Who's Online

We have 4 guests online

Login Form






Lost Password?

Events Calendar

August 2010 September 2010 October 2010
Su Mo Tu We Th Fr Sa
Week 35 1 2 3 4
Week 36 5 6 7 8 9 10 11
Week 37 12 13 14 15 16 17 18
Week 38 19 20 21 22 23 24 25
Week 39 26 27 28 29 30

Latest Events

There are no upcoming events currently scheduled.
View Full Calendar
Home arrow News arrow Latest arrow Menerapkan Disiplin Pada Anak Tanpa Kekerasan
Menerapkan Disiplin Pada Anak Tanpa Kekerasan Print E-mail
Tuesday, 03 November 2009

Sudah tidak jamannya lagi  main fisik pada anak.

Dalam mengajarkan anak untuk berdisiplin janganlah terapkan kekerasan fisik maupun mental, melainkan harus dilaksanakan secara demokratis.Hal ini akan menjaga hubungan orang tua dengan anak tetap harmonis, dan anak akan menghormati orangtuanya dan menghargai keberadaan orang lain.Kekerasan fisik maupun mental pada anak akan mengakibatkan luka psikologis dan bisa membentuk pribadi anak kearah yang lebih negatif.

Di TK Pestalozzi , Cibubur sudah sejak lama kami menerapkan disiplin pada anak dengan mengaplikasikan ajaran Heinrich Pestalozzi, pencetus pengajaran usia dini dari Swiss yang menyarankan  kita sebagai orangtua dan pendidik  agar melakukan pendekatan demokratis saat mengenalkan disiplin pada anak. Menurut Pestalozzi  pendekatan demokratis dengan penuh cinta kasih akan  membentuk  pribadi anak yang  bertanggung jawab atas setiap hal yang diperbuatnya karena anak mempunyai hak yang sama di rumah dalam sistem kekeluargaan dan juga di sekolah. Baik orangtua/guru maupun anak itu sendiri harus bersedia mengadakan negosiasi dalam menerapkan aturan dan  menetapkan  sanksi untuk setiap pelanggaran.

Negosiasi yang dimaksud  disini adalah orang tua/guru dan anak sama-sama mendefinisikan apa yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan dan menetapkan konsekuensi apa saja bagi anak bila tidak melaksanankan aturan tsb dan berbuat sesuka hatinya, tanpa memikirkan kepentingan orang lain. Bantu anak dengan memberi gambaran bahwa sesuatu yang tidak boleh dilakukan itu harus diterapkan karena hal itu bisa merugikan orang lain dan dirinya sendiri. Dari sinilah anak mengerti konsep menghargai keberadaan orang lain dan tidak memaksakan kehendaknya.

Setelah itu  kesepakatan harus dicapai tentang konsekuensi apa saja yang akan dilakukan orangtua/guru ketika anak melanggar komitmen bersama tsb.Dalam hal ini, orangtua/guru tidak lagi menerapkan sistem hukuman satu arah, melainkan dua arah, karena hal ini merupakan konsekuensi yang akan didapat anak dan telah disetujui oleh kedua belah pihak sebelumnya, bila anak tidak menjalankan disiplin tsb.

Adapun pilihan hukuman/ konsekuensi yang dapat ditawarkan bukanlah dalam bentuk kekerasan fisik maupun mental, melainkan cukup dengan  membatasi interaksinya pada hal-hal yang paling disukai anak atau tidak memberikan hadiah ynag diiinginkannya atau mengurangi jam menonton acara yang disukai di TV atau tidak membolehkan bermain komputer untuk dua hari misalnya, dll.. Dengan demikian anak semakin mengerti mengapa dirinya harus lebih peka dengan keberadaan orang lain dan tidak lagi melanggar yang sudah disepakati bersama.

Anak yang berdisiplin tinggi akan sangat disukai lingkungannya , menghormati orangtua dan gurunya serta tidak akan memaksakan kehendaknya pada orang lain.Jadi kenalkan disiplin pada anak sejak usia dini !!.(Dr.D.Pane/TK Pestalozzi, Cibubur)

 

Last Updated ( Wednesday, 04 November 2009 )
 
< Prev   Next >

© 2010 Pestalozzi Indonesia

TBN - TIDYA Businesses Network