Who's Online

We have 21 guests online

Login Form






Lost Password?

Events Calendar

January 2012 February 2012 March 2012
Su Mo Tu We Th Fr Sa
Week 5 1 2 3 4
Week 6 5 6 7 8 9 10 11
Week 7 12 13 14 15 16 17 18
Week 8 19 20 21 22 23 24 25
Week 9 26 27 28 29

Latest Events

There are no upcoming events currently scheduled.
View Full Calendar

Polls

Bagaimana pendapat Anda tentang Pestalozzi ?
 
Bagaimana menurut Anda isi web Pestalozzi?
 

Home
Seni Bagi Anak Usia Dini: Hubungannya dengan Kurikulum
Monday, 10 October 2011

Oleh  Jill Englebright Fox, Ph.D., dan Stacey Berry, M.Ed.

Diterjemahkan dari  judul arikel: “ Art in Early Childhood: Curriculum Connections"

Oleh DR.D.Pane,MA (TK Pestalozzi,Cibubur,Jakarta Timur)

Senin,10 Oktober 2011

Seni tradisional telah menjadi bagian penting dari program anak usia dini. Friedrich Froebel yang berasal dari Jerman dan dikenal sebagai Bapak Taman Kanak-Kanak (TK)  percaya bahwa anak-anak usia dini harus terlibat dalam dua hal yaitu  membuat karya  seni mereka sendiri dan menikmati hasil karya seni anak/orang lain. Untuk Froebel, kegiatan seni yang penting adalah bukan karena melalui seni para  guru dianjurkan untuk mengenalkan anak-anak dengan kemampuan seni mereka, melainkan juga dengan  membuat karya seni sendiri akan mendorong "pengembangan anak sepenuhnya dan pada semua-sisi" (Froebel, 1826). Lebih dari satu abad kemudian, para guru anak usia dini masih saja khawatir dengan pengembangan "semua sisi" dari setiap anak menurut teori Froebel.

Sudah seharusnya kurikulum PAUD  mencakup kegiatan yang akan membantu anak-anak mengembangkan kognitif (daya pikir), sosial, dan kemampuan motorik (halus/kasar). Seperti diakui Froebel, membuat karya seni sendiri dan menikmati karya seni orang lain adalah budaya yang sangat penting untuk perkembangan anak secara keseluruhan. Tujuan artikel ini adalah untuk membahas pentingnya belajar seni dalam menstimulasi anak dan bagi  pembangunan karakter anak. Hal ini harus digambarkan dalam bentuk elemen-elemen dari program seni itu sendiri yang diintegrasikan  dalam kurikulum anak usia dini sesuai dengan tahapan perkembangannya.

Seni dan Pengembangan Sosial-Emosional

Anak-anak usia dini akan  merasakan kepuasan emosional pada waktu  mereka dilibatkan dalam pembuatan karya seni, apakah itu dalam bentuk pemodelan dengan tanah liat, menggambar dengan krayon, atau membuat kolase indah dari sisa daur ulang. Kepuasan anak-anak  ini datangnya dari rasa  memiliki kontrol atas bahan-bahan yang mereka gunakan dan otonomi yang mereka miliki dalam keputusan yang mereka buat (Schirrmacher, 1998; Seefeldt, 1993). Memutuskan karya seni apa yang mereka akan buat dan apa yang mereka akan gunakan sebagai bahan-bahannya menjadikan  anak-anak mandiri dan mendapatkan kesempatan pertama untuk  memilih dan  mengambil keputusan sendiri.

Membuat karya seni juga menuntun anak-anak sejak usia dini untuk  membangun harga diri dengan memberikan mereka kesempatan untuk mengekspresikan apa yang mereka pikirkan dan rasakan (Klein, 1991; Sautter, 1994). Selain itu Sautter (1994) menambahkan bahwa ketika anak-anak berpartisipasi dalam kegiatan seni dengan teman sekelas, umpan balik yang mereka berikan satu sama lain akan membangun harga diri anak anak dengan membantu mereka belajar menerima kritik dan pujian dari orang lain. Kegiatan kelompok kecil seni juga membantu anak-anak berlatih keterampilan dan kemampuan bersosialisasi yang sangat penting seperti bergiliran, berbagi, dan negosiasi untuk menentukan bahan apa yang akan digunakan.

.Seni dan Pengembangan Kognitif (Daya Pikir)

Untuk anak usia dini, membuat satu karya seni adalah merupakan kegiatan eksplorasi sensorik. Mereka merasakan bagaimana krayon bergerak diatas kertas,mencampur dua warna menjadi satu warna baru dan melihat gumpalan cat berwarna tsb bisa berubah menjadi lebih besar. Kamii dan DeVries (1993) menyarankan bahwa bahan yang digunakan untuk mengeksplorasi sangat penting karena melalui eksplorasi itulah  anak-anak membangun pengetahuan tentang benda-benda di sekitar mereka.Kegiatan ini berpusat pada sekitar pembuatan karya seni  yang juga membantu anak-anak sejak usia dini untuk membuat keputusan sendiri dan melakukan evaluasi diri. Klein (1991) menggambarkan empat keputusan yang membuat anak berkegiatan seperti seorang seniman. Pertama, mereka harus memutuskan apa yang akan mereka gambarkan dalam karya seni mereka- apakah itu orang, pohon, naga dll. Kedua, mereka memilih media yang akan digunakan, susunan objek dalam pekerjaan mereka, dan perspektif  yang akan diambil oleh penikmat seni itu sendiri. Anak-anak memutuskan berikutnya seberapa cepat atau seberapa lambat mereka akan menyelesaikan proyek mereka, dan akhirnya, bagaimana mereka akan mengevaluasi penciptaan karya seni mereka itu. Paling sering, anak-anak mengevaluasi karya seni mereka dengan memikirkan apa yang mereka sukai dan biasanya yang dikatakan orang lain  kepada mereka adalah  hal yang menyenangkan. (Feeney & Moravcik, 1987).

