Who's Online

We have 21 guests online

Login Form






Lost Password?

Events Calendar

January 2012 February 2012 March 2012
Su Mo Tu We Th Fr Sa
Week 5 1 2 3 4
Week 6 5 6 7 8 9 10 11
Week 7 12 13 14 15 16 17 18
Week 8 19 20 21 22 23 24 25
Week 9 26 27 28 29

Latest Events

There are no upcoming events currently scheduled.
View Full Calendar

Polls

Bagaimana pendapat Anda tentang Pestalozzi ?
 
Bagaimana menurut Anda isi web Pestalozzi?
 

Home
Mengajarkan Anak Cerdas Finansial Sejak Dini
Tuesday, 03 May 2011
  Print E-mail
 
Ajari anak  untuk cerdas finansial dapat  mencegah ia kesulitan keuangan di masa mendatang.

Anda ingin mengajarkan anak untuk lebih cerdas finansial dalam mengelola uang jajan yang diberikan kepadanya setiap hari? Janganlah mengharapkan, bahwa mengatur keuangan merupakan kewajiban guru di sekolah. Mengajarkan anak menghargai uang yang diberikan kepadanya dan mengatur pengeluarannya merupakan tanggung-jawab orangtua. Sebagai orangtua, kita tidak boleh bosan mengajarakan anak kita sejak usia dini untuk berhemat dan menyimpan uang jajan yang diberikan. Ada tiga hal utama dalam  mengajarkan anak agar lebih cerdas menangani uang, yaitu dengan memberikan contoh yang baik, berbagi  pengalaman, dan sering berkomunikasi.

Jangan lupa kita  harus mendemonstrasikan contoh-contoh yang baik kepada si kecil dalam hal mengelola keuangan. Kita belajar bagaimana menangani uang dimulai ketika kita beranjak dewasa. Cari tiga nilai yang ingin Anda jadikan pegangan untuk si kecil dalam mengatur uangnya,hemat, tidak boros, tidak suka minjam uang.. Ajarkan  juga tiga hal yang seharusnya tidak dilakukan anak yang menyangkut uang, misalnya berhutang, boros dan menghabiskan uang jajan setiap hari,sehingga tidak ada yang bisa ditabung. Dengan melakukannya sendiri apa yang kita ajarkan, maka anak makin lama akan lebih cerdas finansial dan akan mengontrol keuangannya belajar dari pengalaman yang ia dapatkan. Ciptakanlah  keadaan-keadaan untuk pembelajaran bagi si kecil untuk tahu bagaimana mengelola keuangannya dan mengontrol pengeluarannya. Beberapa tips di bawah ini mungkin dapat membantu Anda mengajarkan anak cerdas finansial sesuai tahapan usia anak:

Usia 4-8 tahun. Mulailah dengan celengan yang bening. Bisa juga dibuat dengan gelas besar yang ditutup atau dengan membuatnya dari kaleng yang diwarnai dan dilobangi atasnya.. Ia akan merasa tertantang untuk mengisi celengan tersebut sampai penuh. Anda juga bisa mencoba untuk memberikan uang saku secukupnya dimulai saat anak berusia 5 atau 6 tahun, bisa harian, bisa per minggu. Jumlah uang saku bisa ditambahkan, ketika usia anak  makin bertambah.Ajarkan ia untuk mengontrol keuangan dengan mencatat pengeluarannya juga.

Usia 9-12 tahun. Pada usia ini, Anda bisa memperkenalkan anak untuk bertransaksi. Berapa banyak uang yang dikeluarkan, apa yang lebih hemat, dan lainnya. Ketika uang tabungan di celengannya sudah lumayan banyak, atau ketika ia tetap menyimpan uang-uang pemberian kakak, paman dan bibinya, bukakan tabungan atas namanya di Bank terdekat. Ajak ia ke Bank, antar ia berkeliling Bank, dan kenalkan dengan cara menyimpan dan menarik uang.  

