Who's Online

We have 27 guests online

Login Form






Lost Password?

Events Calendar

January 2012 February 2012 March 2012
Su Mo Tu We Th Fr Sa
Week 5 1 2 3 4
Week 6 5 6 7 8 9 10 11
Week 7 12 13 14 15 16 17 18
Week 8 19 20 21 22 23 24 25
Week 9 26 27 28 29

Latest Events

There are no upcoming events currently scheduled.
View Full Calendar
Home arrow News arrow Latest arrow Apakah Anda Orangtua yang "Overprotective"?
Apakah Anda Orangtua yang "Overprotective"? Print E-mail
Sunday, 15 June 2008
                     oleh DR.Dharmayuwati Pane,MA 

 

    Cobalah jawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

     

    Apakah Anda memperbolehkan anak Anda untuk mengikuti kegiatan -kegiatan di luar ruangan seperti di Sekolah atau mengikuti ekstrakurikuler yang beresiko tinggi, misalnya berenang, naik kuda  atau outbound? Ataukah Anda baru akan merasa aman dan tenang, bila anak Anda hanya melakukan kegiatan di dalam rumah saja, di bawah pengawasan Anda ?. Selain itu apa Anda tipe orangtua yang selalu membantu anak membuatkan  PR, Prakarya dan tugas sekolah lainnya, karena Anda tidak mau dia dihukum gurunya atau menjadi uring-uringan?. Saat anak Anda flu ringan, apa Anda langsung buat janji dengan dokter terbaik untuk memeriksanya, seolah-olah dia sakit berat? Atau melarang anak batita atau balita Anda masuk lagi ke Taman Bermain yang baru dua Minggu diikutinya, karena jatuh sakit dan tidak mau makan, seolah-seolah Taman Bermain itu tempat bersarangnya berbagai macam penyakit dan tidak perlu keluar rumah lagi, cukup istirahat di rumah saja yang bebas dari virus?. Nah ,bila dua atau lebih pertanyaan diatas dijawab dengan "Ya", boleh  jadi Anda tipe orangtua yang "overprotective", yang terlalu melindungi putra/putrinya. Tetapi segala sesuatu yang sangat berlebihan, tentu saja tidak baik. 

     

    Banyak hal yang menyebabkan orangtua terlalu melindungi putra atau putrinya, diantaranya adalah pengalaman buruk yang dialami sendiri, didengar atau dibaca di koran, misalnya penculikan, sehingga pengawasan ketat dilakukan atau  orangtua tidak percaya atas kemampuan anaknya, sehingga anak tidak dibiarkan melakukan hal-hal beresiko atau yang agak sulit, atau anak pertama, cucu pertama atau sulit sampai mendapatkan anak tsb, misalnya dengan menunggu selama 10 tahun, baru dikaruniai anak dsbnya.Oleh karenanya rasa takut dan khawatir membuat orangtua sering membatasi ruang  gerak anaknya.

     

    Memberikan kasih sayang dan memastikan si kecil selalu mendapatkan yang terbaik, memang sesuatu yang wajar. Hampir semua orangtua melakukan hal yang sama. Namun rasa sayang yang sangat berlebihan bisa fatal akibatnya bagi pertumbuhan anak kita. Anak yang terlalu dilindungi, akan terbiasa dengan rasa aman dan nyaman yang sangat berlebihan, tidak mandiri dan susah bersosialisasi.  Dia tidak akan pernah mau mengerti, misalnya bahwa di Sekolah temannya yang menang perlombaan dan mendapat hadiah, bukan dia atau bila dia tidak mendapatkan apa yang dia mau dsb. Ini membuat dia susah bergaul, karena kebiasaan seperti itu tidak disukai teman-temannya. Anak menjadi tidak bertanggung jawab atau tidak bisa bersaing, karena kesalahan yang diperbuatnya selalu diatasi oleh orangtuanya.

     

    Dibanding anak seusianya, rasa percaya diri dan keberaniannya rendah, bagaimana tidak, selama ini dia tidak diberi kesempatan untuk bereksplorasi dan melakukan kegiatan-kegiatan menarik sendiri. Ketika teman sebayanya asyik mencoba berbagai permainan baru, dia hanya boleh menonton saja, karena permainan itu terlalu menakutkan bagi dirinya, atau dia tidak yakin bisa melakukannya atau takut dimarahi orangtuanya, bila ikut bermain. Padahal pada usia sekolah, dunia akan sarat dengan berbagai macam bentuk persaingan.

     

    Ada empat bidang penting dalam pertumbuhan anak yang cenderung sangat dilindungi oleh orangtua:

     

                     -Keadaan Fisik

     

    Karena mudah terlihat, luka jatuh atau memar karena terbentur benda keras merupakan ketakutan utama orangtua, sehingga sangat melindungi anaknya dan tidak akan membiarkan anaknya melakukan kegiatan yang beresiko.

     

    -Kondisi Emosi

     

    Orangtua sering melindungi anak  dari perasaan marah, sedih atau kecewa. Misalnya, bila anak kalah dalam perlombaan, bukannya mengajarkan anak untuk  juga bisa menerima kekalahan dan bekerja keras lagi untuk menang di kesempatan lain, malah orangtua cepat membujuk anaknya agar tidak kecewa dengan menjanjikan untuk membeli mainan atau hadiah pengganti.