Sebagai anak-anak yang tumbuh dan berkembang, seni-membuat kegiatan mereka bergerak melampaui kegiatan biasanya dan dalam mengeksplorasi dengan indera mereka,penggunaan simbol-simbol mulai dilibatkan. Anak-anak mulai mencari simbol-simbol untuk mewakili benda-benda nyata, peristiwa yang dialami, dan ekspresi perasaan dalam karya seni mereka. Menggambar, khususnya, menjadi sebuah kegiatan yang memungkinkan mereka untuk melambangkan apa yang mereka ketahui dan rasakan. Ini adalah tempat yang diperlukan untuk anak-anak yang kosa kata, tertulis ataupun lisan, mungkin masih terbatas (de la Roche, 1996). Penggunaan awal simbol-simbol dalam karya seni anak sangat penting karena menyediakan dasar untuk mengekpresikan kemudian dalam kata-kata untuk melambangkan obyek dan tindakan dalam bentuk tulisan formal.

Seni dan  Pembangunan Motor

Pada waktu membuat karya seni, anak  sejak usia dini  juga mengembangkan kontrol dari kelompok otot besar dan kecil (Koster, 1997). Gerakan-gerakan tangan yang besar diperlukan untuk melukis atau menggambar di kanvas atau di atas kertas besar di lantai membangun koordinasi dan kekuatan. Gerakan yang lebih kecil dari jari, tangan, dan pergelangan tangan diperlukan untuk memotong dengan gunting, membuat model dari tanah liat, atau menggambar atau melukis pada permukaan yang lebih kecil mengembangkan keterampilan motorik halus dan daya kontrol. Dengan adanya peluang berkali-kali untuk mempraktekkannya, anak-anak  sejak usia dini mendapatkan kepercayaan diri dalam penggunaan alat untuk membuat karya seni dan nantinya untuk menulis, melatih motorik halusnya.

Membuat karya seni juga membantu anak mengembangkan koordinasi mata-tangannya (Koster, 1997). Pada waktu anak-anak memutuskan bagaimana cara membuat bagian-bagian yang  cocok untuk ditempatkan bersama-sama sebagai satu karya keseluruhan misalnya membentuk kolase, di mana untuk menempatkan benda-benda perlu ketelitian, dan rincian benda-benda apa saja  yang bagus untuk diikutsertakan dalam pembentukan kolase tsb dll. Dengan begitu anak  belajar untuk mengkoordinasikan apa yang mereka lihat dengan gerakan tangan dan jari mereka, agar terbentuk satu karya yang indah.Koordinasi mata-tangan ini adalah penting bagi anak untuk melakukan banyak kegiatan, termasuk dalam menulis huruf dan kata-kata atau membuat spasi dalam penulisan formal.

Seni Pengalaman di Kelas Bagi Anak  Usia Dini

Meskipun kegiatan seni membantu pengembangan anak-anak pada  banyak bidang, namun peran guru dalam hal ini sangat penting. Guru harus mengenali rasa seni yang ada dalam dirinya sendiri atau yang dimilikinya, sehingga bisa mencontohkan karya seni yang mempunyai nilai bagi murid-muridnya. Guru juga harus dapat mendorong pengembangan rasa estetika dalam diri anak-anak dan melibatkan mereka  dalam pengalaman kreatif yang harus menjadi tujuan dari program seni anak sejak usia dini.

Kegiatan yang melibatkan anak-anak dalam membuat dan menikmati seni penting jika program ini dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan seluruh anak. Tantangan bagi guru anak usia dini adalah untuk memberikan kegiatan ini dalam sebuah program seni yang sesuai dengan tahapan perkembangan usia anak dan yang dapat diintegrasikan dalam kurikulum secara keseluruhan. Program seni tersebut harus mencakup:

Penggunaan  reproduksi yang mengekspos karya seni kepada anak-anak
Kunjungan ke museum-museum lokal untuk memberikan kesempatan bagi anak untuk dapat mengapresiasi  seni

Penyediaan akses ke pusat  kelas seni dimana anak-anak  dapat memilih topik mereka sendiri dan media 

   yang akan digunakan

Penampilan karya seni/hasil kerja  anak-anak di sebuah galeri kelas


Melibatkan keluarga dalam program seni.

Untuk mengintegrasikan sebuah program seni ke dalam kurikulum sesuai dengan tahapan perkembangan anak, orang dewasa harus menyadari bahwa anak-anak mengekspresikan ide mereka melalui seni, sama seperti yang mereka lakukan dalam menulis. Guru yang kreatif  akan menemukan cara untuk mendukung pembelajaran anak-anak yang terintegrasi dalam kurikulum melalui kegiatan di mana anak-anak membuat karya seni dan menikmati karya seni orang  lain. Unsur-unsur berikut membentuk dasar dari program seni untuk diintegrasikan ke dalam kurikulum sesuai dengan tahapan perkembangan untuk anak usia dini.

Menggunakan Reproduksi  Hasil Karya Seni Masterpiece

Poster dan reproduksi karya seni yang lebih kecil dapat dibeli di museum seni yang terkenal atau melalui katalog milik sekolah/ guru. Reproduksi lebih murah dapat diperoleh dari kalender, alat tulis, majalah, dan surat kabar. Guru dapat menggunakan reproduksi dalam banyak cara untuk mendukung pembelajaran anak-anak di dalam kelas dan dalam mengikuti kurikulum.

