|
Asperger adalah salah satu variasi ringan dari ‘‘Autistic Disorder‘‘ dan keduanya masuk dalam kategori diagnosa yang lebih luas lagi yaitu di Eropa dengan istilah ‘‘Autistic Spectrum Disorder‘‘ dan di USA lebih dikenal dengan sebutan ‘‘Pervasive Developmental Disorders‘‘ (PDD) . Nama Asperger berasal dari seorang pediatris Hans Asperger berkebangsaan Austria yang pertama kali menjelaskan sindrom ini pada tahun 1944. Setelah karya tulisnya diterjemahkn dari bahasa Jerman kedalam bahasa Inggris pada tahun 1981 mulailah Asperger sindrom dikenal oleh banyak orang. ‘‘Asperger’s Disorders‘‘ bisa terlihat jelas pada anak-anak yang tidak mampu bersosialisasi dan bersikap eksentris atau ‘aneh‘. Pada umumnya mereka tidak bisa berkomunikasi dua arah maupun berkomunikasi non-verbal dengan bahasa tubuh.Dalam berbahasa walau memakai tata bahasa yang baik, tetapi sering mengulang kata-kata yang sama dengan artikulasi yang tidak baik dan tanpa intonasi, sehingga terdengar kaku dan ‘aneh‘. Juga dalam melakukan kegiatan motorik kasar seperti berjalan, melempar dan menangkap bola, menggerakkan anggauta tubuh sangat canggung dan terkesan kaku. Hal-hal ‚aneh‘ pada anak penderita Asperger sudah terlihat mulai dari usia 3 tahunan, karena mengalami kekacauan dalam perkembangannya, dia tidak mampu bersosialisai dengan anak lain, tidak bisa mengerti dengan perubahan rutinitas, dan ketika besar dia tidak bisa berbicara secara efektif, bertele-tele dan hanya tertarik pada satu topik pembicaraan tertentu saja, tidak peduli apakah orang lain mendengarkan atau tidak. Menurut penelitian lebih banyak anak laki-laki yang terkena sindrom Asperger ini daripada anak perempuan. Berikut ini adalah ciri-ciri khusus pada anak penderita Asperger: - Pada satu sisi sering mencari perhatian dengan berbicara keras dan tidak peduli bila orang lain ingin mengalihkan pembicaraan ke topik lain, - Pada sisi yang lain menolak untuk bertatapan mata, tidak mampu berkomunikasi non-verbal atau menggunakan bahasa tubuh,tidak memperlihatkan ekspresi wajah dan kalau menggerakkan badannya atau memberi isyarat tubuh selalu tidak lazim, - Menunjukkan ketertarikan hanya pada satu atau dua hal saja, misalnya tentang cuaca, binatang atau jadwal perjalanan dan kosa kata yang dipakai tidak berhubungan satu dengan lainnya, - Tidak bisa berempati dan tidak peka terhadap perasaan orang lain atau tidak dapat memahami keprihatinan orang lain, - Tidak memiliki rasa humor dan tidak mengerti bila orang lain membuat lelucon dan tertawa karenanya, - Gaya bicaranya sangat monoton, kaku dan datar serta sangat cepat, tidak seperti pada umumnya, - Bahasa tubuh, gerak badannya pada waktu melakukan kegiatan motorik kasar kaku dan agak aneh dibandingkan anak lain, juga kalau sedang berjalan. Untuk mengatasi hal-hal tsb diatas harus dilakukan langkah-langkah sbb: - Harus segera diberikan psiko-terapi secara individual untuk meningkatkan kecerdasan emosinya dan memodifikasi sikap prilakunya, - Melatih dan meningkatkan ketrampilan bersosialisasinya dan berkomunikasi dua arah melalui terapi wicara, - Mengintervensi dan membimbing pelajaran-pelajaran nya dengan mengaplikasikan metode tertentu menggunakan ‚shadow teacher‘, - Melakukan Terapi Okupasi untuk meningkatkan motorik kasar dan halus, - Mengadakan intervensi menggunakan psiko-pharma untuk mengatasi rasa takut/cemas atau rasa marah yang berlebihan dan tidak terkendali. (Dari berbagai sumber,Dr.D.Pane/TK Pestalozzi,Cibubur,20 Agustus 2008)
|