     

                     -Kemampuan Kognitif

     

    Hal ini berhubungan dengan kegiatan belajar-mengajar di Sekolah. Dalam hal ini orangtua sangat berkonsentrasi pada nilai akademis anaknya dan tidak akan toleransi terhadap kegagalan. Karena itulah berbagai les diterapkan kepada anaknya, tanpa mengukur kemampuan anak nya sendiri. Setiap hari anak mengikuti les sampai tidak ada waktu tersisa untuk bermain. Bila mental anak tidak kuat, dia bisa stres mengikuti harapan dan tuntutan orangtuanya yang terlalu tinggi.

     

    -Ketrampilan  Sosial

     

    Orangtua yang terlalu melindungi biasanya bersikap ingin selalu mengatur, bagaimana si kecil harus bersikap, berpakaian , apa yang boleh dan tidak  serta masih banyak lagi. Misalnya bagi anak pra-sekolah yang belum mempunyai banyak teman, akan dipaksa agar cepat banyak teman. Padahal karakteristik anak berbeda-beda, ada yang memerlukan waktu sedikit lebih lama untuk  menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya dibanding anak lain. Atau menyuruh anak berpakaian sesuai dengan mode yang lagi trend dan mahal, agar bisa lebih diterima oleh teman-temannya,padahal anak itu tidak suka dsb.

     

    Sebenarnya anak  hanya membutuhkan kasih sayang dan dukungan dari orangtuanya untuk menunjang pertumbuhannya. Anak hanya perlu ditemani dan dibimbing dalam menjalani setiap proses pembelajaran itu.

     

    Berikut ini adalah saran-saran yang baik untuk tidak menjadi orangtua yang "overprotective":

     

                    -Usia 1 - 2 tahun

     

                     Untuk meningkatkan kemampuan fisiknya, dorong anak untuk mau berjalan.

                     Saat anak belajar berjalan, cukup awasi dan ikuti dari belakang, tidak perlu

                     memberikan pengamanan khusus seperti pelindung siku atau lutut. Biarkan

                     dia  merasakan seperti apa  rasanya jatuh di lantai yang keras dan betapa

                     sakitnya, kalau tubuh terbentur benda keras dsbnya. Ingat, sebelum dia

                     mengalami  jatuh, dia tidak akan pernah belajar bagaimana cara untuk "bangun".

     

                       -Usia 2-3 tahun

     

    Bila anak mencapai usia ini, biasanya rasa ingin tahu dia sangat besar. Lebih baik orangtua membantu si kecil untuk memahami apa tujuan satu tindakan. Misalnya, bila si kecil ingin menyentuh  cangkir  yang berisi kopi panas, daripada langsung berkata "Jangan"!, lebih baik terangkan akibat dari tindakan itu: "Bila kamu sentuh cangkir itu, tangan kamu akan kepanasan, karena kopi di dalamnya sangat panas,nak". Dengan begitu anak berpikir dulu sebelum menyentuh, dan kecerdasannya juga terasah.  Setelah itu, bila dia tetap ingin membuktikannya, biarkan anak menyentuh cangkir itu, biar dia rasakan sendiri rasa panas tsb dan pasti tidak akan melakukannya lagi. Begitu juga dengan lilin yang meleleh, bila ingin dipegang, biarkan saja, agar dia mengerti rasa sakit, karena kepanasan dan lain kali akan lebih berhati-hati.



    -Usia 3-5 tahun

     

    Bantulah anak untuk belajar menjaga dirinya sendiri.  Bila anak terlihat sangat mudah untuk cepat akrab dengan orang lain dan hal tsb mengkhawatirkan kita,a jarkan anak untuk tidak berbicara dengan orang dewasa yang tidak dikenal di Tempat Umum, bahkan juga di Sekolah atau menerima sesuatu dari orang lain untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, jelaskan dan beri pengertian mengapa, agar anak selalu berhati-hati dan siap menjaga dirinya sendiri.

     

    Nah demikianlah saran-saran bagaimana menjadi orangtua yang  selalu waspada, tetapi tidak terlalu melindungi anak, agar anak mengalami proses perkembangan dan pembelajaran yang alami, tanpa paksaan  dan tanpa terlalu banyak intervensi.

     

    Jadi tidak apa-apa  bila si kecil pernah jatuh dan mengalami memar, pernah gagal dan pernah merasakan  marah, sedih dan kecewa, karena dengan begitu dia akan belajar bagaimana caranya, agar dia tidak merasakan hal-hal itu lagi dan akan terus berusaha mencapai  tujuan dan meraih target yang dibuatnya sendiri . Ubahlah sikap  yang "overprotective" tsb, karena dampaknya negatif bagi tumbuh kembang anak. Jangan paksakan kehendak pada anak, terlalu banyak mengatur ataupun melarang, biarkan anak berkembang sesuai usianya(Jakarta, 02 Juni 2008)

     

     

     

     

                                                                Image

     

Last Updated ( Monday, 06 December 2010 )
 
< Prev   Next >

© 2012 Pestalozzi Indonesia

TBN - TIDYA Businesses Network