Reproduksi hasil karya seni dapat digunakan pada tanda-tanda untuk menunjuk pusat pembelajaran atau sebagai bagian label kelas. Sebagai contoh, Yakub Builder Lawrence # 1 misalnya ditampilkan di pusat pertukangan, atau Gelembung Sabun Jean Simeon Chardin bisa digantung di atas meja air. Gambar reproduksi juga dapat digunakan untuk menunjukkan jenis kelamin di pintu toilet atau pada tempat, di mana anak-anak berbaris untuk pergi ke luar. Reproduksi juga dapat digunakan di papan buletin untuk menemani menampilkan unit terkait dengan satu tematik tertentu. Karya Piet Mondrian  misalnya dapat digunakan untuk menggambarkan fokus pada warna-warna primer atau bentuk, contoh lainnya reproduksi karya seni  Claude Monet bisa menemani sebuah unit kelas menggambarkan suasana pada musim semi, sedangkan karya-karya Maurice Utrillo bisa dibawa serta dalam melakukan studi masyarakat. Baik dalam pusat-pusat belajar atau tempat-tempat diskusi kelompok, karya seni tidak akan menggantikan penggunaan benda nyata atau foto sebagai alat bantu visual, tapi akan memberikan satu cara lain kepada anak-anak  untuk melihat dan berpikir tentang konsep yang sedang mereka pelajari. Gambar reproduksi pelukis atau pematung terkenal misalnya dapat  membantu anak-anak untuk membuat satu hubungan "antara realitas dan interpretasi seni seseorang (Dighe, Calomiris, & Van Zutphen, 1998, h. 5).

Perjalanan ke  Museum

Mengajak anak-anak ke sebuah Museum seni dapat menjadi satu pengalaman yang menantang untuk orang dewasa. Sebenarnya Museum dirancang untuk orang dewasa yang terlibat dalam merefleksikan sesuatu benda seni, bukan untuk anak-anak yang aktif yang ingin mengekspresikan diri. Namun  Museum baik untuk anak usia dini untuk mengenal karya seni orang lain dan mengapresiasinya. Dengan sedikit persiapan kenjungan ke Museum bias dilakukan dan dapat dijadikan pengalaman yang menyenangkan bagi semua, orang dewasa maupun anak-anak.Banyak Museum menjadwalkan waktu khusus bagi wisata anak-anak dan kunjungan keluarga. Selama masa ini, staf Museum dan pengunjung lainnya mengharapkan anak-anak untuk mengunjungi, dan mengadakan wisata khusus dan biasanya akan tersedia pemandu dari pihak Museum. Jika anak-anak  akan berpartisipasi dalam tur yang direncanakan khusus untuk mereka, adalah penting bagi guru untuk memilih beberapa benda seni yang menjadi fokus perhatian selama kunjungan. Reproduksi karya seni/Artwork yang  dilakukan oleh seniman dan dipamerkan di Musium dapat  ditampilkan dalam kelas atau objek yang berkaitan dengan satu unit  yang menggambarkan satu tematik tertentu akan sangat menarik bagi anak-anak bila diterangkan terlebih dahulu. Mereka akan memiliki konteks untuk dipikirkan dan nantinya mereka juga akan membahas apa yang mereka lihat. Karena rentang perhatian/konsentrasi anak-anak adalah singkat, maka dianjurkan kunjungan ke  Museum seharusnya tidak panjang. Tiga puluh menit mungkin cukup lama untuk anak-anak untuk melihat potongan-potongan yang sudah dipilih sebelumnya oleh guru tanpa merasa lelah atau frustrasi dalam pengaturan nantinya di Museum. Bila ada pameran karya senidari para seniman  lainnya di ruang lain bisa ditunda untuk   kunjungan  berikutnya di masa depan,agar anak-anak tidak terlalu lelah..

Pusat Seni / Art Center

Pusat seni/Art Center  harus dimiliki sekolah,agar anak mendapatkan kesempatan melakukan kegiatan seni secara terpusat di satu tempat.. Guru mungkin dapat menyarankan sebuah tema untuk karya seni anak,namun diminta untuk tidak memberikan arahan  maupun  bantuan terlalu banyak  yang mengganggu proses kreatif anak. Seperti orang dewasa , anak-anak yang tidak dapat  mengikuti arahan guru  juga akan frustasi, karena pada umumnya anak-anak tidak memiliki motorik halus memadai dan keterampilan persepsi visual yang cukup untuk meniru upaya orang dewasa. Sebaliknya, guru dapat mendorong anak untuk merancang dan menyelesaikan proyek-proyek mereka sendiri dengan menekankan bahwa tema yang sama dapat diulang berkali-kali, karena anak-anak senang mengeksplorasi ide-ide dan keterampilan praktek. Terbuka kesempatan buat anak untuk memilih  bahan yang akan digunakan seperti cat, krayon, spidol, gunting, lem, tanah liat dll.Selain itu adanya  dukungan berbagai macam kertas tebal, tipis, berwarna dsb untuk  kegiatan yang berpusat pada anak. Meskipun memiliki banyak pilihan anak-anak dibiasakan untuk  membuat pilihan dari dua atau tiga pilihan yang ada , karena ini merupakan cara terbaik bagi anak-anak untuk mempraktekkan pengambilan keputusan. Lowenfeld dan Brittain (1975) juga "mengingatkan" para guru untuk tidak mengubah bahan atau memperkenalkan bahan baru ke pusat seni /Art Centre tsb terlalu sering. Anak-anak memerlukan waktu untuk melatih dan mengembangkan keterampilan dengan bahan yang ada sebelumnya, jika mereka menggunakannya untuk mengekspresikan ide dan perasaan mereka.