Usia 13-15 tahun. Masuk ke kelompok  usia ini, mungkin anak Anda sedang penasaran untuk ikut tren sesuai teman-teman seusianya. Cobalah untuk mengajak dia lebih mengerti tentang uang. Anda bisa ajak dia berbelanja pakaian dengan jumlah uang tertentu. Jangan biarkan ia seenaknya membeli barang bermerek yang mahal ketika bersama Anda. Ajarkan anak untuk mengerti, bahwa Anda bekerja susah payah untuk memenuhi  kebutuhan keluarga dan tidak mau uang dihabiskan begitu saja, tanpa perencanaan yang baik.Pembiasaan untuk tidak membeli barang bermerek yang sedang tren dn harganya mahal harus dilakukan sejak dini.

Sementara, untuk hal berkomunikasi, ajarkan anak Anda tentang uang dengan hal yang jelas, bukan dengan masalah yang abstrak. Filosofi “Menabung, jangan buang-buang uang” saja tak akan mengena di dirinya. Jika Anda mau, ajak ia untuk berdialog, beri alasan tepat mengapa Anda membeli barang yang harganya lebih tinggi,tapi berkualitas dan tahan lama  ketimbang barang serupa, beda merek, atau yang lebih murah. Saat anak selesai  berbelanja, ajak mereka untuk bertukar pendapat, mengapa mereka butuh untuk beli barang yang mereka beli. Ajarkan kenapa lebih baik membeli barang yang kita butuhkan daripada membeli barang yang kita inginkan.

Jika anak Anda tahu, Anda pernah meminjam uang dari orangtua, saudara atau Anda memiliki tagihan kartu kredit, terangkan kepada anak, bahwa  Anda dan keluarga  memiliki kebutuhan mendesak, sehingga terpaksa  harus meminjam uang atau memakai kartu kredit, karena tabungan belum mencukupi dsbnya. Untuk menghindari hal  tersebut terjadi lagi, Anda perlu membuat sebuah perhituangan keuangan yang lebih cermat, memiliki  tabungan yang mencukupi, dan mengontrol keuangan dengan lebih baik lagi . Bila Anda  memberikan informasi yang jujur, anak-anak akan lebih bisa mengerti tentang keuangan dan semakin cerdas finansial.

(Dr.D.Pane, TK Pestalozzi-Cibubur, 1 Mei 2011)



Sumber: Kompas,Nakita
Last Updated ( Tuesday, 03 May 2011 )
 
Mencetak Pribadi Yang Mencipta,Bukan Membeli
Tuesday, 03 May 2011


Biasakan anak untuk mencipta sesuatu, bukan menawarkan anak untuk membeli sesuatu.

KOMPAS.com - Jiwa kewirausahaan perlu ditanamkan dalam diri anak sejak belia. Sasarannya bukan pada memicu anak berbisnis atau menjual sesuatu. Namun lebih kepada pembentukan karakter pribadi yang tangguh dan berdaya tahan tinggi. Cara sederhana yang bisa dibiasakan orangtua adalah ajak anak mencipta, membuat sesuatu, bukan membeli barang yang diinginkan.

Pakar pendidikan, Arief Rachman, mengatakan orangtua terbiasa mengajak anak membeli sesuatu saat ke mal misalnya. Orangtua merasa perlu menyenangkan hati anak karena terlalu sibuk bekerja. Kecenderungan yang terjadi adalah, anak dihadapkan pada berbagai macam kesenangan atau barang.

"Orangtua terbiasa menawarkan anak untuk bebas membeli apa saja yang mereka suka, sebagai bentuk penggantian atas rasa bersalahnya karena kesibukan sehari-hari. Padahal, anak perlu diajak untuk berpikir kreatif, berinisiatif, dengan mengajukan pertanyaan ke mereka seperti, 'Ayo, kita mau membuat apa?'" jelas Arief kepada Kompas Female, beberapa waktu lalu.

