|
Sudah tidak jamannya lagi main fisik pada anak.
Dalam mengajarkan anak untuk berdisiplin janganlah terapkan kekerasan fisik maupun mental, melainkan harus dilaksanakan secara demokratis.Hal ini akan menjaga hubungan orang tua dengan anak tetap harmonis, dan anak akan menghormati orangtuanya dan menghargai keberadaan orang lain.Kekerasan fisik maupun mental pada anak akan mengakibatkan luka psikologis dan bisa membentuk pribadi anak kearah yang lebih negatif. Di TK Pestalozzi , Cibubur sudah sejak lama kami menerapkan disiplin pada anak dengan mengaplikasikan ajaran Heinrich Pestalozzi, pencetus pengajaran usia dini dari Swiss yang menyarankan kita sebagai orangtua dan pendidik agar melakukan pendekatan demokratis saat mengenalkan disiplin pada anak. Menurut Pestalozzi pendekatan demokratis dengan penuh cinta kasih akan membentuk pribadi anak yang bertanggung jawab atas setiap hal yang diperbuatnya karena anak mempunyai hak yang sama di rumah dalam sistem kekeluargaan dan juga di sekolah. Baik orangtua/guru maupun anak itu sendiri harus bersedia mengadakan negosiasi dalam menerapkan aturan dan menetapkan sanksi untuk setiap pelanggaran.
Negosiasi yang dimaksud disini adalah orang tua/guru dan anak sama-sama mendefinisikan apa yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan dan menetapkan konsekuensi apa saja bagi anak bila tidak melaksanankan aturan tsb dan berbuat sesuka hatinya, tanpa memikirkan kepentingan orang lain. Bantu anak dengan memberi gambaran bahwa sesuatu yang tidak boleh dilakukan itu harus diterapkan karena hal itu bisa merugikan orang lain dan dirinya sendiri. Dari sinilah anak mengerti konsep menghargai keberadaan orang lain dan tidak memaksakan kehendaknya. Setelah itu kesepakatan harus dicapai tentang konsekuensi apa saja yang akan dilakukan orangtua/guru ketika anak melanggar komitmen bersama tsb.Dalam hal ini, orangtua/guru tidak lagi menerapkan sistem hukuman satu arah, melainkan dua arah, karena hal ini merupakan konsekuensi yang akan didapat anak dan telah disetujui oleh kedua belah pihak sebelumnya, bila anak tidak menjalankan disiplin tsb.
Adapun pilihan hukuman/ konsekuensi yang dapat ditawarkan bukanlah dalam bentuk kekerasan fisik maupun mental, melainkan cukup dengan membatasi interaksinya pada hal-hal yang paling disukai anak atau tidak memberikan hadiah ynag diiinginkannya atau mengurangi jam menonton acara yang disukai di TV atau tidak membolehkan bermain komputer untuk dua hari misalnya, dll.. Dengan demikian anak semakin mengerti mengapa dirinya harus lebih peka dengan keberadaan orang lain dan tidak lagi melanggar yang sudah disepakati bersama. Anak yang berdisiplin tinggi akan sangat disukai lingkungannya , menghormati orangtua dan gurunya serta tidak akan memaksakan kehendaknya pada orang lain.Jadi kenalkan disiplin pada anak sejak usia dini !!.(Dr.D.Pane/TK Pestalozzi, Cibubur)
|