|
Kok si Kecil Tidak Bisa Merangkak?? |
|
Tuesday, 11 October 2011 |
|
wawa | Selasa, 11 Oktober 2011 | 08:42 WIB Selain kurang stimulasi, bayi tak dapat merangkak karena adanya gangguan atau kelainan. Bayi mulai belajar merangkak pada usia 7-10 bulan. Jika pada usia ini, bayi Anda belum juga mau merangkak, kenali beberapa penyebabnya.Seperti minimnya stimulasi, akibat terlalu sering digendong dan bayi tidak diberikan kesempatan untuk belajar merangkak di atas lantai beralas matras. Selain itu, penyebab ketidakmampuan merangkak yang juga perlu diwaspadai adalah kelainan bawaan atau gangguan kesehatan.
Gangguan kesehatan atau kelainan bawaan bisa terdiri dari kelainan pada saraf, otot-otot bayi yang sangat lemah, mengalami cacat bawaan, atau terjadi kerusakan pada otak bayi.
Dokter spesialis anak yang berpraktik di RSUPN Cipto Mangunkusumo, Dr Irawan Mangunatmaja, SpA(K), menjelaskan kelainan ini bisa terjadi sejak awal alias bawaan. Meski bisa juga awalnya si kecil biasa-biasa saja, namun jatuh sakit yang berdampak pada kerusakan saraf mau pun ototnya. Dampaknya tidak hanya akan menganggu kecerdasan bayi, tapi juga berbagai kemampuan lainnya. Bahkan bayi dapat mengalami regresi atau kemunduran perkembangan.
Umpama, bayi yang di usia empat bulan terkena virus atau bakteri yang menyerang otak, sehingga membuatnya mengalami masalah di otot dan sarafnya. Pada kasus ini, ketidakmampuan bayi dalam merangkak merupakan masalah. Pasalnya, tak hanya merangkak, biasanya merembet ke masalah lain, baik motorik maupun kognitif.
Tindakan orangtua Dalam kasus ini, orangtua perlu melakukan koreksi terhadap kelainan yang ada dengan mendatangi ahli medis agar bayi diobservasi. Dengan begitu, Anda bisa mengenali apa penyebabnya dan gangguan apa saja yang dialami bayi.
Setelah itu, ikuti anjuran ahli, seperti menjalani terapi. Anjuran lainnya juga perlu diikuti, seperti memakai alat-alat tertentu untuk memperbaiki kemampuan motoriknya. Dengan begitu, gangguan yang dialami si kecil bisa hilang atau setidaknya dapat diminimalkan.
Sebaliknya, jika anjuran ahli tidak dilakukan, bisa saja gangguannya akan semakin berat. Namun yang jelas, kasus seperti ini merupakan kasus khusus dan tak bisa disamakan dengan bayi lain yang tanpa gangguan. Pasalnya, bayi yang normal umumnya akan memiliki kemampuan sesuai tonggak perkembangan atau milestone yang sudah ditetapkan oleh para ahli.
(Nakita/Irfan Hasuki) |
|
|
The Funny English Language |
|
Tuesday, 11 October 2011 |
From: Brain Candy Jokes & Humor Collections We'll begin with a box and the plural is boxes. But the plural of ox should be oxen, not oxes. The one fowl is a goose but two are called geese, Yet the plural of moose should never be meese. You may found a lone mouse or a whole set of mice, Yet the plural of house is houses not hice. If the plural of man is always called men, Why shouldn't the plural of pan be called pen? If I speak of a foot and you show me your feet, And I give you a boot, would a pair be called beet? If one is a tooth and a whole set are teeth, Why should not the plural of booth be called beeth? Then one may be that and three would be those, Yet hat in the plural wouldn't be hose. And the plural of cat is cats and not cose. We speak of a brother and also of brethren, But though we say Mother, we never say Methren, Then the masculine pronouns are he, his and him, But imagine the feminine she, shis and shim, So English, I fancy you will all agree, Is the funniest language you ever did see. (Pestalozzi Kindergarten, Cibubur,Jakarta Timur) |
|
|
Dapur,Tempat Anak Belajar Konsep Matematika Dasar |
|
Monday, 10 October 2011 |
|