Kebiasaan menciptakan sesuatu inilah yang melandasi cara berpikir anak. Pola pikir seperti ini bisa dilatih, dan butuh peran orangtua sebagai pendukungnya. Dengan semangat mencipta, anak tak tumbuh menjadi pribadi yang mengandalkan orang lain untuk menghidupi dirinya. Orientasi anak tak seperti kebanyakan orang, sekolah, lalu mencari pekerjaan untuk menafkahi diri. Namun yang akan terjadi adalah sebaliknya, anak akan berpikir kreatif membuka lapangan pekerjaan bagi dirinya dan orang lain.

Nah, untuk menumbuhkan semangat kewirausahaan ini, Arief menyebutkan sejumlah syarat. Ia menjelaskan, anak perlu memahami bahwa hidup punya aturan dan etiket. "Aturan perlu dibarengi dengan dorongan dari orangtua," lanjutnya. Mengajak anak untuk membuat sesuatu daripada membeli adalah juga bentuk etiket dan aturan. Pesannya, untuk mendapatkan sesuatu, setiap orang perlu berusaha, tidak menerima begitu saja dengan mudahnya.

Syarat lain yang juga penting, kata Arief, adalah dalam menjalani hidup, seseorang harus memiliki perilaku positif. Sikap positif perlu ditanamkan dalam diri anak sejak belia. Dengan kepribadian positif inilah jiwa kewirausahaan tertanam dalam diri anak.

Kewirausahaan juga bisa ditanamkan melalui kebiasaan. Kebiasaan mencipta tadi bisa menjadi cara yang dibiasakan sejak kecil. Syarat menanamkan jiwa kewirausahaan lainnya adalah juga pengetahuan dan keterampilan. "Pengetahuan juga diperlukan namun tak perlu banyak. Banyak pengetahuan namun tak punya etiket juga tak ada gunanya," jelas Arief.

Jiwa kewirausahaan yang tertanam dalam diri ini memiliki pengaruh besar dalam hidup seseorang. Ia akan tumbuh menjadi pribadi yang memiliki tujuan, tangguh menjalani proses, pantang menyerah. "Jika pun gagal dalam hidup ia tak mudah menyerah," tutup Arief. (Jakarta, 2 Mei 2011)

 
Model Pengasuhan Anda ikut Gaya yang Mana, Gaya Timur (Cina) atau Barat??
Sunday, 17 April 2011
REPUBLIKA.CO.ID, Anda pernah membaca buku Battle Hymn of the Tiger Mother? Karya Amy Chua ini merupakan best seller tengah yang menjadi perbincangan warga dunia. Dalam memoarnya, ibu dari Sophia (18 tahun) dan Louisa (14 tahun) itu menceritakan kesuksesan serta kesalahan yang dibuatnya dalam mengasuh anak dengan gaya tradisional Cina.

Orang tua Cina memang terkenal otoriter. Kedisiplinan dan kerja keras demi menggapai sukses mereka pertahankan di manapun berada. “Ini menjadi nilai yang diakui bersama oleh warga Cina,” jelas sosiolog Erna Karim.

Di satu sisi, Amy mendapat acungan jempol atas hasil pengasuhannya. Di usia 14 tahun, jemari si sulung, Sophia, lincah menari-nari di atas tuts piano di Carnegie Hall. Sedangkan, adiknya, Louisa memainkan biola tanpa sedikitpun nada sumbang. Seolah memenuhi tuntutan sang bunda, keduanya juga tampil sebagai jagoan akademik.

Kenyataan itu membuat banyak orang—terutama di Amerika—terusik. Standar kesuksesan anak Amy seolah menjadikan mereka sebagai orang tua yang gagal. Di samping itu, mereka menganggap profesor hukum dari Yale University kejam terhadap anak. Sebab, ibu yang menikah dengan pria Yahudi itu mengekang kedua putrinya dari kehidupan sosial. Mereka tak memiliki pengalaman menginap di rumah teman, pergi pesta, atau ikut pementasan drama.