Akhirnya, perlu dicatat disini bahwa proses kreatif membutuhkan waktu. Meskipun beberapa anak akan menyelesaikan karya mereka dalam waktu singkat, anak / orang lain akan membutuhkan jangka waktu lebih lama untuk merancang dan membuat proyek-proyek mereka. Desain dari pusat seni /art center dan jadwal kelas harus mendorong anak-anak untuk kembali ke proyek mereka dan bekerja sampai mereka memutuskan kapan proyek itu harus selesai (Edwards & Nabors, 1993).

Menampilkan Seni Anak di Galeri Kelas

Sebuah galeri seni anak-anak di  kelas  sangat dibutuhkan sebagai tempat untuk  memajang karya seni anak dan menunjukkan hasil  pekerjaan  anak-anak itu sendiri yang bisa dinikmati  pengunjung kelas. Sebuah papan buletin besar atau ruang dinding menyediakan latar bagi galeri. Anak-anak harus mengambil tanggung jawab untuk pemasangan hasil karya  mereka dan memilih penempatannya dalam galeri. Label, termasuk judul untuk nama, karya seniman, menengah, dan tahun penciptaan, dapat ditentukan dan akan memberikan pengalaman yang bermakna bila ditulis dengan huruf cetak. Anak-anak juga dapat berfungsi sebagai kurator dan sekaligus dosen seni atau pemandu yang akan  memberikan tur dalam galeri tsb untuk para pengunjung.

Melibatkan Keluarga dalam Program Seni

Membuat keluarga juga  terlibat dalam kehidupan berkesenian di kelas adalah merupakan tanggung jawab penting bagi guru anak usia dini. Berbagi dengan keluarga tentang peran seni dalam kurikulum dan kegiatan di mana anak-anak mereka berpartisipasi akan mendorong dukungan mereka terhadap program dan pembelajaran seni anak-anak mereka tsb.

Keterlibatan keluarga dapat didorong melalui beberapa cara. Mengundang keluarga untuk berpartisipasi dalam kunjungan lapangan ke Museum dan kegiatan seni di kelas dengan  memberikan kesempatan untuk berbagi pengalaman dan mengadakan diskusi antara anak dan orang tua mereka.

Guru mungkin juga dapat menyarankan proyek-proyek seni untuk dilakukan anak-anak dan orang tua mereka di rumah dalam rangka  berpartisipasi dengan  mengerjakan proyek itu bersama-sama. Proyek-proyek ini harus selalu sifatnya opsional dan guru harus menyediakan bahan-bahan khusus yang mungkin diperlukan dalam sebuah paket yang mencakup penjelasan dan petunjuk untuk proyek tersebut. Merek (1996) menyarankan menghubungkan proyek-proyek seni dengan satu tema buku tertentu sebagai cara untuk mendorong orang tua dengan tingkat keterampilan yang berbeda agar  merasa nyaman dalam bekerja dengan anak-anak mereka di rumah nantinya. Sebagai contoh, setelah membaca Picture Lucy (1995) oleh Nicola Moon misalnya, anak-anak dan orang tua mungkin  dapat bekerja sama untuk menciptakan sebuah kolase yang menggambarkan partisipasi mereka dalam melaksanakn kegiatan yang mereka inginkan unuk dikerjakan dalam  kelompok dengan menggunakan  bahan-bahan yang dapat ditemukan di rumah dan / atau disediakan oleh guru.

Selain itu "Ransel Seniman '" untuk digunakan anak-anak di rumah adalah cara lain untuk melibatkan keluarga dalam kegiatan seni di  kelas. Empat sampai lima ransel, masing-masing menampilkan satu media seperti cat dan tanah liat kertas atau pemodelan, dapat tersedia bagi anak-anak untuk mereka periksa dan berbagi dengan keluarga mereka. Meskipun tujuan umum dari ransel harus dibagi dengan orang tua, petunjuk spesifik untuk setiap ransel tidak perlu disediakan. Tujuan dari ransel adalah untuk mendorong penggunaan bahan kreatif yang sama di rumah seperti yang digunakan di kelas.

Kesimpulan

Melalui kegiatan seni yang dijelaskan dalam artikel ini, anak-anak sejak usia dini akan dapat mengembangkan kemampuan dan keterampilan yang mereka miliki dan diaplikasikan di banyak bagian  lain dari kurikulum. Yang paling penting adalah anak juga akan mengembangkan apresiasi seni bagi orang lain dan budayanya, dan menambah kepercayaan diri untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya sendiri melalui karya seni. Disini tidak ada maksud untuk menciptakan keajaiban individu pada diri anak-anak, namun mendorong  integrasi dan apreasi penikmat seni di kelas anak usia dini, yang nantinya  akan menghasilkan satu"perkembangan pada semua sisi" dari anak-anak yang ikut berpartisipasi.

-Jill Englebright Fox, Ph.D., adalah asisten profesor pendidikan anak usia dini di Virginia  

  Commonwealth University di Richmond, Virginia.

- Stacey Berry, M.Ed., adalah guru TK di Mary Munford Model Sekolah di Richmond, Virginia.

Referensi Bacaan

Brand, S. (1996). Making parent involvement a reality: Helping teachers develop partnerships with parents. Young Children, 51 (2), 76-81.

