|
Apakah Anda sudah pernah bertemu anak usia pra-sekolah antara 4-7 tahun yang wajahnya sangat tidak berdosa, manis, sopan seperti malaikat kecil, namun sebenarnya sangat manipulatif, mengecoh banyak orang dengan berbohong dan menceritakan hal-hal yang tidak benar untuk mendapatkan apa yang dia inginkan dan bisa bersikap sangat kasar???. Anak seperti ini ada di Taman Kanak-Kanak kami, dia anak perempuan yang manis, centil, pintar nyanyi dengan rambut diwarnai pirang seperti boneka Barbie, selalu bersikap sopan dan sampai ada kejadian-kejadian yang memperlihatkan wajah sebenarnya, pada saat pesta Ulang Tahun dan kemudian di depan Toko Roti dia tidak bisa mengendalikan emosinya dan tidak bisa mendapatkan yang dia kehendaki,karena harus mentaati kesepakatan bersama, maka dia akan berteriak, menjerit, berguling-guling, seolah-olah diperlakukan kasar oleh orang dewasa dalam hal ini Gurunya atau Baby Sitternya yang saat itu menemaninya, satu sikap prilaku negatif yang tidak pernah kita ketahui sebelumnya, sehingga kami semua di Taman Kanak-Kanak menjadi sangat terkejut dan terpukul. Ketika pulang ke rumah, anak ini menceritakan hal-hal yang terjadi di Sekolah menurut versi dan fantasinya, sehingga orangtua langsung memarahi Guru/Baby Sitter tsb tanpa menanyakan pihak sekolah terlebih dahulu. Sebenarnya, tanda-tandanya sudah ada, bahwa anak ini manipulatif, karena dia sudah sering mempengaruhi Gurunya,Guru lain dan saya untuk selalu membela dia, karena dia menceritakan kebohongan-kebohongan sampai ada satu kejadian yang membuktikan dia berbohong dan anak lain yang berkata benar dan dia harus minta maaf.Sejak saat itu, kami Guru2 sekarang lebih waspada dan tidak mudah terkecoh oleh trik-trik atau strategi yang dilakukannya untuk mendapatkan yang dia mau.Hal ini menyebabkan anak itu makin tidak terkendali dan memukuli teman-temannya di kelas. Oleh karena itu kedua orangtua anak itu dipanggil untuk datang ke Sekolah dan berkonsultasi dengan saya. Karena saya sebenarnya Pendidik, bukan Psikolog dan anak sudah tidak terkendali, maka saya menganjurkan orangtua ini untuk membawa anaknya ke Psikolog.Bukan hanya pola asuh yang salah atau belum cerdas emosi, namun saya menangkap adanya masalah psikologis yang lebih mendalam. Ayah ibu bekerja diluar rumah dan baru pulang ketika menjelang malam. Keluarga ini masih tinggal di rumah mertua dan adik2 ipar dari pihak istri. Kakek sangat dominan dan menentukan segalanya dan anak ini cucu kesayangannya, sehingga dia lebih mendengarkan kakeknya daripada orangtuanya sendiri.Ditambah lagi dua tahun lalu adiknya lahir dan anak ini tidak lagi jadi pusat perhatian.Menurut pengakuan orangtuanya, waktu adiknya masih bayi, dia pernah melukai adiknya tsb, karena cemburu..Makanya anak ini sempat dilarang untuk mendekati adiknya..Situasi yang sangat pelik memang. Nah ketika mereka sudah membuat janji dengan seorang psikolog kenalan saya, orangtua anak ini tidak muncul..Malah yang datang kakeknya beberapa hari kemudian dan langsung marah-marah dengan wali kelas. Saya ajak kakek itu berkonsultasi dan untunglah dia bisa mengerti dan mau bekerjasama..Tadinya, dia berniat mengeluarkan anak dari sekolah, namun bisa menerima alasan-alasan saya sehingga anak tetap dapat bersekolah. Mudah-mudahan anak bisa berubah dengan berprilaku lebih positif.Yang menjadi masalah sebenarnya juga orangtuanya, namun mereka tidak diperbolehkan berkonsultasi dengan psikolog...Kami di sekolah akan mencoba terus memantau dan memberi laporan melalui buku jurnal harian..Tidak mudah memang..
