|
Wednesday, 07 December 2011 |
|
Oleh Dedeh Kurniasih | Jumat, 12 Desember 2008 | 16:24 WIB Anda sadari atau tidak, ketika belajar, masing-masing anak punya gaya yang belum tentu sama. Oleh karena itu, jangan buru-buru menudingnya malas belajar bila nilainya di sekolah menurun. Mungkin penyebabnya karena dia "dipaksa" belajar dengan cara yang bukan gayanya. Coba simak gaya belajar mereka di bawah ini, dan lihat bagaimana hasil belajar mereka dengan gaya tersebut. 1. GAYA BELAJAR AUDITORI (pendengaran) Kaitannya dengan proses belajar menghafal, matematika dalam hal mengerjakan soal cerita, membaca, dan mengerti isi bacaan. Ciri pada anak: - Mudah ingat dari apa yang didengarnya, mudah mengingat apa yang didiskusikan. - Tak bisa belajar dalam suasana berisik atau ribut. - Senang dibacakan atau mendengarkan. - Lebih suka menuliskan kembali sesuatu, senang membaca dengan suara keras, dan pandai bercerita. - Bisa mengulangi apa yang didengarnya, baik nada, irama, dan lainnya. - Lebih suka humor lisan ketimbang baca buku. - Senang diskusi, bicara atau menjelaskan panjang lebar. - Menyenangi seni musik.
Kendala pada anak: Sering lupa apa yang dijelaskan guru, sering lupa membuat tugas yang diinstruksikan guru secara lisan, kerap keliru mengerjakan seperti yang diperintahkan guru, dan kesulitan mengekspresikan apa yang dipikirkan. 2. GAYA BELAJAR VISUAL (penglihatan) Berkaitan dengan proses belajar, seperti matematika (geometri), serta bahasa Mandarin dan Arab atau yang berkaitan erat dengan simbol dan letak-letak simbol. Perbedaan letak simbol bisa berpengaruh karena terjadi perbedaan bunyi. Ciri pada anak: - Lebih mudah ingat dengan cara melihat. - Tidak terganggu oleh suara ribut saat belajar. - Lebih suka membaca. - Lebih suka mendemonstrasikan sesuatu daripada menjelaskan. - Tahu apa yang harus dikatakan tapi tak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata. - Tertarik pada seni seperti lukis, pahat, gambar daripada seni musik. - Sering lupa jika harus menyampaikan pesan secara verbal kepada orang lain.
Kendala pada anak: Utamanya dalam visual motor, seperti terlambat menyalin pelajaran di papan tulis, dan tulisan tangannya berantakan sehingga tak terbaca. 3. GAYA BELAJAR KINESTETIK (gerak) Kaitannya dengan proses belajar yang membutuhkan banyak gerak, semisal pelajaran olahraga dan percobaan-percobaan sains. Ciri pada anak: - Lebih banyak menggunakan bahasa tubuh. - Menyukai kegiatan atau permainan yang menyibukkan secara fisik. - Ketika membaca, menunjuk kata-katanya dengan jari tangan. - Kalau menghafal sesuatu dengan cara berjalan atau melihat langsung. - Belajar melalui praktik langsung atau dengan manipulasi (trik, peraga). - Banyak gerak fisik dan punya perkembangan otot yang baik. - Menanggapi perhatian fisik.
Kendala pada anak: Anak cenderung tidak bisa diam. Anak dengan gaya belajar seperti ini tidak bsia belajar di sekolah-sekolah yang bergaya konvensional di mana guru menjelaskan dan anak duduk diam. Anak akan lebih cocok dan berkembang bila di sekolah dengan sistem active learning, di mana anak banyak terlibat dalam proses belajar.
Nah, yang mana gaya belajar anak Anda? (KB dan TK Pestalozzi Bilingual - Cibubur,Jakarta Timur)
Sumber : |
|
Last Updated ( Wednesday, 07 December 2011 )
|
|
|
Kecerdasan Anak Bukan Yang Utama |
|
Monday, 07 November 2011 |
Christina Andhika Setyanti | Dini | Senin, 7 November 2011 | 13:05 WIB Seringkali orangtua menambah jam belajar dengan berlebihan anak agar anak menjadi anak yang sukses. Padahal ini hanya membuat anak cenderung stres.
