Who's Online

We have 21 guests online

Login Form






Lost Password?

Events Calendar

January 2012 February 2012 March 2012
Su Mo Tu We Th Fr Sa
Week 5 1 2 3 4
Week 6 5 6 7 8 9 10 11
Week 7 12 13 14 15 16 17 18
Week 8 19 20 21 22 23 24 25
Week 9 26 27 28 29

Latest Events

There are no upcoming events currently scheduled.
View Full Calendar

Polls

Bagaimana pendapat Anda tentang Pestalozzi ?
 
Bagaimana menurut Anda isi web Pestalozzi?
 

Home
Anak Merasa Tidak Dicintai karena Minimnya Komunikasi
Saturday, 14 May 2011
Biasakan berkomunikasi dengan anak, agar tak terjadi salah paham.

KOMPAS.com - Cara orangtua memperlakukan anak tertua dengan anak yang lebih muda jelas berbeda. Si kakak dianggap sudah lebih besar dan mengerti perintah orangtua. Sedangkan si kecil, masih perlu didampingi. Cara penanganan berbeda ini wajar saja terjadi karena perbedaan usia. Namun anak-anak takkan sepenuhnya memahami perbedaan ini jika tak dijelaskan oleh orangtuanya. Minimnya komunikasi membuat anak, terutama si kakak, merasa tak lagi diperhatikan oleh ayah atau ibunya.

Psikolog Anna Surti Ariani, Psi, menyarankan orangtua perlu terus belajar teknik komunikasi. Kebiasaan ngobrol perlu dibangun untuk mecegah salah penafsiran atas perlakuan orangtua terhadap anak. "Orangtua harus belajar banyak trik untuk menambal minimnya komunikasi di rumah," jelasnya seusai peluncuran susu cair tepat usia di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Untuk memelajari teknik komunikasi, psikolog yang akrab disapa Nina ini menyebutkan sejumlah tipsnya.

* Mengungkapkan pikiran dan perasaan
Orangtua bisa belajar teknik komunikasi dengan mulai membiasakan mengungkapkan pikiran dan perasaan. Dengan bersikap terbuka, orangtua bisa leluasa mengungkapkan pikirannya mengenai sesuatu hal kepada anak-anak. Begitupun dengan mengungkapkan perasaan. Tak perlu sungkan mengungkapkan perasaan sayang kepada anak-anak. Anak juga butuh mendengar ungkapan sayang dari orangtuanya.

* Jeli mendengarkan
Orangtua perlu mendengarkan kebutuhan anak-anak. Namun jangan hanya mendengar apa yang disampaikan anak-anak. Orangtua juga perlu jeli mendengar kebutuhan anak yang tersirat. Anda tak harus menunggu anak meminta, jika ia merasa butuh pujian dari hasil karya yang dibuatnya sendiri, lalu ditunjukkannya kepada Anda.  Kebiasaan mendengarkan akan memudahkan orangtua dalam berkomunikasi lebih baik dengan anak.

* Mendorong anak bicara
Komunikasi orangtua-anak yang baik akan terwujud jika terjadi dialog dua arah. Jika Anda mulai terbiasa mengungkapkan perasaan dan pikiran, saatnya menularkan kepada anak-anak. "Orangtua perlu mendorong anak untuk berbicara, menyampaikan pikiran dan perasaannya," jelas Nina. Selain menyontohkan, orangtua juga bisa memberikan pemahaman kepada anak, bahwa mereka juga perlu mengungkapkan apa yang dirasakannya. Dengan begitu anak terdorong untuk bersuara.

Wardah Fazriyati | wawa | Jumat, 13 Mei 2011 | 14:38 WIB

 

Last Updated ( Saturday, 14 May 2011 )
 
Anak Sudah Bisa Kena Penyakit Jantung Sejak Usia 9 tahun
Saturday, 14 May 2011

img

 foto: Thinkstock

Scania, Swedia, Siapa bilang penyakit jantung penyakit orang dewasa? Tim dokter di Swedia menemukan, anak bisa terkena penyakit jantung sejak usia 9 tahun.

Anak-anak yang berisiko terkena penyakit jantung ini bukan hanya yang berbadan gemuk karena obesitas tapi juga yang berbadan kurus.

Meski tidak gemuk, anak yang sehari-hari kerjanya hanya menonton TV dan jarang beraktivitas fisik bisa sakit jantung sejak umur 9 tahun.

Risiko anak yang terkena penyakit jantung ini karena kurangnya aktivitas fisik pada anak. Akibatnya konsumsi oksigen maksimum oleh tubuh tidak terpenuhi. Efek lanjutannya jika konsumsi oksigen sedikit bisa mempengaruhi berbagai fungsi organ.

