Who's Online

We have 2 guests online

Login Form






Lost Password?

Events Calendar

April 2012 May 2012 June 2012
Su Mo Tu We Th Fr Sa
Week 18 1 2 3 4 5
Week 19 6 7 8 9 10 11 12
Week 20 13 14 15 16 17 18 19
Week 21 20 21 22 23 24 25 26
Week 22 27 28 29 30 31

Latest Events

There are no upcoming events currently scheduled.
View Full Calendar

Polls

Bagaimana pendapat Anda tentang Pestalozzi ?
 
Bagaimana menurut Anda isi web Pestalozzi?
 

Home
Pendidikan Bertahan Hidup
Sunday, 15 June 2008

                                                                                Image

                                                      

     

    Banyak orangtua murid di TK Pestalozzi, Cibubur bertanya apa yang dimaksud  dengan  "Pendidikan Bertahan Hidup"?. Saya menjelaskan bahwa  itu adalah sistem pendidikan yang mengajarkan anak untuk tetap bertahan hidup dalam segala situasi dan kondisi, menjadikan anak ulet, tangguh dalam berkompetisi, tidak putus asa dan tidak "cengeng".

     

    Sistem pendidikan semacam ini sudah lama diterapkan di negara-negara maju seperti di USA, Inggris, Australia, Jerman, Jepang dll.  Di Indonesia kita baru saja tanggal 2 Mei yang lalu merayakan Hari Pendidikan Nasional, apakah sistem pendidikan kita sudah melahirkan generasi baru , generasi  yang "survive" - yang sanggup menghadapi segala situasi dan tantangan hidup seperti di negara maju?.

     

    Mari kita lihat dan telaah bersama, bagaimana sebenarnya  kita mendididik anak kita di Rumah dan di Sekolah.

     

    Kembali ke masa anak baru dilahirkan dan berusaha mencari payudara ibu untuk menyusui. Pada saat  itu orangtua sering membiarkan bayi mereka  merayap sendiri menemukan payudara ibu untuk menyusui sampai berhasil. Dan  secara disadari atau tidak,  sebenarnya ketika itu  para orangtua  sudah mulai menerapkan pendidikan bertahan hidup (Struggling for Survival) kepada anak mereka. Dengan membiarkan bayi melakukan kegiatan merayap mencari payudara ibu untuk bisa menghisap air susu ibu sebagai "sumber kehidupan", bayi  dibiarkan menggunakan berbagai kemampuan refleksnya  seperti  refleks menghisap, refleks rangsangan sentuhan di sudut bibir (rooting reflex), refleks  menjejakkan kaki untuk merayap maju dll hingga berhasil menemukan payudara ibu dan minum air susu ibu sampai kenyang. Awal yang baik ini bagi pendidikan anak untuk bertahan hidup harus dilanjutkan pada tahun-tahun berikut kehidupannya, tidak boleh berhenti.

     

    Bagaimana caranya?, kita kaji bersama:

     

  1. Di Rumah: mulailah kita mengajarkan si kecil dengan ketrampilan hidup  praktis sejak dini, misalnya dengan membiasakan anak bangun pagi,  menyediakan perlengkapannya sendiri, mendorong anak untuk tidak cepat putus asa dan minta tolong, melainkan berusaha untuk suka menolong diri sendiri ketimbang menunggu untuk ditolong oleh orang lain disekitarnya, walau ada pembantu di rumah, biarkan anak memakai baju dan sepatunya sendiri dan masih banyak lagi.
  2.  

  3. Di Luar Rumah/Sekolah: bila sedang bermain di Taman Bermain di Tempat Umum ataupun di sekolah misalnya, biarkan anak bermain dengan anak lain, tanpa dibatasi dengan kata "jangan" yang menghambat perkembangan rasa ingin tahunya, kita cukup menerangkan bahayanya, agar dia tidak melakukan langkah-langkah berbahaya dan kita mengawasi dan melindungi , bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Terlalu memproteksi anak juga bisa berakibat fatal, anak cepat putus asa, tidak mau mencoba, cepat menangis alias "cengeng" dan selalu membutuhkan pertolongan.
  4.  