KOMPAS.com - Anak hebat sering diasumsikan oleh para orangtua sebagai anak yang pintar dan memiliki nilai akademis yang tinggi. Tak heran jika orangtua lantas menjejali anak-anaknya dengan berbagai pelajaran tambahan dengan harapan mereka bisa menjadi anak pandai dan mendapat ranking di kelas."Untuk anak yang sudah masuk sekolah, orangtua memiliki persepsi bahwa anak mereka itu hebat kalau sudah mendapatkan ranking. Untuk mencapai hal ini, anak yang sudah sekolah dari pagi sampai sore masih harus mengikuti berbagai kelas tambahan, dan ini justru membuat orangtua dan anak sama-sama stres. Padahal ini semua tergantung dari support orangtua pada anak," ungkap konsultan anak Hanny Muchtar Darta, saat acara Scott's Multivitamin "Incredible You" di Cilandak Town Square, Jakarta Selatan, Sabtu (5/11/2011) lalu.
Penekanan penilaian kehebatan seorang anak menurutnya jangan hanya dilihat pada hasilnya sebagai juara tapi lebih kepada usaha yang dilakukan untuk mencapai yang terbaik. Dengan kata lain, yang terpenting bukan menjadi juara atau pemenang, namun bagaimana cara orangtua meningkatkan jiwa pemenang pada diri anak, karena ini adalah kunci bagi anak untuk mendapatkan kesuksesannya.
"Semua anak dilahirkan hebat dan incredible, sehingga setiap kemajuan sekecil apapun yang dicapai anak merupakan keberhasilan positif yang harus dihargai oleh orangtua. Di sinilah peran orangtua yang paling penting," tambahnya.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Thomas J.Stanley, PhD, yang dituangkan dalam bukunya, The Millionaire Mind, kecerdasan intelektual bukan hal yang paling penting untuk menentukan kesuksesan seseorang. Penelitian yang dilakukan terhadap 733 orang jutawan di Amerika ini menunjukkan, ada 30 faktor yang mempengaruhi kesuksesan. "Dari 30 faktor tersebut hanya tiga faktor yang berhubungan dengan faktor kecerdasan seseorang, dan itu menduduki peringkat terbawah," tambah Hanny. Dari 30 faktor yang mempengaruhi kesuksesan tersebut, faktor yang menduduki tiga peringkat teratas yang harus dimiliki setiap anak adalah sikap jujur, disiplin, dan pintar bergaul. Sedangkan tiga posisi terbawah dalam faktor yang menentukan kesuksesan dan kehebatan anak adalah IQ tinggi, sekolah di sekolah ternama, dan lulus dengan nilai tertinggi menempati perikat 30.
Berdasarkan pertimbangan ini, rasanya Anda tak perlu terlalu khawatir jika anak Anda tak memiliki ranking tinggi di kelasnya. Namun, sebisa mungkin berikan perhatian kepada anak tanpa harus mengorbankan waktu bermainnya untuk berbagai les tambahan yang berlebihan. Berikan juga apresiasi untuk anak dalam setiap kemajuan kecil yang dilakukannya, agar ia semakin terpacu untuk berusaha lebih keras dan maksimal. |
|
|
Menyimak Pola Asuh Anak di Negara Lain |
|
Tuesday, 25 October 2011 |
Tipe pola asuh dipengaruhi budaya. Apapun tipe pola asuh, masing-masing ada baik buruknya.
Setiap bangsa punya cara unik dan khas dalam hal pengasuhan anak karena memang pola asuh anak erat kaitannya dengan budaya setempat. Psikolog sosial Susan Newman, PhD, penulis buku The Case for the Only Child, mengatakan, setiap pola asuh yang dipengaruhi oleh budaya masing-masing bangsa punya sisi positif dan negatif.
Orangtua berkebangsaan China yang membesarkan anaknya di Amerika, bagaimanapun, akan dipengaruhi latar belakang budaya masyarakat China. Sebuah esai di Wall Street Journal menuliskan pola pengasuhan keluarga China cenderung keras tetapi tetap menunjukkan cintanya. Mentalitas masyarakat China yang pantang menyerah juga terlihat dalam pola asuh. Penulis esai tersebut mengatakan, orangtua tidak akan sungkan memberikan hukuman jika anaknya mendapatkan nilai A minus. Mereka cenderung menggembleng anak-anak dengan keras. Tujuannya agar anak berusaha sekuat tenaga mencapai hasil maksimal. Saat anak menunjukkan sikap tidak menghargai orangtua, anak-anak harus bersiap menerima omelan atau kritik tajam dari orangtuanya. Ini adalah mentalitas masyarakat China yang diterapkan dalam pola asuh anak di mana pun mereka berada. Berbeda lagi dengan pola asuh keluarga di Amerika yang dikenal sangat terbuka. Tentunya setiap keluarga punya hak prerogatif untuk memberlakukan pola asuh terhadap anak. Namun, tidak ada salahnya mengenali baik-buruknya pola asuh sebagai pembelajaran.
Sebagai contoh, pola asuh di keluarga Amerika terbagi menjadi tiga kategori permisif, kekuasaan, menuntut perhatian. Masing-masing pola asuh ini punya sisi positif dan negatif. Namun, masih ada cara untuk menyeimbangkan kedua sisi ini.
