Who's Online

We have 21 guests online

Login Form






Lost Password?

Events Calendar

January 2012 February 2012 March 2012
Su Mo Tu We Th Fr Sa
Week 5 1 2 3 4
Week 6 5 6 7 8 9 10 11
Week 7 12 13 14 15 16 17 18
Week 8 19 20 21 22 23 24 25
Week 9 26 27 28 29

Latest Events

There are no upcoming events currently scheduled.
View Full Calendar

Polls

Bagaimana pendapat Anda tentang Pestalozzi ?
 
Bagaimana menurut Anda isi web Pestalozzi?
 

Home
Mengapa Austisme Sering Dialami Anak Laki-Laki????
Saturday, 19 February 2011

SHUTTERSTOCK

Studi-studi terbaru mulai menguak misteri mengapa autisme empat kali lebih sering dialami anak laki-laki dibanding anak perempuan.

Penelitian menunjukkan bahwa hormon testosteron dan estrogen memiliki efek bertolak belakang pada gen yang disebut RORA. Pada sel saraf, testosteron akan menurunkan kemampuan sel untuk berekspresi atau menghidupkan gen RORA. Sebaliknya, estrogen akan menaikkan kemampuan sel.

"Autisme sangat dipengaruhi oleh jenis kelamin. Dari penelitian diketahui tingginya kadar testosteron pada janin beresiko tinggi menyebabkan anak autisme," kata ketua peneliti Valerie Hu, pakar biokimia dan biologi molekuler dari Universitas George Washington.

Normalnya, tugas RORA di dalam sel adalah menghidupkan gen lain. Ketika sel memiliki kadar testosteron yang tinggi, kadar RORA akan menurun sehingga memengaruhi setiap gen yang seharusnya dihidupkan oleh RORA. Pengetahuan ini didapatkan dari riset pada sel saraf yang ditumbuhkan di laboratorium.

Penelitian memang tidak menunjukkan bahwa level RORA yang rendah akan menyebabkan autisme selain kaitan antara kondisi tersebut.

Beberapa penelitian telah menunjukkan defisiensi RORA bisa menjelaskan berbagai aspek yang terlihat pada anak autisme. Misalnya saja gen itu seharusnya melindungi sel saraf dari dampak stres dan inflamasi. Stres dan inflamasi biasa ditemui pada otak anak yang autisme.

Riset juga menunjukan jaringan otak anak yang autis mengandung RORA lebih sedikit dibanding anak yang sehat. RORA juga dipercaya membantu ritme sirkadian tubuh. Itu sebabnya anak yang autis sering mengalami gangguan tidur.

Berbeda dengan testosteron, estrogen akan meningkatkan kadar RORA di dalam sel. "Ini berarti janin perempuan akan terlindung dari autisme," kata Hu.

Memang RORA bukan gen tunggal yang terlibat dalam kejadian autisme, namun menurut Hu peranan RORA sangat penting.

Sumber : LiveScience
Last Updated ( Saturday, 19 February 2011 )
 
Bahayanya Overstimulasi pada Anak
Wednesday, 16 February 2011

Tiap anak memiliki kesiapan berbeda untuk belajar sesuatu.


Overstimulasi adalah bila anak belum bisa merespons karena kemampuannya memang masih terbatas, tapi terus dijejali rangsangan. Misalnya, bayi belum mampu meraih benda di hadapannya, tapi terus saja dilatih bahkan dipaksa.

Tiap anak memiliki kesiapan berbeda untuk belajar sesuatu. Misalnya, umur 3 bulan bisa tengkurap, umur 4-5 bulan mulai memasukkan benda ke mulut, dan seterusnya. Orangtua sebaiknya memberi stimulasi sesuai tahapan perkembangan anak. Orangtua harus peka terhadap kesiapan anak untuk menerima rangsang. Amati, bagaimana respons dan minat si kecil.

Selain kemampuan dan tahap perkembangan yang tidak persis sama, kenali pula minat dan reaksi si kecil terhadap stimulasi yang diberikan. Ada yang terlihat berminat, ada juga yang tidak. Ada yang minatnya luas, namun ada pula yang terbatas.

Anak yang mendapat stimulasi berlebih akan menjadi anak sulit atau tak kooperatif, misalnya sering membangkang. Yang jelas, overstimulasi tak baik bagi anak usia berapa pun karena akan memengaruhi sejumlah aspek dalam perkembangan anak. Berikut adalah penjelasannya.