     

    Mungkin muncul keraguan dalam hati kita " Apakah si kecil mampu melakukan itu?" atau muncul rasa tidak tega " Aduuh badannya kecil begitu dan sering sakit-sakitan, bagaimana bisa melakukan sendiri?" dll, tapi bila kita mengingat kembali masa si kecil masih bayi bertarung merayap naik mencari payudara ibu untuk minum air susu ibu yang menjadi "sumber kehidupan" nya dengan  gerak-geriknya lambat,canggung dan mengundang iba, namun selalu berhasil?. Pada saat itu kita memberi kesempatan kepada bayi kita untuk tetap mencoba dan melatihnya untuk mencapai payudara, karena kita yakin dia pasti bisa dan ternyata secara refleks bayi selalu berhasil menemukan air susu ibu sebagai "sumber kehidupan".

     

    Begitu anak  bertambah umur, mengapa geraknya malah dibatasi, terlalu dilindungi dan banyak "tidak boleh"nya, sehingga dia tidak mampu mengerjakan banyak hal yang seharusnya mampu dikerjakan anak seusianya?.

     

    Nah, kita koreksi diri kita, tipe orangtua yang bagaimana diri kita? Apakah kita orangtua yang selalu memberi kesempatan kepada anak untuk mencoba sampai berhasil atau termasuk yang cepat membantu atau  menyuruh pengasuh anak untuk melakukan semua yang sebenarnya sudah bisa dilakukan oleh anak itu sendiri?.Anak akan cepat mengadaptasi apa yang diajarkan orangtua dan lingkungannya.

     

    Bagi mereka yang berhasil mendidik anak untuk bisa "Bertahan Hidup" (Struggling for Survival) dalam segala situasi dan kondisi, mampu bersaing sehat dan tangguh menghadapai rintangan, maka tanpa disadari telah memberikan kontribusi berharga bagi negeri ini dan bagi yang belum berhasil, ubahlah segera pola asuh yang terlalu melindungi anak  kearah pendidikan anak yang "survive" dan teruslah  mencoba!. (Dr.D.Pane, Juni 2008/TK Pestalozzi, Cibubur)

        

Last Updated ( Monday, 09 November 2009 )
 
Permainan Relaksasi Untuk Anak Pra-Sekolah
Wednesday, 29 August 2007

Bila kita berendam di bak air hangat setelah seharian beraktivitas, kita pasti akan merasakan betapa rileks tubuh kita, bukan?. Otot kita akan menjadi regang dan kegiatan relaksasi ini juga melegakan pernafasan. Hal ini tidak hanya dirasakan oleh orang dewasa saja, namun anak usia dini bisa merasakan yang sama. Mereka sering mendapat tekanan dari pelajaran di Taman Bermain, teman, guru, lingkungan, tuntutan dan harapan  yang tinggi dari orangtua yang  bisa membuat mereka stres dan juga agresif.

Nah, bagaimana Anda sebagai Orangtua di Rumah dan Guru di Sekolah bisa membantu anak mengurangi stres dengan melakukan kegiatan relaksasi yang mengasyikkan dan yang dapat dinikmati bersama-sama?. Berikut ini adalah tip-tip relaksasi sederhana melalui pernapasan dan peregangan otot. Tehnik pelaksanaannya dirangkum dari buku yang ditulis oleh Danielle Bersma dan Marjoke Visscher berjudul "Yoga Games for Children":

* Bermain Menjadi Balon

Anak-anak berdiri membentuk lingkaran dan berpura-pura menjadi balon dengan menarik napas panjang, masukkan kedalam badan sampai "balon" menjadi besar (perut sedikit digelembungkan). Lalu hembuskan napas perlahan-lahan lewat mulut, sambil berkata "balonnya sekarang kempes, deh.....".

* Lomba Tiup Bola Kapas

Anak-anak masih membentuk lingkaran. Buatkan sebelumnya bola-bola dari kapas dan setiap anak diberi sedotan sebagai alat peniup bola. Ciptakan suasana lomba meniup bola-bola kapas antara anak dan Anda sendiri. Lakukanlah beberapa kali, permainan ini sangat menyenangkan.

