|
Oleh Jill Englebright Fox, Ph.D., dan Stacey Berry, M.Ed. Diterjemahkan dari judul arikel: “ Art in Early Childhood: Curriculum Connections" Oleh DR.D.Pane,MA (TK Pestalozzi,Cibubur,Jakarta Timur) Senin,10 Oktober 2011 Seni tradisional telah menjadi bagian penting dari program anak usia dini. Friedrich Froebel yang berasal dari Jerman dan dikenal sebagai Bapak Taman Kanak-Kanak (TK) percaya bahwa anak-anak usia dini harus terlibat dalam dua hal yaitu membuat karya seni mereka sendiri dan menikmati hasil karya seni anak/orang lain. Untuk Froebel, kegiatan seni yang penting adalah bukan karena melalui seni para guru dianjurkan untuk mengenalkan anak-anak dengan kemampuan seni mereka, melainkan juga dengan membuat karya seni sendiri akan mendorong "pengembangan anak sepenuhnya dan pada semua-sisi" (Froebel, 1826). Lebih dari satu abad kemudian, para guru anak usia dini masih saja khawatir dengan pengembangan "semua sisi" dari setiap anak menurut teori Froebel. Sudah seharusnya kurikulum PAUD mencakup kegiatan yang akan membantu anak-anak mengembangkan kognitif (daya pikir), sosial, dan kemampuan motorik (halus/kasar). Seperti diakui Froebel, membuat karya seni sendiri dan menikmati karya seni orang lain adalah budaya yang sangat penting untuk perkembangan anak secara keseluruhan. Tujuan artikel ini adalah untuk membahas pentingnya belajar seni dalam menstimulasi anak dan bagi pembangunan karakter anak. Hal ini harus digambarkan dalam bentuk elemen-elemen dari program seni itu sendiri yang diintegrasikan dalam kurikulum anak usia dini sesuai dengan tahapan perkembangannya.
Seni dan Pengembangan Sosial-Emosional
Anak-anak usia dini akan merasakan kepuasan emosional pada waktu mereka dilibatkan dalam pembuatan karya seni, apakah itu dalam bentuk pemodelan dengan tanah liat, menggambar dengan krayon, atau membuat kolase indah dari sisa daur ulang. Kepuasan anak-anak ini datangnya dari rasa memiliki kontrol atas bahan-bahan yang mereka gunakan dan otonomi yang mereka miliki dalam keputusan yang mereka buat (Schirrmacher, 1998; Seefeldt, 1993). Memutuskan karya seni apa yang mereka akan buat dan apa yang mereka akan gunakan sebagai bahan-bahannya menjadikan anak-anak mandiri dan mendapatkan kesempatan pertama untuk memilih dan mengambil keputusan sendiri. Membuat karya seni juga menuntun anak-anak sejak usia dini untuk membangun harga diri dengan memberikan mereka kesempatan untuk mengekspresikan apa yang mereka pikirkan dan rasakan (Klein, 1991; Sautter, 1994). Selain itu Sautter (1994) menambahkan bahwa ketika anak-anak berpartisipasi dalam kegiatan seni dengan teman sekelas, umpan balik yang mereka berikan satu sama lain akan membangun harga diri anak anak dengan membantu mereka belajar menerima kritik dan pujian dari orang lain. Kegiatan kelompok kecil seni juga membantu anak-anak berlatih keterampilan dan kemampuan bersosialisasi yang sangat penting seperti bergiliran, berbagi, dan negosiasi untuk menentukan bahan apa yang akan digunakan. .Seni dan Pengembangan Kognitif (Daya Pikir) Untuk anak usia dini, membuat satu karya seni adalah merupakan kegiatan eksplorasi sensorik. Mereka merasakan bagaimana krayon bergerak diatas kertas,mencampur dua warna menjadi satu warna baru dan melihat gumpalan cat berwarna tsb bisa berubah menjadi lebih besar. Kamii dan DeVries (1993) menyarankan bahwa bahan yang digunakan untuk mengeksplorasi sangat penting karena melalui eksplorasi itulah anak-anak membangun pengetahuan tentang benda-benda di sekitar mereka.Kegiatan ini berpusat pada sekitar pembuatan karya seni yang juga membantu anak-anak sejak usia dini untuk membuat keputusan sendiri dan melakukan evaluasi diri. Klein (1991) menggambarkan empat keputusan yang membuat anak berkegiatan seperti seorang seniman. Pertama, mereka harus