|
 | “Aduuuh.. gimana ya, anakku kok malas banget belajar“. Atau „Kalau main PS senang, tapi belajar tidak mau.“ Keluhan seperti ini dari seorang ibu yang mempunyai anak balita sudah sering kita dengar. Orangtua kebanyakan sangat pesimis bila menghadapi anak batita dan balitanya yang malas belajar dan tidak tahu akan berbuat apa. |
Padahal anak usia ini sebenarnya mempunyai rasa ingin tahu yang sangat besar. Mereka lebih tertarik untuk mengenal dan mempelajari sesuatu yang baru seperti sebuah permainan. Jika Anda menginginkan anak Anda menyukai pelajarannya di Taman Bermain atau Taman Anak-Anak atau di Sekolah Dasar, buatlah suasana rumah juga menjadi lingkungan belajar yang menyenangkan. Latihlah anak anda dengan Bermain sambil Belajar, bukan sebaliknya yang salah kaprah, Belajar sambil Bermain. Jangan tanamkan “belajar“ itu identik dengan “bermain“, melainkan lebih kepada “Ayo kita Bermain untuk Belajar sesuatu yang baru“. Nah bila anak sudah mempunyai sikap ini, dia akan menyenangi permainan yang membangkitkan sikap suka belajar dan ide-ide cemerlang. Ajaklah anak Anda bermain dengan sarana yang menggerakkan alat motorik dan kepekaan indera-indera lainnya seperti pendengaran, penglihatan atau perabaan. Permainan yang statis yang membutuhkan konsentrasi tinggi dan bersifat individual diberikan hanya sebagai pelengkap saja. Sambil mengasah otak dan melatih motoriknya, anak juga harus merasa terhibur dengan melakukan kegiatan yang menggembirakan. Untuk itu Anda sebaiknya memilah-milah jenis kegiatan bermain dan waktu yang tepat sesuai tahap perkembangan anak. Jangan cepat menyerah pada ketidaksabaran anda dengan memberikan mainan atau games komputer kepada anak anda karena hal ini merupakan jalan pintas saja. Komunikasi satu arah akan membuat anak statis, tidak bergairah mempelajari hal baru. Kehadiran anda untuk bekerja sama dalam bermain bersama sangat menentukan keberhasilan membimbing anak untuk bergairah belajar. Karena ketika bermain orangtua berkomunikasi dan berinteraksi dengan anaknya, sehingga terjadi komunikasi dua arah dengan anak. | Jangan berorientasi pada prestasi akademik, melainkan lebih pada proses belajar anak, agar tidak terjadi pemaksaan kehendak. Lebih baik Orangtua memperhatikan “apa yang akan mereka lakukan bersama“, ketimbang “seberapa bagus yang akan dihasilkan“. Dengan cara ini bisa dipastikan anak anda akan lebih bersemangat dan bergairah untuk mempelajari hal-hal baru. Silahkan mencoba!. (Dr.Dharmayuwati Pane/TK Pestalozzi, Cibubur). | |
|