 

de la Roche, E. (1996). Snowflakes: Developing meaningful art experiences for young children. Young Children, 51(2), 82-83.

 

Dighe, J., Calomiris, Z., & Van Zutphen, C. (1998). Nurturing the language of art in children. YoungChildren, 53(1), 4-9.

 

Edwards, L.C., & Nabors, M.L. (1993). The creative arts process: What it is and what it is not. Dimensions, 48(3), 77-81.

 

Feeney, S., & Moravcik, E. (1987). A thing of beauty: Aesthetic development in young children. Young Children, 42(6), 7-15.

 

Froebel, F. (1974).The education of man (W.N. Hailmann, Trans.). Clifton, NJ: A.M. Kelley. (Original work published 1826.)

 

Kamii, C., & DeVries, R. (1993). Physical knowledge in preschool education. New York: Teachers College Press.

 

Klein, B. (1991). The hidden dimensions of art. In J.D. Quisenberry, E.A. Eddowes, & S.L. Robinson (Eds.). Readings from childhood education (pp. 84-89). Wheaton, MD: Association of Childhood Education International.

 

Koster, J.B. (1997).Growing artists: Teaching art to young children. Albany, NY: Delmar.

 

Lowenfeld, V., & Brittain, W.L. (1975). Creative and mental growth. New York: Macmillan.

 

Sautter, R.C. (1994). An arts education reform strategy. Phi Delta Kappan, 75(6), 433-440.

Last Updated ( Monday, 10 October 2011 )
 
'Shake Up''-Kurikulum Menggunakan Instrumen Musik Dengan Bermain Ritme!
Sunday, 09 October 2011
 
Ditulis oleh  Abigail Connors

Disadur ke dalam Bahasa Indonesia oleh

DR.D.Pane,MA (TK Pestalozzi, Cibubur-Jakarta Timur)

Sebagai seorang profesional anak usia dini, Anda menyadari kebutuhan yang tampaknya tak terpuaskan dari anak-anak untuk mengekspresikan diri dengan membuat kebisingan - membuat berbagai macam suara/bunyi!. Instrumen musik yang mengikuti nada dan ritme adalah satu  cara unik yang efektif  untuk belajar menghargai dan memenuhi kebutuhan ini,  anak-anak dibimbing oleh guru dengan lembut dan perlahan-lahan dalam   mengekspresikan diri mereka  dengan  bermain musik, mengeluarkan bunyi-bunyian..

Mengapa Musik?

Musik adalahsatu cara alami untuk
membentuk kreativitas anak dan mengekspresikan diri. Rasa sukacita akan dialami anak-anak dengan memperdengarkan  musik dalam kelompok untuk memperkenalkan cara bersosialisasi dan memiliki perasaan yang indah. Hal ini dapat membawa anak-anak pemalu dan biasanya tenang untuk keluar dari cangkangnya dan menunujukkan  kepribadian berbeda, yang lebih riuh. Musik dapat merangsang peserta didik lebih konsentrasi  dan membantu  perhatian anak untuk lebih fokus.  .Bagi kebanyakan anak  kita, bernyanyi adalah salah satu cara yang paling alami untuk mengekspresikan diri dalam bermusik. Namun, banyak anak tidak akan berpartisipasi dalam kegiatan menyanyi, baik karena pengaruh budaya (beberapa budaya tidak mendorong anak untuk senang bernyanyi) atau ciri kepribadian bawaan (seperti rasa malu).

 Bernyanyi merupakan satu kegiatan dalam konteks mempelajari sebuah lagu, yang melibatkan mendengarkan, mengingat kata-kata, memahami kata-kata, mengucapkan kata-kata, mengingat, dan menyanyikan sebuah lagu - dan mengkoordinasikan semua keterampilan ini dalam waktu yang sangat singkat. Ini cukup merupakan tantangan bagi kebanyakan anak-anak prasekolah.

 Sebaliknya,
membuat nada-nada atau ritme dengan kegiatan membunyikan instrumen begitu mudah! Bermain yang terdiri dari hanya meniru satu gerakan pada suatu waktu tertentu. Tidak ada yang menghafal, tetapi karena melibatkan gerakan tubuh dalam menjaga ketukan nada/beat dan mengikuti irama dengan perasaan, anak-anak akan sangat senang dan berpartisipasi secara penuh. Jangan lupa anak-anak suka meniru dan bermain irama dengan memakai instrumen!

Anda
sebagai Guru Pra-Sekolah harus  Memulainya:

Berikut adalah beberapa kegiatan yang mudah dan menyenangkan untuk memperkenalkan kelas Anda untuk bermain instrumen
mengikuti ritme bersama-sama:

 Ini Apakah Cara Kita Mainkan Tongkat kami (Tongkat Ritme)

(Nyanyikan dengan nada "Here We Go Round The Mulberry Bush")

 
 
          Ini adalah cara  tekan tongkat, tekan            / This the way to press your stick,

            tongkat , tekan tongkat,
                                   to press your stick,to press your stick

 
           Ini  cara  tekan tongkat , pada                         This the way to press your stick

            pagi
hari.                                                          Early in the morning
            (Tekan untuk mengalahkan tongkat sambil bernyanyi.)

 
Bait yang  lain:

Ini cara kita mengikis tongkat ...

(Mengikis tongkat mulus melawan tongkat
yang belum dimuluskan)

Ini adalah cara kita tekan
dengan lembut ... (tekan yang sangat lembut)

Ini adalah cara kita mengikis
dengan  lembut ...

Ini adalah cara kita tekan lantai ...

Ini adalah cara kita tekan sepatu kami ...

