|
Cara Bijak Mendengarkan Anak |
|
Monday, 27 June 2011 |
|
Cara Bijak Mendengarkan Anak
Ajarkan anak Anda cara menghargai orang lain, dengan juga menghargainya dan mendengarkannya ketika anak berbicara. (TK Pestalozzi/Bilingual, Cibubur,Jakarta Timur)
Anak butuh didengarkan. Anak menginginkan perhatian dan sikap menghargai dari orang dewasa ketika ia tengah berbicara. Orang dewasa yang tidak mendengarkan dan menanggapi anak ketika sedang berbicara, maka anak merekam cara orang dewasa ini, dan akibatnya anak menjadi malas berbicara.
Lebih buruk lagi, apabila terus-menerus tidak diperhatikan dan dihargai ketika berbicara, anak akan merasa tidak berharga. Oleh karena itu, penting bagi orangtua untuk menunjukkan sikap menghargai saat anak berbicara. Menghargai anak yang sedang berbicara dapat dilakukan dengan cara: * Membungkukkan badan bila perlu berjongkok sehingga lebih dekat dengan anak saat mendengarkan anak berbicara. * Mengadakan kontak mata dengan anak. * Tersenyum atau menunjukkan ekspresi wajah yang sesuai dengan perasaan yang disampaikan anak lewat ceritanya. * Menanggapi dengan nada bicara yang ekspresif dan menunjukkan antusiasme, tidak dengan nada datar. * Tidak memotong pembicaraan anak, meski mungkin merasa tidak sependapat dengan anak atau menganggap bahwa apa yang dibicarakan anak bukan sesuatu hal yang penting.
Anak sering berbicara tentang hal-hal sederhana yang kurang menarik dan dianggap kurang penting oleh orang dewasa. Selain itu, ia juga kerap menunjukkan reaksi emosional yang berbeda dari orang dewasa, merasa kagum oleh sesuatu yang dianggap biasa oleh orang dewasa. Atau khawatir dan takut terhadap sesuatu yang dianggap tak masuk akal oleh orang dewasa. Umpamanya saja kagum melihat kereta api sehingga terus-menerus bicara tentangnya, atau menceritakan kekhawatirannya kalau-kalau ada monster yang bersembunyi di kolong.
Sekalipun demikian, orangtua tetap perlu menunjukkan penghargaan terhadap apa yang ia pikirkan dan rasakan ketika ia bercerita. Anak yang dihargai orangtua saat ia berbicara, akan mengambil sikap serupa dalam merespons orang lain yang mengajak bicara. Ia akan menjadi pendengar yang baik, yang mampu membuat lawan bicara merasa dihargai. Di samping itu, tentu saja ia akan berkembang menjadi pribadi yang lebih percaya diri dalam berkomunikasi dengan orang lain.
(Nakita/Hilman Hilmansyah) |
|
Last Updated ( Monday, 27 June 2011 )
|
|
|
Penanganan Anak Hiperaktif |
|
Saturday, 11 June 2011 |
Anak yang selalu bergerak dan sulit berkonsentrasi sering dicap sebagai anak nakal. Padahal, dalam dunia psikiatri, mereka dikenal sebagai attention deficit hyperactivity disorder (ADHD).
Menurut National Institute of Mental Health di Amerika, perbandingan anak laki-laki dan anak perempuan dengan ADHD adalah 3:1.
Namun, beberapa ahli jiwa menganggap terdapat ADHD yang sama banyak antara anak perempuan dengan dan anak laki-laki. Hanya, anak perempuan tidak terdiagnosis sesering anak laki-laki karena anak perempuan kurang mengganggu dan gejalanya masih terkendali sampai usia lebih tua.
ADHD dapat menyebabkan gangguan kemampuan akademik dan interaksi sosial dengan teman. Ini karena anak ADHD tak mampu mengendalikan dan mengatur tingkah lakunya. Lebih parah lagi, penyalahgunaan alkohol dan obat, depresi dan gangguan mental lainnya, kenakalan remaja, serta problem dalam pekerjaan.
Kondisi hubungan relasi sosial yang buruk ini menimbulkan peningkatan kondisi stres pada orangtua. Bahkan, hal itu bisa mengakibatkan persepsi orangtua terhadap dirinya sendiri menjadi buruk dan merasa tak mampu berperan sebagai orangtua yang baik.
Penanganan ADHD harus melalui terapi komprehensif yang meliputi:
1. Terapi Farmakologi Rencana pengobatan harus dibuat secara individual, tergantung gejala dan efeknya terhadap kehidupan sehari-hari. Penelitian jangka panjang menunjukkan bahwa kombinasi obat dan terapi lain memberi hasil paling baik.
Pengobatan diberikan bila gejala impulsivitas, agresivitas, dan hiperaktivitas cukup berat sehingga menyebabkan gangguan di sekolah, di rumah, atau hubungan dengan teman. Pengobatan bertujuan menghilangkan gejala dan sangat memudahkan terapi psikologis. Lamanya pengobatan tergantung ada atau tidaknya gejala yang ingin dihilangkan.