* Menggambar di Jendela Kaca

Ajak anak-anak berdiri disisi jendela kaca besar.Tarik napas dan hembuskan lewat mulut ke arah kaca jendela dalam jarak dekat sehingga terbentuk embun di kaca tersebut. Kemudian suruhlah anak membuat berbagai gambar apa saja yang disukainya.

* Berenang dalam Kolam Madu

Anak-anak berbaring di karpet diatas perutnya dengan  membentuk lingkaran dan ajak mereka berpura-pura berenang di kolam madu yang kental dan lengket sehingga gerakannya sangat perlahan (slow motion). Anda mencontohkan, anak menirukan. Lakukan hal ini beberapa menit.

* Robot VS Boneka Kain

Masih dalam lingkaran, ajak anak bergerak seperti robot selama 5 detik lalu berubah menjadi boneka kain yang lemas dengan melemaskan otot tangan dan jari-jari tangan. Permainan ini bisa dilakukan beberapa kali.

* Tiduran Bersama Sambil Mendengarkan Musik

Anak-anak tiduran dengan kaki bertemu di tengah membentuk lingkaran dan diberikan bantal kecil untuk alas kepala, kemudian putarkan musik klasik. Anak menarik/menghembuskan napas perlahan-lahan sambil memejamkan matanya beberapa menit.
 
Bila tip-tip tentang relaksasi tsb di atas  dilakukan dengan benar dalam waktu hanya kurang lebih 15 menit saja, maka akan segera terlihat hasilnya. Anak-anak tidak agresif lagi, malah sebaliknya akan merasa segar, rileks dan ceria kembali. Mereka bisa dipastikan akan melanjutkan aktivitas dengan bersemangat dan senang. (Dr.D.Pane/TK Pestalozzi, Cibubur)

Last Updated ( Tuesday, 03 November 2009 )
 
Pemilihan Mainan/Alat Peraga yang Aman bagi si Kecil
Tuesday, 14 August 2007

Begitu banyaknya jenis mainan/alat peraga yang ditawarkan di pasaran dengan aneka bentuk dan warna yang menarik. Mainan/alat peraga mana yang mau dibeli tinggal disesuaikan dengan usia, keterampilan anak dan tentu saja dengan dana yang tersedia. Kita harus akui bahwa mainan/alat peraga yang menarik bisa sangat menyenangkan hati anak kita dan berfungsi untuk membantu proses tumbuh-kembangnya.

Namun dalam memilih dan membeli mainan/alat peraga tidak boleh sembarangan, karena kalau tidak hati-hati bisa malah menjadi sumber bencana. Contohnya di USA hampir 4 milyar mainan/alat peraga dari berbagai jenis dan warna terjual setiap tahunnya.Tetapi ironisnya hampir lebih dari 220.000 anak usia di bawah 12 tahun terpaksa dirawat di UGD akibat cedera dan beberapa diantaranya malah meninggal dunia. Karena itu jika ingin memutuskan untuk membeli mainan/alat peraga bagi si kecil untuk menstimulasi perkembangan otaknya, selain faktor usia, juga harus dipertimbangkan segi keamanannya.

Berikut ini saran-saran yang sebaiknya diperhatikan sebelum memilih dan membeli mainan/alat peraga yang dibutuhkan dan tentunya yang aman bagi si kecil:

* Perhatikan usia, tingkat perkembangan dan keterampilan anak

Kita harus ingat bahwa setiap anak itu unik, tidak sama sehingga tidak bisa dibandingkan dengan anak lain. Karena itu proses tumbuh kembang anak berbeda-beda pula. Anda harus benar-benar memahami tingkat kemampuan motorik kasar dan halus anak & keterampilan anak saat ini. Jangan karena ingin berhemat, Anda membelikan mainan/alat peraga untuk anak yang usianya lebih tua dengan anggapan, bahwa si kecil toh sebentar lagi akan mencapai usia tsb.