(Regangkan kaki di depan dan tekan pada jari kaki)

 
Bercerita tentang Hujan (Tongkat Ritme)

Mintalah anak-anak terus
pegang tongkat mereka, tapi jangan disentuh dulu. Katakanlah:

Suatu hari aku sedang duduk di depan rumahku. Saat itu sangat sepi. Tiba-tiba, saya mendengar beberapa tetesan hujan ringan pada atap rumahku. Tetesan hujan itu terdengar seperti ini : tik, tik..tik (tekan tongkat sangat ringan dan perlahan, dan anak-anak bergabung dalam kelompok kecil). Setelah beberapa saat hujan menjadi sedikit lebih deras dan bunyinya lebih keras di atap rumah..tik..tik..tik.. (tekan sedikit lebih keras dan lebih cepat) dan kemudian sedikit lebih keras lagi dan kemudian berubah menjadi hujan badai yang berisik! (Tekan sangat cepat untuk beberpa waktu) .Dan kemudian berhenti (Kemudian anak berbaring dan meletakkan tongkatnya di lantai). Ketika anak-anak telah memahami kegiatan ini dengan baik, biarkan mereka bergiliran memimpin permainan tongkat itu.

Ber
bagai  Cara Bermain Alat Musik Kocok(Shaker)

Masukan rekaman musik instrumental dengan irama yang tidak terlalu cepatl Mintalah anak-anak menirukan gerakan Anda pada waktu  Anda memainkan shaker (bias dibuat dari botol yang diisi batu-batu kerikil) dan memperdengarkan bunyi  dengan cara yang berbeda. Berikut adalah beberapa ide:

• Tekan
alat music pengocok/shaker  ke telapak tangan Anda yang lain

• Tahan botol terbalik dan kocok

• "Gosok"
alat musik pengocok/shaker tsb  di lantai

• Kocok tinggi di udara

• Gosokkan pengocok di lengan

• Tahan pengocok horizontal di kedua tangan dan
kemudian mengguncangnya

• Kocok "luar dan dalam" - terus lengan lurus ke depan, kemudian membawanya kembali

• Membuat lingkaran di udara dengan
alat shaker ini

• Kocok
mengarah  ke atas dan ke bawah

• Kocok
dari sisi satu  ke sisi lainnya

• Kocok botol
tsb di bagian  belakang Anda

• Gosok
alat music pengocok/shaker  pada perut Anda

• Dengan lembut
dan perlahan tekan alat pengocok/shaker itu  pada sepatu Anda

 
bisa juga sambil bernyanyi:

 

Keatas, ke bawah, goyangkan badan  2X                    / Up and down and shake, shake,shake 2X

Putarke  kanan dan putar ke kiri                                     Turn to the right and turn to the left

Putar keliling dan goyangkan badan                              Turn around and shake, shake , shake

Semakin Banyak Kita Goyang Bersama (Shaker)

Kegiatan ini membantu anak mempelajari berbagai cara untuk memutar
dan menggoyangkan badan denagn alat bantu shaker. Anak-anak harus duduk dalam sebuah lingkaran. Menyanyi untuk lagu "Semakin Banyak Kita bisa  Bersama":

            Semakin kita goyang bersama, bersama-sama,
    / The more we shake  togethe  

            bersama-sama,                                                       together
            Semakin kita bergoyang bersama,                          The more we shake together
            kita akan bahagia.                                                    The happier we will be

 

            Bagi teman-teman
mu adalah teman saya,               For your friends and my friends

            dan teman saya adalah teman-temanmu.                 And my friends are your friends
            Semakin sering kita goyang  bersama,                    The more we shake together
            kita akan bahagia.                                                     The happier we will be

Kocok  alat shaker tsb  sementara anak bergoyang gemulai  ke kiri dan ke  kanan. Sambil menunjuk "Untuk teman-temanmu ..." dengan alat musik  pengocok tsb (shaker) . Kemudian juga bermain shaker sambil berkata "Dan teman-teman saya ..." dengan menunjuk ke diri sendiri. Ulang baris berikut.

Bait 2. Semakin kita memutar bersama-sama ...

Gulung pengocok di lantai seperti
jarum berguling.

Bait 3. Semakin kita melompat bersama-sama ...

Tahan "
kepala " dari botol dan membuatnya "melompat" di lantai.

 
Bait  4. Semakin kita membersihkan kelas bersama-sama ...

Gulingkan alat music pengocok kea rah  luar dan dalam di lantai seperti penyedot debu.
Lihat apa
kah ide lain  dari anak-anak berdatangan pada waktu Anda mungkin  berjalan,
terbang, melompat, dan menari
 sambil memperdengarkan bunyi-bunyian dari alat shaker tsb!

Trik Sirkus

Trik Dengan  Menggunakan Lonceng  (Bells)

Saatnya bermain sirkus! Perdengarkan beberapa musik hidup. Berikan satu tema sirkus tradisional misalnya. Dengan tema papaun bila diikuti  musik , pasti akan tetap menarik.Mainkan ini dengan anak-anak.

Bisa juga dengan bermain sulap….Setiap anak memiliki satu kerincingan berbentuk gelang. Dengan tangan berdekatan, pelan-pelan  melempar lonceng dari satu tangan ke tangan lain dan kembali. Secara bertahap meningkatkan jarak antara tangan Anda. Jika Anda ingin mendapatkan sesuatu yang lain, coba melempar lonceng keatas secara perlahan, mungkin enam atau delapan inci tingginya ke udara  dan menangkapnya dengan tangan yang lain.

