|
Monday, 19 September 2011 |
TEMPO Interaktif, -Banyak orang tua yang memberikan balita mereka mainan terkini. Namun kebanyakan balita akan tampak jenius hanya dimata orang tuanya. Ada juga balita yang memang sudah berbakat sejak lahir.
Bagaimana melacak bakat anak Anda? Laman lilsugar.com, memberikan petunjuknya. Berikut 10 petunjuk itu.
1. Mengumpulkan Informasi Kalimat "Masuk kuping kanan keluar kuping kiri", terlihat umum bagi semua anak-anak. Tapi bagi mereka yang memiliki intelejensi akan mampu menangkap berbagai informasi dan menceritakannya dikemudian hari.
National Association of Gifted Children (NAGC) memberikan contohnya. "Seorang anak usia 6 tahun yang baru kembali dari perjalanannya ke museum mampu menggambarkan dengan akurat roket ruang angkasa yang dilihatnya."
2. Rasa Ketertarikan yang Luas Anak yang berbakat umumnya menampakkan ketertarikannya terhadap berbagai macam topik. Mereka mungkin suka Dinosaurus pada bulan tertentu, ruang angkasa bulan berikutnya dan seterusnya.
3. Menulis dan Membaca Sejak Dini Jika anak Anda adalah balita yang cerdas, ia akan mampu membaca dan menulis sejak usia dini tanpa mengikuti pendidikan formal sebelumnya.
4. Berbakat di Bidang Seni Anak-anak yang menampilkan bakat tidak biasa dibidang seni dan atau musik lainnya, kadang dipercaya merupakan anak yang diberkati. Balita yang mampu menggambar sesuatu dengan jelas, mampu membuat garis yang sempurna atau menggambarkan tingkat pemahaman seni yang tinggi umumnya masuk kategori anak-anak berbakat.
5. Memperlihatkan Konsentrasi yang Sungguh-sungguh Anak-anak dikenal tidak suka berkonsentrasi dengan lama. Namun jika anak Anda termasuk yang suka berkonsentrasi atau tertarik terhadap sesuatu dengan periode yang lama, maka anak tersebut bisa dikatakan sebagai anak berbakat.
6. Punya Memori yang Bagus Beberapa balita yang berbakat mampu mengingat sesuatu dengan baik sejak mereka kecil. Sebagai contoh, anak umur dua tahun mampu mengingat dan menceritakan kembali kejadian sejak dia umur 18 bulan.
7. Punya Kosakata yang Maju Balita yang mampu berbicara pada usia dini mungkin tidak termasuk dalam tanda-tanda berbakat. Tetapi jika si kecil Anda mampu menggunakan kosakata dan kalimat yang maju, maka ia memang cerdas seperti yang Anda pikirkan. Misalnya, menurut NAGC, jika anak pada usia dua tahun umumnya membuat kalimat, "Ada Anjing." Maka anak dua tahun yang berbakat akan mampu membuat kalimat yang panjang. Seperti, "Ada anjing coklat di taman belakang dan dia mengendus bunga kita."
8. Perhatian Terhadap Detil Anak yang berbakat memiliki perhatian terhadap detil. Anak yang lebih tua lebih ingin tahu secara spesifik bagaiman cara kerja sesuatu. Sementara anak yang lebih kecil akan mampu menempatkan kembali dimana ia mengambil mainannya atau ia tahu kalau sesuatu telah dipindahkan dari tempat asalnya.
9. Berlaku Sesuai dengan Maunya Pada umumnya anak-anak tidak terlalu peduli dengan dirinya atau orang lain, kecuali jika temannya memiliki sesuatu yang dia mau. Tidak dengan anak-anak berbakat, mereka peduli dengan orang lain dan juga sangat memperthatikan dirinya.
10. Memahami Sesuatu yang Kompleks Balita yang memiliki kecerdasan tinggi mempunyai kemampuan untuk memahami sesuatu yang kompleks, peduli terhadap hubungan dan berpikir secara abstrak. Mereka mampu memahami masalah secara dalam dan memikirkan pemecahannya. (DEWI RETNO,28 Juni 2011)
|
|
Last Updated ( Monday, 19 September 2011 )
|
|
|
Manfaat Berenang Sejak Usia Dini |
|
Wednesday, 07 September 2011 |
Berenang dapat membantu bayi mengembangkan ketrampilan fisiknya secara impresif dalam hidupnya kelak. KOMPAS.com - Mengajarkan bayi berenang sejak tahun pertama memiliki banyak manfaat. Tak hanya bermanfaat untuk bayi, berenang juga bisa meningkatkan bonding antara orangtua-anak.
Sayangnya, masih banyak orangtua yang memandang sebelah mata kegiatan berenang untuk bayi. Atau mungkin, mereka terlalu khawatir dan menganggap terlalu dini. Padahal, mengajarkan berenang se-dini mungkin kepada anak, memberikan lebih banyak manfaat.
Survei yang diadakan Water Babies menunjukkan 40 persen orangtua di Inggris mengaku tak pernah memperkirakan adanya manfaat positif dari mengajarkan berenang pada bayi. Padahal kecelakaan ketiga tertinggi pada anak di Inggris disebabkan karena anak tenggelam. Mengajarkan berenang sejak dini pada anak, justru mampu meningkatkan kepercayaan diri anak di dalam air, dan membuatnya bisa melindungi diri.
Bonding Berenang bersama bayi menjadi momen yang menyenangkan untuk anak dan orangtua. Selain mendebarkan, berenang bersama bayi juga meningkatkan bonding orangtua-anak.