* Baca informasi yang tertulis pada kemasan atau label mainan/alat peraga dengan seksama

Membaca informasi dengan teliti akan membantu Anda dalam menentukan dan memilih apakah mainan/alat peraga ini cocok dengan usia anak Anda,dan cara memainkannya tidak terlalu sulit serta banyak manfaatnya bagi si kecil.

* Hindari bahaya tersedak

Anak di bawah 3 tahun jangan diberikan mainan/alat peraga seperti misalnya "puzzles" yang memiliki bagian-bagian kecil, karena anak pada usia ini  dalam tahap mengeksplorasi, sehingga sering memasukkan berbagai benda berukuran kecil kedalam mulut atau lubang hidungnya. Pilihkan mainan/alat peraga bongkar-pasang yang bagian-bagiannya berukuran lebih besar daripada ukuran mulut anak.

* Perhatikan berat dan bentuk mainan/alat peraga

Jangan memilih/membeli mainan yang berat atau yang bentuknya tajam/runcing, agar tidak mencelakakan dirinya atau anak lain, pada waktu bermain.

* Waspadai asesoris pada mainan/alat peraga

Jangan memilih/membeli mainan/alat peraga yang dihias dengan asesoris seperti kancing, pita, mata, biji-bijian atau manik-manik, karena benda-benda tsb bisa tertelan oleh si kecil. Jika mainan/alat peraga yang diinginkan tsb memakai pita/tali, perhatikan pita/tali tsb tidak lebih panjang dari 20 cm, agar tidak membelit leher dan beresiko tercekik, pada waktu anak bermain.

* Hati-hati dengan bahan pembuatnya

Periksalah bahan pembuat mainan/alat peraga tsb, apakah terbuat dari plastik, metal, kayu atau karton daur ulang dan zat pewarna yang dipakai mengandung racun atau tidak, mudah mengelupas atau tidak dll, bila sudah dipastikan terbuat dari bahan yang tidak berbahaya bagi kesehatan anak, barulah Anda membeli mainan/alat peraga tsb.

* Hindari mainan/alat peraga  dari tanah liat, pasir atau lilin

Mainan/alat peraga dari tanah liat, pasir atau lilin hanya diberikan kepada anak usia diatas 3 tahun dan harus tetap dalam pengawasan orang dewasa, agar tidak dimasukkan kedalam mulut anak.

* Jangan berikan mainan bekas

Dengan tujuan berhemat, anak sering diberikan maina/alat peraga bekas kakak yang lebih tua, saudara atau anak teman. Selain kondisi mainan/alat peraga tsb biasanya dalam kondisi yang tidak bagus lagi dan dapat membahayakan si kecil, juga warnanya bisa cepat mengelupas dan itu berbahaya bila dimasukkan kedalam mulut si kecil.Jadi mainan bekas tidak layak bagi si kecil, kecuali benar-benar dalam kondisi yang bagus.

* Awasi boks tempat menyimpan mainan/alat peraga

Jangan biarkan anak Anda yang usianya di bawah 3 tahun bermain sendiri dengan mainan/alat peraga dari boks mainan kakaknya yang misalnya berupa balok-balok kecil, lego, puzzles,lingkaran kecil atau pistol-pistolan tanpa pengawasan, karena bisa berbahaya, bila tidak tahu cara memainkannya dan bila dimasukkan kedalam mulut anak.

Demikianlah tip-tip berguna dan harus sungguh-sungguh diperhatikan dalam memilih/membeli mainan/alat peraga yang aman dan tidak membahayakan kesehatan anak kita, karena kecelakaan sering terjadi pada waktu anak bermain. Berhati-hatilah dalam memilih/membeli mainan/alat peraga bagi buah hati kita !!!.(Dr.D.Pane,TK Bilingual Pestalozzi,Cibubur) 
 

Last Updated ( Sunday, 21 November 2010 )
 
<< Start < Prev 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Next > End >>

Results 117 - 120 of 125

© 2012 Pestalozzi Indonesia

TBN - TIDYA Businesses Network