Kasus kedua terjadi pada anak laki2 berumur 4 tahun, juga sudah menunjukkan sifat2 manipulatif.Ibunya juga membenarkan dan menceritakan bahwa anaknya seringkali berbohong dan menceritakan hal2 yang tidak benar, misalnya dipukuli oleh si Ibu , sehingga suaminya sering memarahinya, karena dituduh melakukan tindak kekerasan yang tidak pernah dilakukannya. Anak ini juga sangat manis di sekolah, imut-imut dan sopan. Kebalikannya di rumah , dia melawan ibunya dan sering menjadi penyebab kedua orangtua bertengkar dan si Ibu kelihatan sangat tertekan. Kedua orangtua bekerja dan sangat disibukkan dengan pekerjaannya itu. Pasangan muda ini juga tinggal serumah dengan mertua dan adik-adik ipar dari pihak suami. Anak dibentuk untuk melawan ibunya, kasihan sekali. Dia sudah berkali-kali mengajak suaminya untuk pindah dari rumah orangtua yang besar dan menyewa rumah kecil saja, tapi suami karena anak tertua tidak diijinkan orangtuanya untuk keluar dari rumah. Ibu anak itu baru-baru ini melepaskan pekerjaannya, agar bisa berkonsentrasi pada pendidikan anak di rumah. Nah ketika saya anjurkan untuk konsultasi, hanya ibu yang datang dan ayah tidak mau menemani . Pada waktu saya memberikan kopian artikel-artikel tentang anak manipulatif, semakin si ibu menemukan banyak hal yang sama terdapat pada anaknya.. Nah beberapa minggu anak masih bersekolah, namun setelah itu anak tidak masuk kembali dan orangtua tidak bisa dihubungi lagi..Saya sering memikirkan anak tsb, bagaimana jadinya nanti bila anak itu besar, bila sikap prilakunya tidak dikoreksi sejak dini??...
Kasus-kasus tsb memotivasi saya untuk mencari tahu dan mengenali karakter anak yang manipulatif.Dengan membaca berbagai tulisan dan pengalaman selama ini, saya bisa menyimpulkan bahwa anak yang manipulatif tidak mudah untuk diidentifikasi dan susah untuk diperbaiki sikap prilakunya, bila orangtua keduanya bekerja dan terlalu sibuk serta menyerahkan pengasuhan sepenuhnya pada Kakek-Nenek atau Baby Sitter..Kenapa begitu?? Marilah kita simak tulisan saya dibawah ini. Pada anak yang manipulatif bila dia menginginkan sesuatu, strategi atau trik yang dipakai tidak terlihat jelas atau tersembunyi dengan memberikan pelukan-pelukan hangat, ciuman-ciuman, tangisan yang membangkitkan iba dan janji-janji yang seperti benar2 keluar dari lubuk hatinya, sehingga orang dewasa dalam hal ini Orangtua/Guru maupun Baby Sitternya sering terkecoh dan tidak tega, dan akhirnya memberikan apa yang dikehendaki anak dan melanggar aturan yang dibuatnya sendiri. -Bagaimana Orangtua bisa tahu bahwa Anaknya Manipulatif??? Tidak saja orang dewasa di sekitar anak ini terpengaruh, tapi Anda sendiri sebagai Orangtua/ Guru sering menjadi tidak konsisten terhadap kesepakatan yang disetujui bersama sebelumnya dan sering mengijinkan anak untuk melakukan yang dikehendakinya. Bahwa anak Anda bukan malaikat kecil dengan senyuman nya yang manis dan pelukan yang hangat, tetapi seorang anak yang “menyebalkan” dan mengganggu orang sekitarnya, ketika anak Anda mulai berteriak dan menjerit atau malah berguling-gulingan di depan sebuah toko mainan misalnya dan ditonton banyak orang, contoh lain juga dilakukan di Sekolah berdasarkan laporan dari Guru, bila dia menginginkan sesuatu. Pada kejadian lain , anak ini bisa berpura-pura sakit untuk mendapatkan perhatian ayah atau ibunya dan dibebaskan dari tugas membereskan kamar dan mainannya sendiri atau berbohong menceritakan hal-hal yang tidak benar untuk melempar tanggung jawab kepada orang lain, sering tidak mau mengakui kesalahan dan berprilaku sejenis untuk mendapatkan yang dia mau atau untuk menghindari tugas yang harus dia selesaikan, namun tidak dia sukai.. - Berikut ini adalah hal-hal yang harus kita INGAT: • Anak pada dasarnya terlahir TIDAK dengan prilaku manipulatif. • Mereka belajar trik-trik manipulatif TANPA SENGAJA, “TRIAL and ERROR” dan melalui OBSERVASI di lingkungan sekitarnya tempat mereka berinteraksi. • Anak akan selalu ingat, ketika dia menangis , seseorang pasti akan datang mendekati dan melayaninya. • Bila dia berpura-pura sakit, dia terbebas dari tugas membereskan kamar dan mainannya sendiri atau tugas lainnya. • Selanjutnya dengan BERBOHONG, dia tidak akan ditegur atau dimarahi dan mendapatkan simpati. Ketika perbuatan-perbuatan ini dilakukan berulang-ulang dan berhasil, maka kelakuan seperti ini akan menjadi satu kebiasaan. - Apa yng harus dilakukan Orangtua/Guru?? • Observasi anak dan perhatikan apakah