memutuskan apa yang akan mereka gambarkan dalam karya seni mereka- apakah itu orang, pohon, naga dll. Kedua, mereka memilih media yang akan digunakan, susunan objek dalam pekerjaan mereka, dan perspektif yang akan diambil oleh penikmat seni itu sendiri. Anak-anak memutuskan berikutnya seberapa cepat atau seberapa lambat mereka akan menyelesaikan proyek mereka, dan akhirnya, bagaimana mereka akan mengevaluasi penciptaan karya seni mereka itu. Paling sering, anak-anak mengevaluasi karya seni mereka dengan memikirkan apa yang mereka sukai dan biasanya yang dikatakan orang lain kepada mereka adalah hal yang menyenangkan. (Feeney & Moravcik, 1987). Sebagai anak-anak yang tumbuh dan berkembang, seni-membuat kegiatan mereka bergerak melampaui kegiatan biasanya dan dalam mengeksplorasi dengan indera mereka,penggunaan simbol-simbol mulai dilibatkan. Anak-anak mulai mencari simbol-simbol untuk mewakili benda-benda nyata, peristiwa yang dialami, dan ekspresi perasaan dalam karya seni mereka. Menggambar, khususnya, menjadi sebuah kegiatan yang memungkinkan mereka untuk melambangkan apa yang mereka ketahui dan rasakan. Ini adalah tempat yang diperlukan untuk anak-anak yang kosa kata, tertulis ataupun lisan, mungkin masih terbatas (de la Roche, 1996). Penggunaan awal simbol-simbol dalam karya seni anak sangat penting karena menyediakan dasar untuk mengekpresikan kemudian dalam kata-kata untuk melambangkan obyek dan tindakan dalam bentuk tulisan formal. Seni dan Pembangunan Motor Pada waktu membuat karya seni, anak sejak usia dini juga mengembangkan kontrol dari kelompok otot besar dan kecil (Koster, 1997). Gerakan-gerakan tangan yang besar diperlukan untuk melukis atau menggambar di kanvas atau di atas kertas besar di lantai membangun koordinasi dan kekuatan. Gerakan yang lebih kecil dari jari, tangan, dan pergelangan tangan diperlukan untuk memotong dengan gunting, membuat model dari tanah liat, atau menggambar atau melukis pada permukaan yang lebih kecil mengembangkan keterampilan motorik halus dan daya kontrol. Dengan adanya peluang berkali-kali untuk mempraktekkannya, anak-anak sejak usia dini mendapatkan kepercayaan diri dalam penggunaan alat untuk membuat karya seni dan nantinya untuk menulis, melatih motorik halusnya. Membuat karya seni juga membantu anak mengembangkan koordinasi mata-tangannya (Koster, 1997). Pada waktu anak-anak memutuskan bagaimana cara membuat bagian-bagian yang cocok untuk ditempatkan bersama-sama sebagai satu karya keseluruhan misalnya membentuk kolase, di mana untuk menempatkan benda-benda perlu ketelitian, dan rincian benda-benda apa saja yang bagus untuk diikutsertakan dalam pembentukan kolase tsb dll. Dengan begitu anak belajar untuk mengkoordinasikan apa yang mereka lihat dengan gerakan tangan dan jari mereka, agar terbentuk satu karya yang indah.Koordinasi mata-tangan ini adalah penting bagi anak untuk melakukan banyak kegiatan, termasuk dalam menulis huruf dan kata-kata atau membuat spasi dalam penulisan formal. Seni Pengalaman di Kelas Bagi Anak Usia Dini
Meskipun kegiatan seni membantu pengembangan anak-anak pada banyak bidang, namun peran guru dalam hal ini sangat penting. Guru harus mengenali rasa seni yang ada dalam dirinya sendiri atau yang dimilikinya, sehingga bisa mencontohkan karya seni yang mempunyai nilai bagi murid-muridnya. Guru juga harus dapat mendorong pengembangan rasa estetika dalam diri anak-anak dan melibatkan mereka dalam pengalaman kreatif yang harus menjadi tujuan dari program seni anak sejak usia dini. Kegiatan yang melibatkan anak-anak dalam membuat dan menikmati seni penting jika program ini dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan seluruh anak. Tantangan bagi guru anak usia dini adalah untuk memberikan kegiatan ini dalam sebuah program seni yang sesuai dengan tahapan perkembangan usia anak dan yang dapat diintegrasikan dalam kurikulum secara keseluruhan. Program seni tersebut harus mencakup: • Penggunaan reproduksi yang mengekspos karya seni kepada anak-anak • Kunjungan ke museum-museum lokal untuk memberikan kesempatan bagi anak untuk dapat mengapresiasi seni • Penyediaan akses ke pusat kelas seni dimana anak-anak dapat memilih topik mereka sendiri dan media yang akan digunakan