Oleh DR.D.Pane,MA Pestalozzi Kindergarten (Bilingual),Cibubur,East Jakarta Saya seorang professional Bidang PAUD, tetapi juga seorang ibu yang mempunyai hobby memasak apa saja, dari mulai makanan tradisional seperti gado-gado, nasi goreng,pepes ikan atau membuat kue seperti kue lapis, kue pisang, lemper,kue bolu dsbnya sampai makanan Itali seperti Pizza dan Spagethi. Dalam melakukan kegiatan masak-memasak saya sering mengajak putra saya, ketika itu usianya sekitar 3 tahun untuk membantu saya di dapur. Nah , karena anak seusia itu sering sekali bertanya ini dan itu serta menghitung benda-benda yang dilihatnya, maka saya mulai mengajarkan konsep Matematika dengan memakai alat-alat yang terdapat di dapur, dari mulai penambahan, pengurangan, pembagian dan perkalian sederhana. Lama kelamaan dapur kami menjadi tempat yang nyaman untuk belajar Matematika dasar. Kebiasaan ini makin berkembang sampai anak saya masuk SD dan sekarang sudah duduk di SMP. Dapur menjadi tempat yang penting untuk saya dalam mengajarkan konsep Matematik sederhana dengan menggabungkan kegiataan memasak atau kegiatan sehari-hari lainnya. Pada waktu membantu saya di dapur, anak saya dapat belajar berbagai keterampilan Matematika praktis yang sangat berguna dalam kehidupannya sehari-hari dan yang dapat membantunya untuk memahami konsep Matematika yang lebih lanjut ketika menghadapi tes tengah semester misalnya. Ketrampilan Matematika yang saya ajarkan adalah sbb:
Menghitung dan mengelompokkan benda-benda Penambahan dan pengurangan Perkalian dan pembagian Mengukur dan mengkonversi Fraksi dan rasio Membuat bagan-bagan
Bagaimana Mengajarkan Anak Konsep Matematika Dasar di Dapur??
Bahkan anak-anak usia dini (anak saya mulai dari umur 3 tahun) dapat belajar keterampilan Matematika di dapur. Mereka mungkin belajar perbandingan, seperti lebih, kurang dan sama besar atau sama banyak. Mungkin mereka dapat menghitung dan menambahkan alat makan terbuat dari perak di rumah karena mereka membantu ibu menata meja. Anak-anak mungkin ingin untuk menghitung jumlah bahan dalam resep kue yang dibuat ibu dan kemudian bisa mengaturnya dalam kelompok, seperti benda cair dan padat atau dari benda terkecil hingga terbesar atau sebaliknya, sambil membuat perbandingan mana yang lebih besar atau lebih kecil, lebih panjang atau lebih pendek dstnya.. Mungkin mereka dapat belajar pengurangan dengan mengambil sebagian benda-benda diatas meja dan memasukkannya kembali ke dalam lemari, anak menghitung jumlah benda yang tersisa misalnya..
Di dapur biasanya juga tersedia berbagai macam benda selain alat makan yang dapat digunakan untuk berlatih keterampilan Matematika, termasuk barang-barang seperti: tusuk gigi, gelas, piring, mangkok, tatakan piring dan gelas, sedotan, lap-lap piring, sarung tangan, magnet kulkas, kaleng biskuit, botol bekas dsb Benda-benda tsb diatas dapat kita gunakan dalam mengasah ketrampilan Matematika anak dalam memakai benda-benda konkret yang ada di dapur, sebab dengan memvisualisasikan benda-benda tsb dan sekaligus menyentuhnya, anak dapat mengingat konsep Matematika dengan lebih baik dibandingkan dengan pembelajaran Matematika secara abstrak..
Anak-anak dapat mempelajari keterampilan Matematika yang lebih susah seperti misalnya perkalian sambil membantu ibu di dapur. Anak-anak dapat berlatih mengalikan, karena mereka telah memprediksi jumlah potongan dari alat makan perak yang diperlukan, pada waktu mereka mengingat jumlah orang yang akan makan dan peralatan makan yang dibutuhkan untuk setiap orang. Mungkin mereka dapat membagi berapa jumlah gelas jus yang harus disediakan untuk jus yang ada dalam satu teko untuk jumlah orang yang ada. Tambahkan informasi tambahan dalam masalah ini untuk memberikan kesempatan pada anak dalam mencari dan menemukan jawaban yang tepat. .Ajarkan Anak Keterampilan Matematika Lebih Lanjut di Dapur
Buku resep masakan memberi peluang besar kepada anak untuk mengukur benda padat dan cair. Anak-anak juga dapat melihat dan belajar bahwa tiga sendok teh setara dengan satu sendok makan dan konversi lainnya. Lihatlah ukuran seperti gram,ons, liter, galon dan amati bagaimana mereka berhubungan dengan mililiter, desiliter dsbnya dapat dilakukan dalam bahasa Inggris, sambil anak belajar kosa kata bahasa Inggris untuk unit metrik pengukuran. Orang dewasa juga perlu memoles pengetahuan tentang konversi dan bisa belajar grafik konversi sederhana secara online di internet atau membaca buku-buku Matematika atau membuka website yang memberikan cara-cara bermain dengan Matematika dsb nya...