Pelat berputar. Ini adalah versi lonceng dari trik di mana mereka berputar piring di tongkat panjang. Spin gelang bel di jari
telunjuk  Anda. Setelah beberapa saat mencoba menggerakkan tangan Anda ke atas dan bawah sambil memutar lonceng di jari Anda. Coba pindah tangan Anda keluar dengan panjang lengan dan punggung sementara lonceng masih berputar.

 
Lonceng Tantangan. Permainan ini agak  sulit, tapi menyenangkan untuk dimainkan,  bahkan ketika Anda gagal melakukannya. Pasangkan strip panjang selotip agak lebar  di lantai yang merekat sebuah tali. Inilah bagian yang agak sulit: Pasang kerincingan berbentuk gelang diatas  kepala Anda dan mencoba untuk berjalan di sepanjang tali tanpa menjatuhkannya..Kemudian hal itu diikuti oleh anak dan pastikan setiap anak memiliki giliran.

Suka Bermain Blok Pasir 

Permainan ini dilakukan dengan mMenyanyikan lagu "Skip to My Lou":

            Blok pasir seperti melompat naik dan turun,

            Blok pasir seperti melompat naik dan turun,

            Blok pasir seperti melompat naik dan turun,

            Dan kemudian mereka ingin bertepuk tangan!

(Tahan blok tegak dan membuat mereka melompat pada lantai, pada bertepuk tangan, blok bertepuk keras)

Bait lain:

Blok pasir seperti untuk mengikis mengikis mengikis; (blok mengikis bersama-sama)

Blok Pasir ingin tekan tekan tekan ... (tekan sisi blok);

Blok pasir seperti memutar-mutar di sekitar ... (terus menangani blok merah dan berputar di udara).

 Kesimpulan

Musik adalah bagian penting dari kehidupan anak-anak, dan ketika mereka dapat membuat musik sendiri, itu sangat memuaskan bagi mereka.
Bermain dengan Ritme adalah kegiatan menggunakan instrumen music sederhana dengan cara yang mengagumkan untuk berbagi sukacita dan kegembiraan bermusik dengan anak-anak balita.

 

______________________________________________________________________________

Abigail Connors adalah seorang spesialis anak usia dini musik. Dia adalah penulis R
itme 101 Kegiatan untuk Anak –Anak  Menggunakan Instrumen, diterbitkan oleh Gryphon House, www.gryphonhouse.com.

Last Updated ( Monday, 10 October 2011 )
 
7 Kalimat untuk Menginspirasi Anak
Saturday, 08 October 2011

Christina Andhika Setyanti | Dini | Rabu, 5 Oktober 2011 | 11:31 WIB
pemilihan kalimat yang tepat untuk anak akan membuat anak tak salah tanggap terhadap perkataan orang tua

KOMPAS.com - Sebagai orang tua, sudah sepatutnya jika Anda selalu menginspirasi anak dengan berbagai kalimat pembangkit semangat. Namun, situasi hati yang sedang tak menentu kadang membuat kalimat yang keluar dari mulut kita justru membuatnya patah semangat.

"Berkomunikasi dengan anak-anak dengan efektif bisa sangat sulit, terkadang kata yang kita sampaikan artinya bisa berbeda ketika sampai di telinga mereka. Karena, anak-anak tidak bisa diharapkan untuk mampu mencerna kata-kata dan konteks kalimat dengan cara yang sama dengan orang dewasa," ungkap Vicki Panaccione, PhD, psikolog dan pendiri Better Parenting Institute di Melbourne.

Jika Anda ingin anak-anak bisa tumbuh menjadi yang terbaik, usahakan mengganti kata-kata yang Anda sampaikan dengan kata-kata yang membantu membangun karakter anak.

Kalimat Anda: "Kamu yang terbaik"
Yang didengar anak: "Tugasmu adalah membuat ibu senang"
Kalimat yang lebih baik: "Kamu harus bangga atas kerja kerasmu"

Tak ada salahnya memuji keberhasilan anak. Namun, jangan terlalu berlebihan. Pujian yang berlebihan dapat menjadi bumerang bagi orang tua dalam tumbuh-kembang anak. Anak-anak akan menjadi haus pujian, dan akhirnya mereka akan menjadi orang-orang yang selalu ingin dipuji. Selain itu, dengan pujian seperti "kamu hebat", "kamu cantik", "kamu pintar" secara tak langsung akan membuatnya berpikir bahwa Anda hanya mencintainya saat mereka terlihat hebat, dan pandai saja.

Sebuah penelitian yang dilakukan Carol Dweck, PhD, psikolog sosial dari Columbia University, menyatakan, anak-anak yang dipuji karena "berusaha keras" saat melakukan tes ternyata lebih mampu melakukan tugas yang sulit dibandingkan anak-anak yang dipuji karena "pintar".

"Memuji sifat anak dan membuat janji bahwa mereka akan sukses karena anak-anak punya sifat tersebut akan mengurangi nilai usaha, sehingga anak-anak menjadi takut menghadapi tantangan. Karena mereka pikir dengan punya sifat itu saja sudah cukup sehingga mereka akan berhenti ketika mereka sudah selangkah lebih maju dibanding teman lainnya," tukas Dweck.

Kalimat Anda: "Jaga cara bicaramu"
Yang didengar anak: "Ibu sudah mengajari kamu cara bicara"
Kalimat yang lebih baik: "Ibu senang kamu sudah bicara pada ibu. Tetapi, lain kali tolong jangan menggunakan kalimat itu lagi, karena bisa membuat orang tersinggung"

Memang mengkhawatirkan bila anak-anak sering meniru kalimat-kalimat makian yang didengarnya di televisi. Namun Anda bisa menegurnya dengan kalimat alternatif yang lebih baik, sehingga mereka pun menyadari kesalahannya. Ingatl juga bahwa pembicaraan tentang kalimat yang dianggap kurang sopan dan menyinggung perasaan ini sebaiknya dilakukan saat akhir pembicaraan.

