa melupakan sikap manipulatifnya dalam jangka waktu lama. Dengan KESABARAN dan PENGERTIAN dari banyak pihak, Anda akan melihat hasilnya dan menjadi senang melihat anak TIDAK EGOIS lagi, TIDAK MEMAKSAKAN KEHENDAK,TIDAK TAKUT AKAN TANGGUNG-JAWAB, BERDISIPLIN TINGGI, BEREMPATI dan mempunyai RASA PERCAYA DIRI cukup tinggi. Dia tidak akan pernah berbohong atau berteriak-teriak/menjerit untuk mencapai keinginannya, sehingga dia bisa diterima dengan baik oleh lingkungan sekitarnya dan tidak dikucilkan dari pergaulan. |
|
Last Updated ( Sunday, 15 August 2010 )
|
|
|
Pentingnya Belajar Tanggung Jawab Sejak Dini |
|
Friday, 23 July 2010 |
|
Diskusikan dengan anak tentang segala informasi yang masuk termasuk lewat internet. KOMPAS.com - Perbincangan mengenai pornografi tak ada habisnya. Mulai obrolan warung kopi hingga telaah para pakar dari berbagai bidang. Apalagi sejak kasus video asusila yang melibatkan sejumlah nama selebriti yang menjadi idola anak muda merebak ke khalayak. Dampaknya anak-anak pun mulai kritis dan berani bertanya. Seputar relasi berpasangan hingga bertanya bagian tubuhnya. Membentengi anak dan keluarga dengan cara yang tepat menjadi tantangan orangtua dan masyarakat di era multimedia seperti ini.
Khofifah Indar Parawansa, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) menegaskan, peran keluarga menjadi ujung tombaknya. Melihat dunia cyber semakin sulit dipagari, orangtua sudah harus lebih bijak menjawab semua pertanyaan anak seputar tubuh dan relasi berpasangan.
"Anak akan mencari tahu dari teman jika tidak mendapatkan jawaban yang baik dari orangtuanya. Anak sejak sedini mungkin harus diajarkan tanggungjawab dan implikasi dari tindakannya," tegas Khofifah kepada Kompas Female, usai penandatanganan kerjasama strategis organisasi perempuan Muslimat NU dengan Avrist Assurance, di Jakarta, Rabu (30/6/2010).
Menurut Khofifah, peran orangtua yang mendasar terbagi dua:
1. Mengajari anak tanggungjawab Memberikan pemahaman mengenai adanya implikasi dari apapun tindakan anak, dan mengajarkan anak mengenai tanggungjawab. Hanya saja caranya memang menyesuaikan usia dengan bahasa yang bisa dimengerti anak. Dengan begitu anak memahami kehormatan diri, keluarga, dan juga bangsanya. Anak akan menjaga dirinya dengan lebih bersikap bertanggungjawab atas setiap tindakannya. Cara ini perlu diterapkan sejak kecil.
2. Memastikan anak paham implikasi Membuka wawasan anak, terutama ketika sudah muncul keingintahuan dari mereka, bahwa ada banyak hal yang bisa menjebloskannya dalam masalah besar. Contohnya pergaulan yang cenderung negatif, narkoba, hingga seks bebas. Dengan komunikasi dan pemahaman yang komprehensif, anak terbantu memahami implikasi dari setiap perbuatannya. Tak sekadar tahu namun menyadari bahwa ada risiko yang ditimbulkan dari perilakunya.
Selain peran orangtua dan keluarga, Khofifah menegaskan pentingnya peranan pemerintah untuk segera bertindak bersama aparat kepolisian. Operasi warnet untuk menghentikan pornografi melalui multimedia, katanya.
"Bahkan anak-anak ditawarkan menonton pornografi dengan membayar Rp 1.000, dan ini terjadi di Jawa Timur. Pornografi juga selalu muncul di sekolah melalui multimedia. Meski sudah dibersihkan (proteksi internet, RED) masih saja muncul setiap pagi, siang, sore," imbuh Khofifah, prihatin. Ia meminta pemerintah menggunakan wewenangnya untuk monitoring dan memberantas sajian negatif di multimedia. Ia memberi contoh di Singapura, di mana menteri pendidikan turun tangan mengatasi dan memberantas pornografi melalui multimedia. Begitupun di Malaysia, wewenang pemerintah luar biasa bisa menghentikan pornografi melalui multimedia, terutama di sekolah. Lantas bagaimana cara Indonesia memproteksi anak belia dari dampak negatif pornografi dan multimedia? C1-10Editor: din |
|
| | << Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>
| | Results 1 - 4 of 53 | |