pola prilaku seperti ini ada pada anak Anda? • Kenali KAPAN saja anak mencoba dengan prilaku manipulatif ini dan STRATEGI/TRIK apa yang digunakannya dalam kejadian tsb? • Bila sudah menemukan polanya, baru cari tahu KENAPA anak melakukan hal seperti itu. • Apakah dia melakukan itu untuk menghindari teguran/hukuman? • Apakah dia mengerjakan hal tsb untuk mendapatkan sesuatu yang dia mau? • Apakah dia melakukan hal ini terhadap orang-orang tertentu saja? • Apakah kelakuan ini hanya untuk menghindari tanggung jawab yang diberikan padanya? • Dalam hal ini JANGAN hanya fokus pada anak saja. Lihat juga lingkungan sekitar dan diri Anda sendiri dan pasangan Anda ataukah pengasuhnya yang memberi peluang kepada anak untuk bersikap manipulatif? • Apakah Anda juga selama ini tanpa sengaja memberikan contoh sikap prilaku manipulatif kepada anak Anda, karena Anda harus INGAT, bahwa anak belajar sangat cepat dari contoh-contoh sikap prilaku di rumah dan lingkungan sekitar. Tanpa sadar sebenarnya Anak mencontoh sikap prilaku orang dewasa di rumah dan di sekitarnya, dalam hal ini orangtuanya dan orang terdekatnya. - OBSERVASI secara objektif dan GALI INFORMASI sebanyak mungkin. Carilah informasi tentang KAPAN, KENAPA dan BAGAIMANA anak Anda menunjukkan sikap prilaku seperti itu. Bila Anda mempersiapkan diri dengan baik , Anda menolong anak Anda untuk menghilangkan kebiasaan yang jelek tsb. Pada satu situasi yang Anda tidak mengerti MENGAPA anak bersikap seperti itu, maka komunikasi dua arah harus dilakukan. Anda harus berdialog dengan anak untuk mencari tahu akar permasalahannya.Tangani dengan serius dan kerjasama yang baik antara orangtua dan Sekolah harus terjalin, agar prilaku seperti ini bisa terkoreksi.. - Ketika Anda mulai menguasai situasi, cobalah untuk selalu konsisten terhadap aturan yang Anda buat sendiri dan buatlah anak agar mengerti mengapa dia tidak selalu mendapatkan yang dia mau.JANGAN MEMBUAT KOMPROMI-KOMPROMI dengan mengijinkan anak mendapatkan keinginannya itu dengan berkata: Ok lah, kali ini saja”. Bila Anda melakukan ini, maka usaha Anda sebelumnya menjadi sia2 dan Anda harus memulai dari awal lagi.
- Mintalah DUKUNGAN ORANG-ORANG DEWASA di sekitarnya dengan bersikap sama, jangan sebaliknya.Anda harus memberitahukan Gurunya, pengasuhnya, supir antar jemputnya, nenek-kakek kedua belah pihak , saudara maupun teman-teman Anda yang berkunjung untuk melakukan hal yang sama. Terangkan dengan jujur, bahwa anak Anda sangat manipulatif, padahal sebenarnya dia bukan seorang malaikat kecil yang manis, malah sering “menyebalkan”, “memalukan” dengan menangis atau berteriak-teriak di depan umum, bila kemauannya tidak dituruti. - Bila Anda sedang mengajarkan anak untuk tidak bersikap manipulatif, selalu terangkan kepada anak KENAPA Anda melakukan hal tsb dan MENGAPA yang dilakukan anak salah serta merugikan orang lain, sehingga permintaannya tidak dikabulkan. Buat anak mengerti mengapa keputusan itu harus diambil. Libatkan orang dewasa di sekitarnya , tanpa terkecuali. - Bila anak berusaha selalu menghindar dari rasa tanggung jawab, buatkan daftar tugas anak dan anggauta keluarga yang lain. Kemudian cek bersama mana tugas yang sudah dkerjakan dengan baik dan mana yang belum..Daftar tugas ini dibuat secara musyawarah dengan semua anggauta keluarga. - Daftar ini kemudian digantung di tempat yang mudah terlihat seperti di tempel di pintu Kulkas atau di samping meja belajar. Yakinkan anak untuk melaksanakan tugas harian tsb dengan baik. Bila anak atau anggauta keluarga lain tidak menjalankan tugas dengan baik, maka ada sanksinya..Bagi anak hukumannya misalnya tidak boleh menonton program anak yang paling disukai di TV untuk beberapa hari (Jangan hukuman fisik!!!). - Memperbaiki sikap manipulatif anak memang tidaklah mudah dan tidak bisa INSTAN, memerlukan waktu. Anak Anda akan mengembangkan sikap prilaku positif dan bisa melupakan sikap manipulatifnya dalam jangka waktu lama. Dengan KESABARAN dan PENGERTIAN dari banyak pihak, Anda akan melihat hasilnya dan menjadi senang melihat anak TIDAK EGOIS lagi, TIDAK MEMAKSAKAN KEHENDAK,TIDAK TAKUT AKAN TANGGUNG-JAWAB, BERDISIPLIN TINGGI, BEREMPATI dan mempunyai RASA PERCAYA DIRI cukup tinggi. Dia tidak akan pernah berbohong atau berteriak-teriak/menjerit untuk mencapai keinginannya, sehingga dia bisa diterima dengan baik oleh lingkungan sekitarnya dan tidak dikucilkan dari pergaulan.
(TK Bilingual Pestalozzi, Cibubur 15 Agustus 2010)
|