2. Terapi Perilaku Terapi psikososial/perilaku, seperti pelatihan kemampuan sosial, dapat dianjurkan sebagai terapi awal bila gejala ADHD cukup ringan, diagnosis ADHD belum pasti, atau keluarga memilih terapi ini. Namun, untuk jangka panjangnya, terapi perilaku saja tidak cukup dalam menangani ADHD
3. Terapi Kombinasi Inilah terapi yang diyakini terbaik karena dibarengi dengan makan obat, sedangkan terapi perilaku dapat membantu pengelolaan gejala-gejala ADHD dan mengurangi dampaknya pada anak.
Cara terbaik adalah bekerja sama dengan seorang terapis berpengalaman dalam masalah perilaku, lalu rajin berkonsultasi dengan dokter yang fokus menangani anak ADHD untuk memonitor perkembangan anak.
Terapi perilaku bermanfaat membentuk self control pada anak sehingga bila sudah terbentuk, dosis obatnya akan dikurangi secara bertahap sampai akhirnya anak tidak memerlukan lagi. (TK Pestalozzi, Cibubur, 10 Juni 2011)
Sumber : |
|
Last Updated ( Saturday, 11 June 2011 )
|
|
|
Beda anak Hiperaktif dan Superaktif |
|
Saturday, 11 June 2011 |
shutterstock.com "Anak saya dituding nakal sekali karena tak pernah diam. Bahkan, ada yang bilang dia hiperaktif. Bukankah anak yang sehat seharusnya memang aktif dan hal ini normal-normal saja?"
Ya, tak sedikit orangtua yang bingung dengan keaktifan anaknya. Karena itulah, Sani B. Hermawan, Direktur Lembaga Psikologi Daya Insani, Jakarta, membeberkan ciri-ciri dari ADHD, ADD, superaktif, dan aktif, sehingga orangtua dapat membedakannya dan memberikan penanganan yang tepat bagi buah hati tercinta.
1. ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) Ciri-ciri: * Hiperaktivitas. Anak tak bisa diam dalam waktu lama dan mudah teralihkan perhatiannya pada hal lain. Ciri lainnya, tidak fokus bicara alias mengeluarkan saja apa yang ingin dikatakannya tanpa peduli apakah lawan bicara mengerti/tidak apa yang dibicarakannya. Anak juga cuek ketika ada yang memanggilnya.
* Anak sulit "diberi tahu". Bila orangtua melarang atau memintanya melakukan sesuatu, ia cuek atau tetap melakukan apa yang ingin dilakukannya.
*Destruktif. Anak suka merusak. Mainan tak digunakan sebagaimana mestinya, tapi bisa dibanting-banting hingga rusak.
* Impulsif. Suka melakukan sesuatu tanpa tujuan yang jelas, sekadar menuruti keinginannya saja. Misal, ia ingin naik turun tangga dan itu dilakukan tanpa tujuan.
* Tak kenal lelah. la bisa terus berlarian keliling rumah seharian meski orangtua sudah memintanya berhenti.
* Intelektualitas rendah. Karena perhatiannya mudah teralihkan, dia hanya menerima informasi sepotong-sepotong. Akibatnya, apa yang diajarkan padanya tidak utuh diterima.
2. ADD (Attention Deficit Disorder) Di Indonesia, kasus ADD tak sebanyak ADHD. Meski sama-sama mengalami gangguan pemusatan perhatian, tapi anak ADD tak disertai hiperaktivitas. Walaupun sedang duduk diam, anak sepertinya mendengarkan penjelasan yang diberikan padanya, tapi informasi itu hanya diterima sepotong-sepotong karena perhatiannya mudah teralihkan.
3. SUPERAKTIF Ciri-ciri: * Bisa tetap fokus. Meski sekilas anak ini terus bergerak/ tak bisa diam, tapi dia tidak mengalami gangguan pemusatan perhatian. la tetap fokus dengan apa yang dikerjakannya saat itu. Bila diberikan mainan yang membutuhkan penyelesaian, seperti pasel, ia akan menyelesaikannya. Beda dengan anak hiperaktif, yang cepat bosan dan tak menyelesaikan permainannya.
* Konstruktif. Tenaganya yang berlebih digunakan untuk menyelesaikan tugas yang diberikan padanya. Setidaknya, ia akan berusaha untuk menyusun secara konstruktif permainan yang diberikan.
* Bisa merasa lelah. Setelah lelah melakukan aktivitasnya, anak juga bisa capek. Biasanya kalau capek, ia akan berhenti dan istirahat/tidur.
* Intelektualitas lebih baik.
4. AKTIF Ciri-cirinya hampir sama dengan anak superaktif, bedanya, tenaga anak aktif lebih sedikit. Meski sama-sama terus bergerak, tapi anak aktif punya batasan yang hampir sama dengan anak normal. Umumnya cerdas, ia terus bergerak untuk mencari tahu hal-hal yang membuatnya penasaran. la bisa menyelesaikan dengan baik tugas yang diberikan. Pada beberapa bidang, umumnya juga lebih kreatif (TK Pestalozzi, Cibubur,10 Juni 2011)
Sumber : |
|
| | << Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>
| | Results 29 - 32 of 120 | |