Bersikap permisif Positifnya, sikap permisif dalam merawat anak menumbuhkan penghargaan atas diri sehingga bisa membentuk rasa percaya diri anak. Anak menjadi lebih berani mencoba hal baru.
"Orangtua biasanya terlibat dalam diskusi terutama saat anak sedang berargumentasi mengenai suatu hal," kata Newman menggambarkan bagaimana orangtua bersikap permisif terhadap anak-anaknya. Membangun komunikasi terbuka justru membuat anak tahu mana yang baik dan benar, dan tidak menerka dengan pikirannya saja.
Negatifnya, orangtua cenderung sulit bilang tidak kepada anak-anak. "Orangtua di Amerika secara membudaya tak bisa bilang tidak," kata Newman. Hal ini tentunya tidak terjadi pada semua orangtua dengan pola asuh ala Amerika. Namun, sebagian besar dari mereka mengalami hal ini.
Sikap permisif membuat orangtua menjadi defensif dalam rangka melindungi anaknya. Saat anak gagal dalam tes di sekolah, sangat mudah bagi orangtua menyalahkan pihak lain, menyalahkan guru yang tidak berkualitas atau menganggap hasil tes tidak adil. Orangtua tidak menyadari bahwa anak perlu mengalami kegagalan untuk tahu caranya belajar menjadi sukses.
Solusinya, menurut Newman, tidak salah bersikap permisif, tetapi batasi pada situasi tertentu saja. Karena jika tidak, anak-anak akan memanfaatkan kesempatan untuk mengelabui Anda dengan sikap permisif tersebut. Tambahkan sikap permisif dengan memberikan motivasi kepada anak. Newman mencontohkan, tanyakan anak ada mengenai etos kerjanya, dan apa yang mendorongnya melakukan sesuatu. Anak juga memerlukan arahan tegas dari Anda.
Menunjukkan orangtua berkuasa Positifnya, orangtua bisa memosisikan diri sebagai pihak yang patut didengar dan dihargai. Dengan menunjukkan siapa yang berkuasa, Anda sedang mengajarkan anak bahwa orangtua berkuasa dan bisa menolak, memerintah, bilang tidak atas permintaan yang berlebihan, termasuk juga mendapatkan penghargaan dari anak-anak.
Negatifnya, tidak semua anak bisa memiliki kemampuan dan kekuatan dalam menerima sikap orangtua yang tegas, kata Newman. Anda bisa memarahi dan bersikap tegas kepada anak untuk menunjukkan orangtua berkuasa. Namun, hanya lakukan sikap seperti ini saat memang anak sudah melampaui batas.
Solusinya, kenali lebih jauh karakter anak Anda. Sayangnya, banyak orangtua menyepelekan hal ini, kata Newman. Orangtua perlu mengenali mengapa anak malas, bukan lantas langsung memarahinya sesuka hati. Anda bisa bersikap keras dan tegas saat mengetahui anak-anak tidak menunjukkan usahanya untuk lebih baik lagi. Namun, Anda juga perlu memberikan dukungan dan motivasi saat anak-anak kesulitan menjalani sesuatu dengan hasil maksimal.
Bersikap menuntut dan terlalu berharap Positifnya, menggantungkan harapan atau bahkan tuntutan kepada anak untuk memenuhi keinginan Anda boleh jadi membuahkan hasil maksimal. Namun, ini terjadi hanya jika anak merespons gaya pengasuhan seperti ini dengan positif. Umumnya, pola pengasuhan yang terlalu banyak menuntut anak ini menimbulkan masalah orangtua-anak, kata Newman.
Negatifnya, sikap orangtua yang terlalu menuntut anak, menggantungkan semua harapan kepada anak, hanya akan berujung pada masalah. Saat anak gagal dan tidak mampu memenuhi harapan orangtua, mereka yang berbudaya Timur akan marah dan memberikan sebutan tak mengenakkan kepada anaknya, seperti anak tak berguna, sampah. Lain lagi dengan orangtua dari budaya Barat. Mereka cenderung akan bersikap kasar yang sifatnya kekerasan fisik, seperti memukul, kata Newman.
Solusinya, orangtua perlu membangun kembali pola pikirnya. Caranya, menyeimbangkan ketegasan dengan kelembutan hati. Orangtua perlu tahu kapan harus bersikap lembut, tetapi berani bilang tidak, bersikap tegas, dengan tetap mengenali kebutuhan dan kemampuan anak menjalani berbagai tuntutan dalam dirinya.(Kompas.com) Sumber: SELF |
|
| | << Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>
| | Results 1 - 4 of 120 | |