Amy menuntut Sophia dan Louisa meraih nilai sempurna di semua mata pelajaran, kecuali olah raga dan drama. Masing-masing juga harus rutin berlatih alat musik yang dipilihkan sang bunda. Sebegitu kerasnya terhadap anak, Amy bahkan tidak mengizinkan Louisa istirahat sejenak untuk sekadar ke kamar kecil sampai gesekan biolanya merdu memainkan lagu Little White Donkey.

 Erna mengatakan orang Cina memiliki alasan kuat ketika memberlakukan gaya pengasuhan otoriter pada anaknya. Kedisiplinan dan kegigihan adalah sikap yang mereka perlukan untuk dapat bertahan hidup. “Anak-anak Cina juga terbiasa tidak tergantung pada orang lain dan selalu berusaha meningkatkan kompetensi diri.”

Anak-anak Cina juga sejak kecil telah diperkenalkan pada falsafah hidup. Mereka akan berusaha untuk tidak mempermalukan keluarga. “Dengan didikan seperti itu, generasi muda Cina memang banyak yang sukses namun emosinya datar,” komentar psikolog A Kasandra Putranto.

Sementara itu, gaya pengasuhan ala Amerika juga ada plus-minusnya. Orang Amerika lebih permisif dan sangat memperhatikan faktor psikologis anak. “Pola asuh seperti itu memang membuat anak dapat menjalani hidup sesuai pilihannya namun mengkondisikan mereka menjadi anak yang besar kepala dan seenaknya,” cetus Kasandra yang menjabat sebagai wakil ketua Himpunan Psikologi Indonesia wilayah DKI Jakarta.

Bagaimana dengan Indonesia? Kasandra menyimpulkan orang tua Indonesia berada di antara dua kutub gaya pengasuhan Cina dan Amerika. “Lantaran tiap pola asuh memiliki kelebihan dan kelemahan tersendiri, kita tidak bisa mengatakan mana yang terbaik.”

Sementara itu, Erna memperhatikan masyarakat Indonesia sangat plural. Ragam etnik dan agama mempengaruhi nilai-nilai yang dipergunakan orang tua dalam mendidik anaknya. “Lantas, pola pengasuhan di desa juga berbeda dengan di perkotaan.”

Masyarakat desa, lanjut Erna, lebih permisif. Orang tua cenderung membiarkan anaknya berkembang tanpa pendampingan yang sesuai dengan tuntutan zaman. “Perhatian mereka terkuras untuk pemenuhan kebutuhan ekonomi.”

Lalu, di perkotaan, orang tua tampak lebih akomodatif. Kebanyakan dari mereka mencoba menyediakan sarana yang memenuhi nilai-nilai moderenisasi. “Fokus mereka pada prestasi akademik dan persaingan masa depan,” papar Erna.

Itu sebabnya, orang tua perkotaan sibuk memasukkan anaknya ke berbagai kursus. Terutama, komputer dan bahasa Inggris. “Lalu, kebutuhan otak kanan yang mencakup bidang kesenian juga diakomodasi,” jelas Erna.

Bahan renungan

Untuk mengantarkan anaknya pada keberhasilan, Amy menentukan kegiatan anaknya. Ia berpendapat hingga berusia pra remaja, anak belum dapat secara objektif menilai. Otomatis, mereka harus mengikuti pilihan orang tua.

Terlepas dari kesuksesannya dalam membesarkan anak, Amy mengaku membuat sejumlah kesalahan sepanjang perjalanan. Ia gampang naik darah, kasar dalam perkataan, dan kurang memberikan keleluasaan memilih pada putrinya. Ia juga tak segan memberi hukuman.