* Motorik. Misal, anak belum mampu berjalan tapi sudah dipaksa berdiri atau dititah. Akibatnya, struktur kaki anak bisa terganggu. Begitu pula anak yang belum waktunya duduk tapi dipaksa, dikhawatirkan tulang punggungnya jadi terganggu strukturnya.

* Bahasa. Memberi stimulus bahasa dengan mengajak si kecil bicara, menyanyi, bersenandung, jelas penting dilakukan. Bila anak merespons positif lewat senyum, mengoceh, berarti stimulasi itu pas baginya. Respons seperti itu merupakan pertanda ia siap menerima rangsang. Sebaliknya, kalau ia terlihat acuh tak acuh, sebaiknya hentikan dulu. Cari tahu juga penyebabnya, apakah karena sakit, mengantuk, atau sebab lain.

* Sosial. Stimulasi berlebih bisa membuat anak merasa tak nyaman dan tak aman. Berarti, aspek sosialnya terganggu. Efeknya muncul secara tak langsung, anak jadi mudah marah, sulit bergaul dengan teman sebaya, atau perlu banyak waktu untuk beradaptasi. Memberi stimulasi  berlebih di antaranya memaksakan anak yang ogah bersalaman dengan orang yang baru dikenalnya dengan harapan agar anak berani. Maka, lakukan tahap demi tahap. Kalau anak masih tampak cemas, sebaiknya dicoba lain kali, dan jangan pernah dipaksa.

(Tabloid Nakita,20 Oktober 2010)




Editor: Dini
Last Updated ( Wednesday, 16 February 2011 )
 
Hati-Hati Pilih Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini
Wednesday, 16 February 2011

Carilah lembaga pendidikan anak usia dini yang paling tepat.

Selama 7 tahun di Indonesia, Prof. Sandralyn Byrnes mengamati permasalahan pendidikan anak usia dini di Indonesia. Dari penelitian yang ia lakukan, dan menilai berdasarkan pengetahuannya sebagai profesor dan pengalaman sebagai guru anak-anak usia dini, ia menilai bahwa ada beberapa hal yang mengganjal pada pendidikan anak usia dini di Indonesia.

Saat ini, Profesor Sandralyn Byrnes bekerja sebagai kepala sekolah Royal Tots Academy, Kuningan, Jakarta. Dalam seminar kecil bertajuk "What's Wrong with The Early Childhood Education in Indonesia?", yang digelar saat event Giggle Playgroup Day 2011, gelaran Miniapolis & Giggle Management, Jumat, 11 Februari 2011, Sandralyn mengungkap beberapa hal tentang PAUD di Indonesia. Pertama, saat ini di Indonesia belum ada standar universal mengenai batasan bagi anak-anak yang disepakati bersama. Kedua, bahwa tenaga pengajar di kebanyakan lembaga PAUD masih butuh pendidikan yang terus di-update, dan butuh kerjasama antara lembaga terkait pendidikan anak usia dini untuk menyamaratakan, serta butuh kerjsama dari orangtua murid untuk membantu optimalisasi pendidikan anak.

Selama 7 tahun meriset dan mencari tahu mengenai proses pendidikan anak usia dini di Indonesia, Byrnes menemukan beberapa hal yang mengganjal. "Pada umumnya, kita semua tahu bahwa pendidikan anak usia dini itu penting, karena di usia inilah terjadi proses pembentukan pendidikan yang paling penting. Di usia inilah anak-anak harus membentuk kesiapan dirinya menghadapi masa sekolah. Investasi terbaik yang bisa Anda berikan untuk anak-anak adalah persiapan pendidikan mereka di usia dini. Hasil investasi ini akan dilihat di masa depan, selepas mereka dari sekolah. Kalau Anda salah pilih sekolah untuk anak usia dini, akan ada konsekuensi di masa depan anak," terang Byrnes yang mendapatkan titel Australia's and International of The Year ini.

Byrnes mengungkap kembali bahwa saat ini pendidikan anak usia dini di Indonesia belum merata, bahkan sertifikasinya pun tidak menjadi jaminan. "Jika Anda mau pendidikan yang terbaik untuk anak-anak, maka pencarian sekolah pendidikan anak usia dini menjadi pekerjaan rumah terpenting para orangtua. Cari dengan hati-hati, jangan tergesa-gesa," sarannya.