• Penampilan karya seni/hasil kerja anak-anak di sebuah galeri kelas • Melibatkan keluarga dalam program seni. Untuk mengintegrasikan sebuah program seni ke dalam kurikulum sesuai dengan tahapan perkembangan anak, orang dewasa harus menyadari bahwa anak-anak mengekspresikan ide mereka melalui seni, sama seperti yang mereka lakukan dalam menulis. Guru yang kreatif akan menemukan cara untuk mendukung pembelajaran anak-anak yang terintegrasi dalam kurikulum melalui kegiatan di mana anak-anak membuat karya seni dan menikmati karya seni orang lain. Unsur-unsur berikut membentuk dasar dari program seni untuk diintegrasikan ke dalam kurikulum sesuai dengan tahapan perkembangan untuk anak usia dini. Menggunakan Reproduksi Hasil Karya Seni Masterpiece
Poster dan reproduksi karya seni yang lebih kecil dapat dibeli di museum seni yang terkenal atau melalui katalog milik sekolah/ guru. Reproduksi lebih murah dapat diperoleh dari kalender, alat tulis, majalah, dan surat kabar. Guru dapat menggunakan reproduksi dalam banyak cara untuk mendukung pembelajaran anak-anak di dalam kelas dan dalam mengikuti kurikulum.
Reproduksi hasil karya seni dapat digunakan pada tanda-tanda untuk menunjuk pusat pembelajaran atau sebagai bagian label kelas. Sebagai contoh, Yakub Builder Lawrence # 1 misalnya ditampilkan di pusat pertukangan, atau Gelembung Sabun Jean Simeon Chardin bisa digantung di atas meja air. Gambar reproduksi juga dapat digunakan untuk menunjukkan jenis kelamin di pintu toilet atau pada tempat, di mana anak-anak berbaris untuk pergi ke luar. Reproduksi juga dapat digunakan di papan buletin untuk menemani menampilkan unit terkait dengan satu tematik tertentu. Karya Piet Mondrian misalnya dapat digunakan untuk menggambarkan fokus pada warna-warna primer atau bentuk, contoh lainnya reproduksi karya seni Claude Monet bisa menemani sebuah unit kelas menggambarkan suasana pada musim semi, sedangkan karya-karya Maurice Utrillo bisa dibawa serta dalam melakukan studi masyarakat. Baik dalam pusat-pusat belajar atau tempat-tempat diskusi kelompok, karya seni tidak akan menggantikan penggunaan benda nyata atau foto sebagai alat bantu visual, tapi akan memberikan satu cara lain kepada anak-anak untuk melihat dan berpikir tentang konsep yang sedang mereka pelajari. Gambar reproduksi pelukis atau pematung terkenal misalnya dapat membantu anak-anak untuk membuat satu hubungan "antara realitas dan interpretasi seni seseorang “ (Dighe, Calomiris, & Van Zutphen, 1998, h. 5).
Perjalanan ke Museum Mengajak anak-anak ke sebuah Museum seni dapat menjadi satu pengalaman yang menantang untuk orang dewasa. Sebenarnya Museum dirancang untuk orang dewasa yang terlibat dalam merefleksikan sesuatu benda seni, bukan untuk anak-anak yang aktif yang ingin mengekspresikan diri. Namun Museum baik untuk anak usia dini untuk mengenal karya seni orang lain dan mengapresiasinya. Dengan sedikit persiapan kenjungan ke Museum bias dilakukan dan dapat dijadikan pengalaman yang menyenangkan bagi semua, orang dewasa maupun anak-anak.Banyak Museum menjadwalkan waktu khusus bagi wisata anak-anak dan kunjungan keluarga. Selama masa ini, staf Museum dan pengunjung lainnya mengharapkan anak-anak untuk mengunjungi, dan mengadakan wisata khusus dan biasanya akan tersedia pemandu dari pihak Museum. Jika anak-anak akan berpartisipasi dalam tur yang direncanakan khusus