|
Berikan alat tulis yang memadai untuknya. Alas untuk menulis dan alat tulis yang tak terlalu kecil/terlalu besar untuknya.
Bagi si prasekolah, memiliki keterampilan baru sangatlah menyenangkan, termasuk kemampuan menulis (dan membaca). Umumnya, kemampuan ini mulai dikuasai anak yang duduk di Taman Kanak-Kanak tingkat B, meskipun keterampilannya masih terbatas. Misal, baru mampu menulis namanya sendiri atau kalimat pendek yang terdiri atas 2-3 kata sederhana. Saking senangnya menulis, sering kali anak ingin melakukan kegiatan tulis-menulis ini di mana saja dan kapan saja. Jadi, jangan kaget bila Anda banyak menemui tulisan nama si kecil di mana-mana. Kadang di tembok, meja tempatnya bermain, atau bahkan di tas sekolahnya. Karuan saja hal ini membuat benda-benda tersebut jadi terlihat kotor karena penuh dengan coretan tulisan namanya. Tidak hanya itu, beberapa anak juga mulai senang menulis kalimat pendek yang terdiri atas beberapa kata sederhana. Keterampilan ini biasanya diikuti dengan keinginan membuat surat pendek untuk teman-temannya. Isinya jelas tidak panjang, hanya 1-2 kalimat pendek, atau bahkan di surat hanya ada tulisan namanya saja. Beberapa anak ada yang menambahkan gambar yang juga merupakan hasil karyanya. Si penerima surat biasanya adalah teman dekatnya, baik sesama atau lawan jenis. Yang terakhir, tak jarang membuat orangtua geleng-geleng kepala. Bagaimana bisa anak sekecil itu berperilaku layaknya remaja yang sedang jatuh cinta? Pokoknya salurkan Menyikapinya, tentulah bukan dengan kemarahan. Harus diingat, kegiatan menulis sangat bermanfaat melatih aneka kecerdasan dan wujud ekspresi diri. Bila terlalu sering dimarahi dan diberi peringatan agar tidak menulis atau mencorat-coret, bisa-bisa ia malah tidak mampu mengembangkan keterampilan menulisnya. Selain juga secara tak langsung dapat mempengaruhi rasa percaya dirinya. Dalam benak si prasekolah, mungkin tumbuh keyakinan, aktivitas menulis tidak baik atau ia menganggap tulisannya buruk sehingga orangtuanya marah. Akibatnya, anak tidak mau lagi mencoba menulis karena takut dimarahi oleh orangtuanya. Itulah mengapa, daripada memarahi, lebih baik orangtua menyalurkan keterampilannya yang baik ini. Yang perlu diarahkan adalah medianya, bahwa anak sebaiknya tidak menulis di tembok rumah yang sudah dicat rapi, melainkan di buku, kertas putih berukuran besar, dan lain sebagainya. Terapkan aturan, bahwa anak boleh menulis sesukanya di media-media tersebut, sekaligus melarangnya menulis di sembarang tempat. Katakan, tembok rumah yang kotor tidak sedap dipandang mata. Jadi, saat anak gemar menulis, berikan selembar kertas dan alat tulis yang memadai (tidak terlalu kecil atau besar) sehingga nyaman digunakan. Orangtua juga bisa mencoba mencari media lain seperti tanah atau pasir. Sambil mengembangkan keterampilan menulis, anak juga dapat mengembangkan imajinasinya. Karena, ketika menulis di pasir atau di tanah membutuhkan bentuk huruf yang lebih besar dan dapat dibuat lebih bervariasi. Itu juga bisa disiasati dengan menggunakan tepung yang tersedia di swalayan atau warung. Lebih menarik lagi bila mendapatkan tepung beraneka warna, seperti tepung ubi ungu, ubi kuning, ubi merah, atau tepung ketan hitam. Caranya, taburkan tepung di media yang datar dan rata. Atau, manfaatkan baki yang biasa digunakan membawa minuman untuk tamu. Tebarkan tepung di atasnya, kemudian minta anak menuliskan dengan jari telunjuk, nama dirinya atau kata-kata sederhana yang pendek-pendek. Warna-warni tepung dapat menimbulkan kesenangan tersendiri buat anak. Demikian juga dengan "surat cinta" pertamanya itu; orangtua tak perlu menduga yang tidak-tidak. Cara berpikirnya belum bisa menghubungkan terlalu jauh. Kesukaan anak usia ini pada lawan jenis masih sebatas teman. Boleh jadi temannya itu cukup baik dan menyenangkan, sehingga dia menganggapnya sebagai "pacar", padahal maksudnya adalah teman dekat atau teman baik. Berbeda dengan istilah pacar pada anak remaja. Meski begitu, orangtua harus mendorong anak untuk menulis surat tidak kepada teman dekatnya saja, tetapi juga kepada saudara atau teman-temannya yang lain. Ketika menulis surat, jangan paksa anak untuk menuliskan cerita panjang yang terdiri atas beberapa kalimat. Kemampuan membaca dan menulis di usia prasekolah memang masih terbatas. Anak baru mencapai tahapan menuliskan kata-kata sederhana dengan mengeja. Kecuali pada anak yang memang memiliki kelebihan di bidang bahasa; umumnya mereka akan mampu menuliskan suatu cerita pendek. Agar lebih cantik, warnai surat atau tempeli dengan stiker atau gambar. Jangan lupa, berikan penghargaan untuk karya yang telah dibuat. Baik itu coretan tulisan warna-warninya atau surat yang telah ditempeli gambar atau dihiasi lukisan. Penghargaan ini dapat menambah rasa percaya diri anak, sekaligus menumbuhkan motivasi untuk berkarya lagi. (Utami Sri Rahayu/Tabloid Nakita,21 Sept 2009)
|