Anak yang rajin beraktivitas fisik rata-rata mengonsumsi oksigen sebanyak 41,7 mL/menit/kg berat badan. Sementara anak yang jarang bergerak hanya mampu mengonsumsi 35,7 41,7 mL/menit/kg berat badan. Perbedaan ini mempengaruhi fungsi organ secara keseluruhan termasuk ritme jantung.

Penelitian terbaru ini dilakukan di Skane University Hospital, Swedia. Penelitian yang dipimpin oleh Dr Tina Tahna dan dipublikasikan di jurnal Acta Paediatrica ini melibatkan 123 anak laki-laki dan 100 anak peremuan beruusia antara 9 hingga 10 tahun.

Selain diukur indeks massa tubuhnya, anak-anak tersebut juga diamati aktivitas fisiknya dengan memasang berbagai peralatan termasuk Electro Cardiograph (ECG) untuk merekam ritme jantung. Selain itu, peneliti juga memasang accelerometer untuk mengukur aktivitas fisik para partisipan.

Hasil selama 4 hari berturut-turut menemukan pengaruh kurangnya olahraga terhadap risiko sakit jantung tetap tinggi meski anak-anak tersebut tidak bertubuh gemuk.

Selain dilihat dari konsumsi oksigen, hasil tes darah juga menunjukkan bahwa kurang olahraga menyebabkan komposisi darahnya tidak sehat.

"Studi ini menunjukkan hubungan klinis antara kurangnya aktivitas fisik dengan faktor risiko sakit jantung yang meningkat hingga 11 persen," ungkap Dr Tahna seperti dikutip dari Sciencedaily, Jumat (13/5/2011).

Penelitian ini juga mengungkap, penambahan aktivitas selama 20 menit tiap hari sudah memberi pengaruh cukup signifikan dalam mengurnagi risiko sakit jantung. Namun sebagian besar pakar kesehatan menyarankan, anak-anak harus melakukan aktivitas fisik sedikitnya 60 menit sehari.

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth,Jumat 13 Mei 2011





Last Updated ( Saturday, 14 May 2011 )
 
Janganlah Menjadi Orangtua yang Pilih Kasih
Wednesday, 11 May 2011
Memberikan perhatian kepada anak bukan dengan membagi perhatian, tetapi dengan melipatgandakannya.

Orangtua perlu bijak memberikan perhatian, termasuk dalam menyikapi pertengkaran kakak-adik dalam keluarga. Bahkan dibutuhkan strategi jitu dalam menghadapi anak-anak di rumah. Jangan sampai sikap Anda membuat anak berpikir, kakak atau adiknya lebih diperhatikan daripada kepentingannya. Lebih menyedihkan lagi, jika anak berkata bahwa ia tak merasa dicintai orangnya, karena menurutnya ibu atau ayahnya pilih kasih.

Kondisi seperti ini semakin kompleks ketika jumlah anak di rumah lebih dari dua. Semakin banyak jumlah anggota keluarga, semakin tinggi tantangan yang dihadapi orangtua dalam pengasuhan anak. Orangtua harus lebih ekstra memberikan perhatian, sesuai kebutuhan, kepada semua anaknya  tanpa pilih kasih.

Psikolog Anna Ariani Surti, MPsi, mengatakan perhatian orangtua penting bagi anak. Karenanya, ibu atau ayah perlu memberikan perhatian yang tepat sesuai kebutuhan anak. Memberikan perhatian kepada anak, kata perempuan yang disapa Nina ini, bukan dengan membagi perhatian tetapi melipatgandakannya.

"Orangtua tidak bisa membagi perhatian kepada anak-anaknya. Tetapi yang perlu dilakukan adalah mengkalilipatkan cinta. Jika memiliki empat anak, berikan cinta lima kali lipat. Ibu harus memberikan perhatian kepada semua anaknya, pasangannya, dan dirinya sendiri. Kualitas cinta yang diberikan kepada seluruh anggota keluarga harus sama, walau bentuknya berbeda," jelas Nina.

Selain melipatgandakan cinta dan perhatian kepada anak, orangtua juga perlu mahir berkomunikasi. Anak takkan merasa ibu atau ayahnya pilih kasih, jika mereka mendapatkan penjelasan dari sikap orangtuanya. Ketika Anda memperlakukan kakak berbeda dengan adiknya, karena perbedaan usia atau karakter, maka berikan penjelasan tentang itu. Anak perlu memahami mengapa Anda membedakan perlakuan terhadap anak-anak di rumah.

"Karena itu komunikasi sangat penting. Orangtua perlu selalu belajar, agar bisa berkomunikasi lebih baik dengan anak," tutup Nina. (Kompas.com, 11 Mei 2011/TK Pestalozzi Cibubur)

Last Updated ( Wednesday, 11 May 2011 )
 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Results 33 - 36 of 120

© 2012 Pestalozzi Indonesia

TBN - TIDYA Businesses Network