Perlu diketahui lagi, ungkap Byrnes, pendidikan anak usia dini di Indonesia tidak sama, karena tidak disubsidi pemerintah seperti kebanyakan negara lain. "Karena itu, lihatlah uang sekolah untuk anak di usia dini sebagai investasi. Ketahuilah bahwa proses pendidikan anak tidak dimulai dari sekolah dasar, tetapi dari anak usia 18 bulan," ungkap Byrnes

Dari hasil pengamatan Byrnes di Indonesia, ada banyak sekolah anak usia dini yang berembel-embel internasional dan franchise. Hanya segelintir yang mempertahankan kualitasnya, sisanya, tidak menjaga kualitasnya, termasuk tidak menjaga kualitas tenaga pengajarnya.

Sekolah harus menjaga kualitasnya, metodologinya harus di-update, perkembangan keprofesionalitasannya harus dipertahankan, perkembangan pengetahuan seputar pengajaran anak juga harus selalu ditingkatkan, ungkap Byrnes kepada Kompas Female usai seminar kecil tersebut.

Lalu, bagaimana cara memilih sekolah untuk anak usia dini yang terbaik? Byrnes menyarankan:


- Cek kurikulumnya. Ketahui apa saja yang akan diajarkan dan bagaimana cara pengajarannya.


- Bicara dengan gurunya. Lihat apakah ada gairah dari para guru untuk mengajar kepada anak-anaknya. Jika mereka hanya melakukan pekerjaan, percuma. Anak tak akan diperhatikan kebutuhannya, karena kebutuhan setiap anak itu berbeda. Tanyakan pula mengenai cara menghadapi anak, ungkap masalah anak Anda, dan perhatikan jawaban si guru. Guru yang  baik seharusnya tahu mengenai cara menghadapi anak-anak dengan berbagai kebutuhan.


- Bicara pula dengan kepala sekolahnya. "Seorang kepala sekolah harus tahu dan paham mengenai pendidikan anak usia dini. Jika Anda tahu orang yang memimpin mengerti tugasnya, Anda akan tenang dan yakin bahwa sekolah si anak berjalan ke arah yang benar," ujar Byrnes.


- Perhatikan pula lokasi belajarnya. Anak-anak masih belum paham benar apa yang aman dan tidak aman baginya. Pastikan lokasinya aman, tidak banyak benda-benda berbahaya bagi anak, serta bersih.


- Kunjungi sekolah di jam belajar. Lihat bagaimana anak-anak berinteraksi dengan sekelilingnya. Apakah ada senyum di sana? Apakah anak-anak di sana terlihat bahagia? "Kalau anak-anak usia dini itu tidak tertawa atau tersenyum, bisa dibilang ada yang tidak beres di sana," ungkap Byrnes. "Menurut saya, anak-anak juga harus bisa mendapat pelajaran di luar kelas. Mereka harus berinteraksi dengan alam untuk melatih motorik mereka," tambahnya.


- Nilai-nilai lain pun sebaiknya diajarkan di usia ini untuk masa depannya, seperti cara bersosialisasi, sikap sopan, dan sifat karakteristik yang baik.


- Perhatikan pula program yang dijalankan. "Seharusnya ada segitiga kerjasama tak terputus antara guru, sekolah, dan orangtua. Ketiganya harus bekerja dengan baik. Harus ada program lain, keterlibatan orangtua-anak di sekolah tak hanya sebatas antar-jemput sekolah."

Satu hal yang dipesankan Byrnes, jangan pernah menyerahkan pemilihan sekolah anak usia dini kepada si anak. "Anak-anak belum mengerti apa yang harus diperhatikan. Saya sering sekali melihat orangtua menanyakan kepada anak, 'Bagaimana sekolahnya? Kamu mau sekolah di mana?' Itu bukan cara yang tepat untuk memilih lembaga pendidikan anak usia dini. Orangtualah yang bertanggung jawab dan bertugas memilih sekolah yang terbaik untuk anak," tutup Byrnes. (Kompas.com/Sabtu 12 Feb 2011)


NAD

Editor: Nadia Felicia
Last Updated ( Wednesday, 16 February 2011 )
 
<< Start < Prev 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Next > End >>

Results 53 - 56 of 120

© 2012 Pestalozzi Indonesia

TBN - TIDYA Businesses Network