Perkembangan fisik dan mental Aktivitas berenang melatih perkembangan fisik dan mental anak. Anak tak hanya tumbuh lebih bugar dan kuat, namun juga membantu anak untuk lebih bernafsu makan dan lebih nyenyak tidur.
Belajar life-skill Nyatanya, renang bukan hanya olahraga fisik. Melalui renang, bayi juga bisa belajar life-skill, termasuk kemampuan untuk bertahan dan menjaga diri.
Menurut survei, 90 persen ayah dan ibu setuju bahwa menjadi tanggungjawab mereka untuk menjamin anak-anaknya memiliki life-skill. Artinya, adalah tugas orangtua untuk mendidik dan membimbing anak untukmemiliki life-skill seperti kemampuan berenang, bersepeda, memahami etika di meja makan. Namun, lebih dari sepertiganya mengaku komitmen untuk menumbuhkan life-skill ini terkalahkan karena kesibukan pekerjaan.
Paul Thompson, salah satu pendiri Water Babies mengatakan, "Mengajarkan anak mengenai keamanan tingkat dasar di dalam air dan kepercayaan diri di dalam air bisa menyelamatkan jiwanya. Melalui pelatihan yang progresif, bayi bisa belajar keterampilan pertahanan diri sejak dini, seperti berenang mendekati benda padat saat berada di dalam air, dan lain sebagainya."
Usia berapa mulai berenang? Kebanyakan orangtua, para responden survei Water Babies, mengatakan anak-anak sebaiknya mulai belajar beranang mulai usia tiga. Namun faktanya, anak-anak bisa belajar berenang lebih dini lagi.
Bayi pada tahun pertama mengalami perkembangan otak yang tinggi, setiap gerakan akan merangsang perkembangan otak, menguatkan saraf dan membuat kerja otak semakin efisien.
"Bayi usia dua hari pernah belajar berenang bersama kami. Tahun pertama kehidupan bayi sangat krusial terutama dalam perkembangannya. Olahraga rutin turut punya andil besar dalam mendukung tumbuh kembangnya. Air memungkinkan otot bayi bergerak bebas. Latihan di air, cocok untuk anak-anak," tandas Thompson. Sumber: femalefirst.co.uk |
|
|
Sensory Integration Dysfunction |
|
Sunday, 07 August 2011 |
|
What is sensory integration dysfunction? Children with sensory integration dysfunction have difficulty processing information from the senses (touch, movement, smell, taste, vision, and hearing) and responding appropriately to that information. These children typically have one or more senses that either over- or underreact to stimulation. Sensory integration dysfunction can cause problems with a child's development and behavior. Who has sensory integration dysfunction? Children with autism and other developmental disabilities often have sensory integration dysfunction. But sensory integration dysfunction can also be associated with premature birth, brain injury, learning disorders, and other conditions. Recommended Related to Children One Town Gets Children to Live a Healthy Lifestyle By Sari HarrarWant your kids to eat healthy, exercise, and enjoy it? Here's how parents in Somerville, MA, turned the kid-obesity epidemic around. Five-year-old Ben Tull pulled a big, ripe apple out of his Bob the Builder backpack one afternoon three years ago — and launched a health revolution at home. "The school cafeteria had given kids — even kindergartners — whole fruit at lunch, and Ben was so excited he brought his home to share with his brother, his dad, and me. He called it 'The Family... Read the One Town Gets Children to Live a Healthy Lifestyle article > > What causes sensory integration dysfunction? The exact cause of sensory integration dysfunction is not known. It is commonly seen in people with autism, Asperger's disorder, and other developmental disabilities. Most research suggests that people with autism have irregular brain function. More study is needed to determine the cause of these irregularities, but current research indicates they may be inherited. What are the symptoms? Children with sensory integration dysfunction cannot properly process sensory stimulation from the outside world. Your child may: - Either be in constant motion or fatigue easily or go back and forth between the two.
- Withdraw when touched.
- Refuse to eat certain foods because of how the foods feel when chewed.
- Be oversensitive to odors.
- Be hypersensitive to certain fabrics and only wear clothes that are soft or that they find pleasing.
- Dislike getting his or her hands dirty.
- Be uncomfortable with some movements, such as swinging, sliding, or going down ramps or other inclines. Your young child may have trouble learning to climb, go down stairs, or ride an escalator.
- Have difficulty calming himself or herself after exercise or after becoming upset.
- Jump, swing, and spin excessively.
- Appear clumsy, trip easily, or have poor balance.
- Have odd posture.
- Have difficulty handling small objects such as buttons or snaps.
- Be overly sensitive to sound. Vacuum cleaners, lawn mowers, hair dryers, leaf blowers, or sirens may be upsetting.
- Lack creativity and variety in play. For instance, your child may play with the same toys in the same manner over and over or prefer only to watch TV or videos.
How is sensory integration dysfunction diagnosed? A health professional, often an occupational or physical therapist, will evaluate your child by observing his or her responses to sensory stimulation, posture, balance, coordination, and eye movements. While many children have a few of the symptoms described above, your health professional will look for a pattern of behavior when diagnosing sensory integration dysfunction. How is it treated? Sensory integration therapy, usually conducted by an occupational or physical therapist, is often recommended for children with sensory integration dysfunction. It focuses on activities that challenge the child with sensory input. The therapist then helps the child respond appropriately to this sensory stimulus. Therapy might include applying deep touch pressure to a child's skin with the goal of allowing him or her to become more used to and process being touched. Also, play such as tug-of-war or with heavy objects, such as a medicine ball, can help increase a child's awareness of her or his own body in space and how it relates to other people. Although it has not been widely studied, many therapists have found that sensory integration therapy improves problem behaviors. (www.webmd.com) |
|
| | << Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>
| | Results 21 - 24 of 120 | |