Fraksi atau konversi berat secara alami ditemukan dalam banyak resep makanan atau pembuatan kue. Anak-anak dapat membandingkan pecahan dan menggabungkan rasio ketika mengukur dalam cangkir atau sendok teh/makan atau menimbang bahan-bahan yang akan digunakan mengikuti resep kue yang mau dibuat.. Potong pizza atau kue yang sudah masak ke dalam bagian yang sama dan kemudian membagi masing-masing dalam setengah untuk menemukan mana fraksi yang sama dengan yang lain.
Gunakan spidol atau krayon dan kertas, atau cara-cara kreatif lainnya untuk membuat grafik pelajaran Matematika, bermain dengan angka di dapur. Sebagai contoh, anak-anak mungkin dapat membuat grafik dari jumlah dan jenis potongan buah yang dimakan oleh setiap anggota keluarga dengan menggunakan laptop dan dengan bantuan pembuat grafik online gratis.misalnya
Selain itu di dapur anak-anak juga dapat mempelajari lebih lanjut tentang mata uang.. Mendirikan sebuah "toko"misalnya dimana anak-anak usia dini dapat membeli dan menjual barang-barang kalengan dengan uang mainan.Mereka bisa bermain peran penjual dan pembeli di toko tsb. Anak-anak yang lebih tua dapat dibantu dalam membuat anggaran belanja sehari-hari, juga tentang nilai uang saat mengajarkan anak memberi uang tip kepada pelayan misalnya dan cara untuk menghemat uang saat berbelanja. Melalui internet online gratis, anak dapt mencari informasi tentang mata-mata uang asing yang dikonversi ke dalam Rupiah. Dengan begitu anak belajar memperluas pengetahuan mereka dengan mengenal cara mengkonversi mata uang asing ke dalam Rupiah.
Bantuan Apa Saja yang didapat Anak untuk Mengasah Keterampilan Matematika di Dapur?
Banyak orang tua dan pendidik di Sekolah terus tertantang untuk menyediakan waktu dalam membantu anak-anak mereka menguasai konsep Matematika dengan baik. Disini kemampuan mendidik orangtua dan para guru di Sekolah dituntut di tengah-tengah kesibukan kerja dan banyaknya tekanan di rumah, maupun di tempat kerja..Kesabaran yang tinggi diperlukan untuk mengajarkan anak konsep Matematika dasar. Melibatkan anak-anak dalam menyiapkan makanan di dapur misalnya dapat menaikkan rasa percaya diri anak terhadap kemampuan Matematika dan membentuk anak untuk menjadi lebih mandiri saat belajar, walaupun pembelajaran itu dilakukan di dapur..Anak akan menyadari bahwa belajar Matematika itu bisa dilakukan di mana saja, juga di dapur dan sangat menyenangkan. Pada waktu anak-anak melatih kemampuan Matematika mereka dengan menggunakan benda-benda sekitar yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, mereka baru menyadari dan mulai dapat memahami konsep angka, pengukuran,konversi dsbnya dengan lebih mudah dan lebih mendalam, karena menggunakan cara dan benda-benda yang lebih konkret. Darisini anak-anak nantinya dapat bergerak maju dan pindah ke arah belajar Matematika di tempat lain yaitu di Sekolah yang merupakan bagian penting dari kehidupan mereka, yang tidak hanya di sekitar dapur.
Pengajaran keterampilan Matematika di dapur secara otomatis akan mengarah ke peluang mengajar hal lainnya, seperti mengenalkan konsep warna, bentuk, kosa kata, tentang gizi dan makanan 4 sehat 5 sempurna, dan masih banyak lagi. Marilah kita gunakan dapur kita untuk tempat mengajarkan anak banyak hal, karena pada prinsipnya semua anak senang membantu ibu nya di dapur. (Jakarta, 10 Oktober 2011) |
|
Last Updated ( Tuesday, 11 October 2011 )
|
|
| | << Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>
| | Results 5 - 8 of 120 | |