untuk mereka, adalah penting bagi guru untuk memilih beberapa benda seni yang menjadi fokus perhatian selama kunjungan. Reproduksi karya seni/Artwork yang dilakukan oleh seniman dan dipamerkan di Musium dapat ditampilkan dalam kelas atau objek yang berkaitan dengan satu unit yang menggambarkan satu tematik tertentu akan sangat menarik bagi anak-anak bila diterangkan terlebih dahulu. Mereka akan memiliki konteks untuk dipikirkan dan nantinya mereka juga akan membahas apa yang mereka lihat. Karena rentang perhatian/konsentrasi anak-anak adalah singkat, maka dianjurkan kunjungan ke Museum seharusnya tidak panjang. Tiga puluh menit mungkin cukup lama untuk anak-anak untuk melihat potongan-potongan yang sudah dipilih sebelumnya oleh guru tanpa merasa lelah atau frustrasi dalam pengaturan nantinya di Museum. Bila ada pameran karya senidari para seniman lainnya di ruang lain bisa ditunda untuk kunjungan berikutnya di masa depan,agar anak-anak tidak terlalu lelah.. Pusat Seni / Art Center
Pusat seni/Art Center harus dimiliki sekolah,agar anak mendapatkan kesempatan melakukan kegiatan seni secara terpusat di satu tempat.. Guru mungkin dapat menyarankan sebuah tema untuk karya seni anak,namun diminta untuk tidak memberikan arahan maupun bantuan terlalu banyak yang mengganggu proses kreatif anak. Seperti orang dewasa , anak-anak yang tidak dapat mengikuti arahan guru juga akan frustasi, karena pada umumnya anak-anak tidak memiliki motorik halus memadai dan keterampilan persepsi visual yang cukup untuk meniru upaya orang dewasa. Sebaliknya, guru dapat mendorong anak untuk merancang dan menyelesaikan proyek-proyek mereka sendiri dengan menekankan bahwa tema yang sama dapat diulang berkali-kali, karena anak-anak senang mengeksplorasi ide-ide dan keterampilan praktek. Terbuka kesempatan buat anak untuk memilih bahan yang akan digunakan seperti cat, krayon, spidol, gunting, lem, tanah liat dll.Selain itu adanya dukungan berbagai macam kertas tebal, tipis, berwarna dsb untuk kegiatan yang berpusat pada anak. Meskipun memiliki banyak pilihan anak-anak dibiasakan untuk membuat pilihan dari dua atau tiga pilihan yang ada , karena ini merupakan cara terbaik bagi anak-anak untuk mempraktekkan pengambilan keputusan. Lowenfeld dan Brittain (1975) juga "mengingatkan" para guru untuk tidak mengubah bahan atau memperkenalkan bahan baru ke pusat seni /Art Centre tsb terlalu sering. Anak-anak memerlukan waktu untuk melatih dan mengembangkan keterampilan dengan bahan yang ada sebelumnya, jika mereka menggunakannya untuk mengekspresikan ide dan perasaan mereka. Akhirnya, perlu dicatat disini bahwa proses kreatif membutuhkan waktu. Meskipun beberapa anak akan menyelesaikan karya mereka dalam waktu singkat, anak / orang lain akan membutuhkan jangka waktu lebih lama untuk merancang dan membuat proyek-proyek mereka. Desain dari pusat seni /art center dan jadwal kelas harus mendorong anak-anak untuk kembali ke proyek mereka dan bekerja sampai mereka memutuskan kapan proyek itu harus selesai (Edwards & Nabors, 1993). Menampilkan Seni Anak di Galeri Kelas Sebuah galeri seni anak-anak di kelas sangat dibutuhkan sebagai tempat untuk memajang karya seni anak dan menunjukkan hasil pekerjaan anak-anak itu sendiri yang bisa dinikmati pengunjung kelas. Sebuah papan buletin besar atau ruang dinding menyediakan latar bagi galeri. Anak-anak harus mengambil tanggung jawab untuk pemasangan hasil karya mereka dan memilih penempatannya dalam galeri. Label, termasuk judul untuk nama, karya seniman, menengah, dan tahun penciptaan, dapat ditentukan dan akan memberikan pengalaman yang bermakna bila ditulis dengan huruf cetak. Anak-anak juga dapat berfungsi sebagai kurator dan sekaligus dosen seni atau pemandu yang akan memberikan tur dalam galeri tsb untuk para pengunjung.