Kalimat Anda: "Ibu tidak punya uang membelinya"
Yang didengar anak: "Uang adalah segalanya"
Kalimat yang lebih baik: "Di rumah, kita sudah punya semua barang di toko itu"

Bagi Anda, anak-anak pasti tak membutuhkan dua jenis mainan yang sama. Namun, berulang kali mengungkapkan bahwa Anda tidak punya uang adalah satu-satunya alasan bahwa mereka tidak bisa memiliki barang yang diinginkannya. Hal ini menciptakan kesan bahwa uang adalah sumber semua hal baik dalam hidup. "Pasti Anda ingin punya anak yang berkelimpahan sampai dewasa, bukan secara materi, tapi dalam arti bahwa apa yang Anda miliki membawa sukacita," ungkap Marcy Axness, PhD, seorang spesialis perkembangan anak.

Kalimat Anda: "Jangan takut, semua akan baik-baik saja"
Yang didengar anak: "Kamu terlalu berlebihan"
Kalimat yang lebih baik: "Ibu tahu apa yang kamu alami, ceritakan pada ibu"
 
Ketika seorang anak pulang dalam keadaan kesal karena diejek teman, atau gagal menjadi juara, maka hiburan dari Anda sangat diperlukannya. "Tapi anak-anak perlu belajar bagaimana mengekspresikan perasaannya, menghadapi dan menyelesaikannya. Jika tidak, mereka akan sulit menghadapi masalahnya," jelas Panaccione.

Di sisi lain, anak-anak tidak seharusnya selalu terpuruk pada perasaan sedihnya. Jika hal ini terjadi, lebih baik Anda memberikan dorongan yang mereka butuhkan agar mereka bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. "Orangtua biasanya lebih memilih memberikan kenyamanan dengan hanya mendengarkan daripada bicara. Jika Anda hanya terbiasa mendengarkan, maka anak akan selalu curhat ke Anda, namun tidak akan mendapat motivasi apapun," ungkap Mel Levine, MD, dokter anak dari University of North Carolina.

Kalimat Anda: "Jangan bicara pada orang asing"
Yang didengar anak: "Semua orang yang tidak kamu kenal pasti akan menyakiti kamu"
Kalimat yang lebih baik: "Jangan bicara pada orang yang membuat kamu tidak nyaman"

Kalimat ini sebenarnya menandakan kekhawatiran orangtua yang takut anaknya akan jadi korban penculikan. Namun fenomena sekarang ini menunjukkan, anak tak hanya menjadi korban penculikan dari orang asing saja, tapi justru menjadi korban penculikan oleh orang yang sudah dikenal baik. Inilah sebabnya mengapa lebih masuk akal untuk memberitahu anak untuk waspada terhadap siapapun, orang asing maupun kenalan yang membuat mereka merasa tidak nyaman.

Kalimat Anda: "Kamu harus berbagi"
Yang didengar anak: "Berikan mainanmu"
Kalimat yang lebih baik: "Adikmu mau bermain dengan mainanmu sebentar. Jangan khawatir, mainan itu tetap jadi milikmu, dan ia akan mengembalikannya"

Anda tidak akan memberikan kunci mobil Anda kepada tetangga Anda. Analogi inilah yang perlu disampaikan pada anak jika Anda meminta mereka untuk berbagi mainan. "Anak-anak masih sulit untuk membedakan dengan jelas antara objek mereka sendiri, dan yang bisa digunakan untuk berbagi. Jadi pada dasarnya Anda meminta mereka untuk memberikan bagian dari diri mereka sendiri," ungkap David Elkind, PhD, psikolog dan penulis buku The Hurried Child.

Salah satu cara agar anak percaya benda tersebut masih menjadi miliknya adalah dengan menuliskan nama pada benda yang akan dipinjamkan kepada orang lain. Dengan demikian ia tahu bahwa Anda tak memaksanya untuk memberikan mainannya kepada orang lain.

Kalimat Anda: "Kenapa kamu...." (melanggar jam malam, memukul adik, atau membuat keributan)
Yang didengar anak: "Kamu pengacau"
Kalimat yang lebih baik: "Menurut Ibu, kamu melanggar jam malam karena kamu tak mau segera pulang. Ibu bisa mengerti, tapi jangan diulangi ya, Nak!"

Orangtua terkadang terlalu banyak memberikan pertanyaan yang cenderung menghakimi anak, dan membuat anak mengakui perbuatannya. Padahal, Anda sebenarnya sudah tahu jawabannya. Hal ini akan membuat Anda terlihat seperti diktaktor. Orangtua memang perlu memberitahu anak ketika mereka berbuat salah. Namun, rasa malu yang terlalu sering dialami anak akan mematikan perasaan bersalahnya.

"Anak-anak tanpa hati nurani adalah anak yang tidak pernah mengembangkan kemampuan untuk merasakan apa yang dirasakan orang lain. Hal ini dapat menyebabkan mereka mencuri, berbohong, berkelahi, dan melakukan kekerasan," ungkap Axness. Lebih baik katakan bahwa Anda tahu apa yang mereka lakukan, kemudian jelaskan mengapa hal itu tak boleh dilakukan.



Sumber: Readers Digest
 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Results 9 - 12 of 120

© 2012 Pestalozzi Indonesia

TBN - TIDYA Businesses Network