Who's Online

We have 20 guests online

Login Form






Lost Password?

Events Calendar

January 2012 February 2012 March 2012
Su Mo Tu We Th Fr Sa
Week 5 1 2 3 4
Week 6 5 6 7 8 9 10 11
Week 7 12 13 14 15 16 17 18
Week 8 19 20 21 22 23 24 25
Week 9 26 27 28 29

Latest Events

There are no upcoming events currently scheduled.
View Full Calendar
Home arrow News arrow Latest arrow “Televisi Untuk Otak Ok Atau Tidak?”
“Televisi Untuk Otak Ok Atau Tidak?” Print E-mail
Saturday, 21 June 2008

        

Sekali-sekali pertanyaan dalam judul seperti di atas kita jawab saja secara langsung, tanpa analisis pembukaan. Ya, televisi jelas ada baiknya. Kalau tidak ada televisi, jelas dunia lebih terasa sepi dan sulit melihat berbagai kejadian di dunia secara visual dan juga secara live. Oleh karena itu, televisi minimal hadir sebanyak 1 unit dalam setiap rumah tangga kita masing-masing. Dan jelas memberikan hiburan yang menyenangkan...

 

Namun, rupanya untuk pengembangan otak dan kejiwaan, televisi dipandang kurang mendukung. Maka, sampai seperti sutradara terkenal kelas dunia Stephen Spieldberg, membatasi anaknya untuk maksimal menonton televisi kalau tidak salah 1-2 jam saja. Setali tiga uang dengan yang dilakukan Madonna, yang juga memperlakukan aturan yang sama bagi anak-anaknya. Padahal, mereka adalah orang-orang yang berkarya, bekerja dan hidup mati dalam dunia yang de facto-nya adalah bagian dari dunia pertelevisian.

 

Sebetulnya, bagaimana sih, pengaruh televisi pada perkembangan otak? Mari kita lihat hasil penelitian yang termasuk terbaru dalam Majalah Neu-Isenberg edisi Desember 2007. Penelitian tersebut menyebutkan: Televisi tidak baik bagi perkembangan otak bayi. Bahkan, acara khusus TV dan DVD khusus bayi yang diklaim dapat membawa pengaruh nyata, ternyata lebih membawa pengaruh buruk pada perkembangan otak bayi. Bayi disebutkan mengalami ‘gangguan belajar akibat televisi’, seperti diutarakan oleh Prof. Manfred Spitzer dari Ulm, “Bayi tidak dapat memproses rangkaian /tampilan benda/suara dari televisi”.

 

Peneliti membuat 2 kelompok bayi usia + 9 bulan. Kelompok I, bayi diceritakan dongeng dalam bahasa China (sebagai bahasa yang cukup sulit), sementara kelompok II hanya dikenalkan televisi. Hasilnya, setelah 2 bulan, bayi kelompok I mulai dapat mengenali suara bahasa China. Dari kelompok II, bayi-bayi di sana tidak dapat mempelajari apapun dari televisi. Akhirnya di ambil kesimpulan bahwa mendongeng dan bercerita lisan jauh lebih baik di bandingkan dengan hanya mendidiknya lewat televisi Bayi yang sering didongengkan berkala akan menangkap kata 8 % lebih banyak dibandingkan bayi lainnya. Tetapi, bayi yang sering melihat Baby TV akan menyerap 20% kata lebih rendah dibandingkan anak-anak umumnya.

 

Bagaimana dengan remaja/orang dewasa? Hampir sama. Penelitian membuktikan bahwa jauh lebih baik, bila kita lebih banyak membaca dari pada terlalu sering menonton televisi. Mengapa, karena otak sulit mencerna perpindahan gambar televisi yang demikian cepat, sehingga tidak terangsang untuk membentuk suatu proses visualisasi/imajinasi holistik di otak. Tetapi jika membaca (apalagi yang tidak ada/sedikit gambar ilustrasinya), membuat otak dirangsang memvisualisasikan atau mengimajinasikan semua bacaan tadi dalam otak secara sempurna.

 

Dasar pemikiran seperti inilah kadang yang membuat orang mengatakan lebih baik melihat ‘the Pelican Brief’ dengan membaca novelnya yang dikarang oleh John Grisham, daripada melihat filmnya. Mengapa? Karena gambaran otak kita terasa lebih pas dibandingkan dengan gambar filmnya.

 

Belum lagi kalau dikaitkan dengan acara sinetron televisi Indonesia yang sudah melecehkan logika, analisa dan mengabaikan etika. Alhasil, fakta menunjukkan anak-anak yang banyak menonton acara sinetron televisi kita, cenderung mempunyai kepribadian yang kontra produktif. Jelas, televisi bisa mempengaruhi kejiwaan anak secara negatif…

 

Tetapi bukan berarti bahwa televisi itu mempunyai faktor buruk dari semua sisi, tentu tidak. Hanya, porsikan secukupnya saja untuk hiburan, tetapi porsikan lebih dalam membaca dan menulis untuk melatih perkembangan otak kita. Apalagi ternyata, otak perlu terus dilatih untuk juga mencegah early dementia atau kepikunan awal. Mungkin, jika dilakukan penelitian, jika karyawan kita lebih senang membaca, kinerjanya di perusahaan juga akan lebih baik dibandingkan karyawan yang kurang senang membaca. Asal, yang dibaca bukan hanya Koran-koran iklan murahan atau Koran esek-esek…Lebih hebat lagi bawalah karyawan ke dalam perpusatakaan untuk membuka banyak hikmat pemikiran di sana….

 

Salam mengajak para orangtua mulai mengurangi tontonan televisi dan lebih senang mengajak putra dan putrinya pergi ke perpustakaan atau membuat perpustakaan kecil di rumah.(Tatag Utomo, Direktur Pend. KPPSM)

 

 

 

Last Updated ( Sunday, 22 June 2008 )
 
< Prev   Next >

© 2012 Pestalozzi Indonesia

TBN - TIDYA Businesses Network