Melibatkan Keluarga dalam Program Seni
Membuat keluarga juga terlibat dalam kehidupan berkesenian di kelas adalah merupakan tanggung jawab penting bagi guru anak usia dini. Berbagi dengan keluarga tentang peran seni dalam kurikulum dan kegiatan di mana anak-anak mereka berpartisipasi akan mendorong dukungan mereka terhadap program dan pembelajaran seni anak-anak mereka tsb. Keterlibatan keluarga dapat didorong melalui beberapa cara. Mengundang keluarga untuk berpartisipasi dalam kunjungan lapangan ke Museum dan kegiatan seni di kelas dengan memberikan kesempatan untuk berbagi pengalaman dan mengadakan diskusi antara anak dan orang tua mereka. Guru mungkin juga dapat menyarankan proyek-proyek seni untuk dilakukan anak-anak dan orang tua mereka di rumah dalam rangka berpartisipasi dengan mengerjakan proyek itu bersama-sama. Proyek-proyek ini harus selalu sifatnya opsional dan guru harus menyediakan bahan-bahan khusus yang mungkin diperlukan dalam sebuah paket yang mencakup penjelasan dan petunjuk untuk proyek tersebut. Merek (1996) menyarankan menghubungkan proyek-proyek seni dengan satu tema buku tertentu sebagai cara untuk mendorong orang tua dengan tingkat keterampilan yang berbeda agar merasa nyaman dalam bekerja dengan anak-anak mereka di rumah nantinya. Sebagai contoh, setelah membaca Picture Lucy (1995) oleh Nicola Moon misalnya, anak-anak dan orang tua mungkin dapat bekerja sama untuk menciptakan sebuah kolase yang menggambarkan partisipasi mereka dalam melaksanakn kegiatan yang mereka inginkan unuk dikerjakan dalam kelompok dengan menggunakan bahan-bahan yang dapat ditemukan di rumah dan / atau disediakan oleh guru. Selain itu "Ransel Seniman '" untuk digunakan anak-anak di rumah adalah cara lain untuk melibatkan keluarga dalam kegiatan seni di kelas. Empat sampai lima ransel, masing-masing menampilkan satu media seperti cat dan tanah liat kertas atau pemodelan, dapat tersedia bagi anak-anak untuk mereka periksa dan berbagi dengan keluarga mereka. Meskipun tujuan umum dari ransel harus dibagi dengan orang tua, petunjuk spesifik untuk setiap ransel tidak perlu disediakan. Tujuan dari ransel adalah untuk mendorong penggunaan bahan kreatif yang sama di rumah seperti yang digunakan di kelas.
Kesimpulan Melalui kegiatan seni yang dijelaskan dalam artikel ini, anak-anak sejak usia dini akan dapat mengembangkan kemampuan dan keterampilan yang mereka miliki dan diaplikasikan di banyak bagian lain dari kurikulum. Yang paling penting adalah anak juga akan mengembangkan apresiasi seni bagi orang lain dan budayanya, dan menambah kepercayaan diri untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya sendiri melalui karya seni. Disini tidak ada maksud untuk menciptakan keajaiban individu pada diri anak-anak, namun mendorong integrasi dan apreasi penikmat seni di kelas anak usia dini, yang nantinya akan menghasilkan satu"perkembangan pada semua sisi" dari anak-anak yang ikut berpartisipasi. -Jill Englebright Fox, Ph.D., adalah asisten profesor pendidikan anak usia dini di Virginia Commonwealth University di Richmond, Virginia.
- Stacey Berry, M.Ed., adalah guru TK di Mary Munford Model Sekolah di Richmond, Virginia. Referensi Bacaan Brand, S. (1996). Making parent involvement a reality: Helping teachers develop partnerships with parents. Young Children, 51 (2), 76-81. de la Roche, E. (1996). Snowflakes: Developing meaningful art experiences for young children. Young Children, 51(2), 82-83. Dighe, J., Calomiris, Z., & Van Zutphen, C. (1998). Nurturing the language of art in children. YoungChildren, 53(1), 4-9. Edwards, L.C., & Nabors, M.L. (1993). The creative arts process: What it is and what it is not. Dimensions, 48(3), 77-81. Feeney, S., & Moravcik, E. (1987). A thing of beauty: Aesthetic development in young children. Young Children, 42(6), 7-15. Froebel, F. (1974).The education of man (W.N. Hailmann, Trans.). Clifton, NJ: A.M. Kelley. (Original work published 1826.) Kamii, C., & DeVries, R. (1993). Physical knowledge in preschool education. New York: Teachers College Press. Klein, B. (1991). The hidden dimensions of art. In J.D. Quisenberry, E.A. Eddowes, & S.L. Robinson (Eds.). Readings from childhood education (pp. 84-89). Wheaton, MD: Association of Childhood Education International. Koster, J.B. (1997).Growing artists: Teaching art to young children. Albany, NY: Delmar. Lowenfeld, V., & Brittain, W.L. (1975). Creative and mental growth. New York: Macmillan. Sautter, R.C. (1994). An arts education reform strategy. Phi Delta Kappan, 75(6), 433-440. |