Who's Online

We have 23 guests online

Login Form






Lost Password?

Events Calendar

January 2012 February 2012 March 2012
Su Mo Tu We Th Fr Sa
Week 5 1 2 3 4
Week 6 5 6 7 8 9 10 11
Week 7 12 13 14 15 16 17 18
Week 8 19 20 21 22 23 24 25
Week 9 26 27 28 29

Latest Events

There are no upcoming events currently scheduled.
View Full Calendar
Home arrow News arrow Latest arrow Kecerdasan Emosi (Emotional Intelligence)
Kecerdasan Emosi (Emotional Intelligence) Print E-mail
Monday, 10 November 2008

 

 

Oleh DR.Dharmayuwati Pane,MA

‘’Anyone can become angry – that is easy. But to be angry with the right person, to the right degree, at the right time, for the right purpose, and in the right way – this is not easy’’.

-Aristotle, ‘’The Nicomachean Ethics’’

Setiap hari berbagai emosi membentuk dan menentukan jalan hidup kita serta mempengaruhi semua keputusan yang kita ambil. Bagaimana kita dapat mengelola berbagai jenis emosi kita itulah sebenarnya yang menuntun kita dalam mencapai tujuan kita.

Intelegensia kita yang menentukan kemampuan kita dalam mengendalikan berbagai emosi. Setiap keputusan yang kita ambil dipengaruhi langsung oleh emosi-emosi kita itu, bagian tertentu dari otak yang disebut ‘‘the amygdala‘‘ mengelola semua reaksi dasar dari emosi kita seperti rasa takut atau cemas dan juga rasa marah, sedangkan lainnya yaitu ‘‘the neocortex‘‘ atau bagian ‘‘Berpikir/Thinking‘‘ dari otak menuntun kita untuk mengerti berbagai situasi secara holistik.

Jadi reaksi-reaksi kita merupakan hasil dari satu kombinasi yang unik dan sangat individual dari otak bagian yang ‘‘Berpikir/Thinking‘‘ dan ‘’Merasa/Feeling’’. Sikap tertentu bagaimana kita mengartikan situasi-situasi itulah yang mendikte reaksi-reaksi bawah sadar kita.

Kecerdasan emosi meliputi kemampuan dalam mengenal diri sendiri dengan baik dan terampil dalam mengelola emosinya dan mengungkapkannya secara tepat kepada orang lain. Anak cerdas emosi dapat mengendalikan dengan baik rasa marah, rasa takut atau cemas yang bisa berkembang menjadi fobia dan mampu mengelola rasa kesedihan dan kegagalan yang bisa menjadi depresi. Berbagai macam tehnik dapat diterapkan dalam mengendalikan rasa-rasa itu, misalnya menahan marah kita terhadap anak kita dengan mencari sebab mengapa dia melakukan perbuatan itu atau memikirkan akibat jangka panjangnya bila anak itu kita marahi. Juga dalam mengatasi kecemasan atau ketakutan dan kesedihan, kita bisa berpikir lebih positif dan melakukan kegiatan berolahraga misalnya.

Selain itu anak yang cerdas emosi sangat pandai menunjukkan empatinya kepada orang lain, inilah seni dalam mengelola emosi orang lain. Juga ketrampilan dalam mengorganisir satu kelompok, kemampuan untuk merundingkan pemecahan masalah atau dalam mencarikan solusi, atau dalam berhubungan antar pribadi, menganalisa serta memahami perasaan, motif, dan keprihatinan orang lain. Ketrampilan dalam mengelola emosi orang lain inilah yang mendukung seseorang untuk mencapai popularitas, kepemimpinan dan kesuksesan dalam kelompoknya.

Kecerdasan Emosi ini atau dalam bahasa Inggris ‘’Emotional Intelligence/EL‘‘ sering diukur sebagai ‘‘Emotional Intelligence Quotient /EQ‘‘ (Daniel Goldman) yang merupakan satu area baru dalam Ilmu Psikologi: ‘’EL is assessment of the construct requires attunement to social norms  and El constructs are Self Awareness, Self Management, Social Awareness and Relationship Management.’’

Goldman memasukkan satu set ‘’Emotional Competencies’’ dalam setiap ‘’Construct of EL’’ dan itu bukan merupakan talenta yang dibawa sejak lahir, melainkan semua kemampuan atau ketrampilan yang dapat dipelajari dan dikembangkan dalam mencapai target satu kinerja yang luar biasa. Menurut Goldman setiap individual terlahirkan dengan kecerdasan emosi pada umumnya yang menentukan potensi seseorang untuk mempelajari ‘’emotional competencies’’ tsb. Jadi dengan kata lain kecerdasan emosi dapat dilatih secara konsisten dan terus menerus, bukan diwariskan oleh orangtua atau bukan merupakan bakat bawaan.

 

Alat ukur untuk itu juga dikembangkan berdasarkan Model Goldman:

 

-Untuk mengukur kecerdasan emosi  dengan tujuan mencapai kinerja maksimal misalnya   dipakai yang namanya 'The Emotional Competency Inventory ' (EC) dibuat tahun 1999 dan kemudian  tahun 2007  dirancang yang namanya 'The Emotional and Social Competency Inventory (ESCI).

- Untuk mengukur kecerdasan emosi dalam pengenalan diri       sendiri  digunakan yang namanya ' The Emotional Intelligence Appraisal ' yang dibuat tahun 2001 sebagai laporan tentang penilaian diri sendiri.

Bila kita ingin menilai seberapa jauh kita atau anak kita cerdas emosi dalam arti mampu dalam mengendalikan emosi dengan sehat dan berimbang dapat dilakukan dengan mengadakan test yang  dikembangkan oleh Daniel Goldman tsb dan yang dapat dibeli di toko buku atau diakses melalui internet.

Setelah melakukan test ini , kita bisa tahu letak kelemahan dan kekuatan kita dalam setiap kategori emosi dan dengan itu mencapai kinerja maksimal. Selain itu kesadaran akan kemampuan emosi itu dapat mendorong kita untuk memperbaikinya dan kemudian menjalani hidup lebih bahagia dan dengan gaya hidup yang berimbang. (TK Bilingual Pestalozzi,10 Agustus 2008)

Last Updated ( Monday, 04 October 2010 )
 
< Prev   Next >

© 2012 Pestalozzi Indonesia

TBN - TIDYA Businesses Network