Amy memang mengkritik pola asuh Barat yang cenderung lunak pada anak. Ketika anak kehilangan semangat belajar biola, orang tua Barat dengan cepat menawarkan alternatif alat musik lain yang lebih mudah dikuasai. Sebaliknya, Amy justru memberi dukungan agar putrinya makin giat berlatih supaya mahir.

Tidak semua anak Cina sukses diasuh dengan gaya otoriter. Beberapa anak klien keturunan Cina di biro Psychological Practice pimpinan Kasandra tertekan dengan pola asuh seperti itu. “Mereka memilih kabur dari rumah karena tidak tahan dengan kerasnya didikan orangtua.”

Akankah pencapaian Amy dijadikan barometer oleh sejumlah orang tua? Sosiolog Erna Karim mengatakan pengekor Amy adalah mereka yang tidak mampu mengonstruksi sendiri cara mendisiplinkan anak. “Orang yang terus mengikuti perkembangan zaman namun tak tahu cara pengasuhan lebih terpengaruh dengan buku-buku seperti Tiger Mom ini,” ungkap Erna.

Tantangan Masa Kini

Anak-anak Indonesia masa kini tumbuh dalam fasilitas yang nyaris serba ada. Dengan dukungan ekonomi keluarga yang lebih mapan, mereka mudah mengeksplorasi segala hal. “Dibandingkan dengan lima tahun lalu pun kondisinya sudah berbeda sekali,” ungkap guru Bimbingan Konseling SMP Labschool Kebayoran, Sinthya Bintarti.

Sementara itu, diperkenalkan oleh tayangan TV dan orang dewasa di lingkungan sekitarnya, anak-anak juga mengenal percintaan di usia yang sangat dini. Anak TK bahkan sudah dapat menyatakan kesukaannya pada lawan jenis. “Tentunya dengan presepsi sesuai usianya,” ujar Sinthya.

Dukungan fasilitas serta kondisi lingkungan seperti itu mendatangkan masalah tersendiri bagi anak. Kedekatan mereka dengan gadget dan akses internet membuat mereka teramat tergantung dengan teknologi. “Belum saatnya mereka terlalu mengandalkan gadget,” cetus Sinthya.

Pada usia sekolah, lanjut Sinthya, semestinya anak mencari informasi dari buku bacaan. Mereka harusnya membaca langsung dari sumber primer. Sedangkan, Wikipedia sebetulnya berisi keterangan dari sumber sekunder. ”Kebiasaan mengakses Wiki menurunkan minat baca mereka terhadap buku teks.”

Lantas, anak-anak sekarang juga berani memasuki dunia pergaulan di dunia maya. Padahal, mereka belum sepenuhnya bisa memilah. “Ada bahaya yang mungkin timbul dari pertemanan dengan orang asing di social media,” kata Sinthya.

Selain itu, anak juga terlampau sering terpapar dengan tontonan tidak sehat, seperti sinetron. Tayangan tersebut membuat mereka mudah berkata kasar. “Mereka menganggap berkata kasar merupakan bagian yang biasa dalam pergaulan,” ucap Sinthya.

Di lain sisi, ada komunikasi yang terputus antara orang tua dan anak. Sering kali, ekspektasi anak terhadap orang tuanya gagal tersampaikan secara utuh. “Anak belum selesai mengutarakan harapannya, ayah ibunya sudah keburu memotong,” kata Sinthya.

Ketika nilai ulangan jelek, misalnya, orang tua tidak mendengar sampai tuntas penyebab versi anak. Padahal, anak membutuhkan dukungan ayah bundanya. “Cobalah untuk menurunkan diri sedikit agar bisa merasakan masalah yang dialami anak,” saran Sinthya. (TK Pestalozzi,Cibubur/DP,16th April 2011)

(Reiny Dwinanda, Wartawan Republika)

Last Updated ( Sunday, 17 April 2011 )
 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Results 37 - 40 of 120

© 2012 Pestalozzi Indonesia

TBN - TIDYA Businesses Network